‎Bertahun-Tahun Akses Jalan Kepulauan Banda Rusak Berat, Warga Harap Perhatian Pemerintah
January 30, 2026 03:52 PM

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi  Sirati Suailo 

‎MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Ruas jalan dan jembatan di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah rusak berat bertahun-tahun lamanya. 

‎Atas kerusakan itu, warga Kepulauan Banda meminta perbaikan jalan.

Pasalnya, sejak dikerjakan sejak 2019 lalu, setiap tahun selalu dilakukan perbaikan secara swadaya.

‎Luas wilayah Kecamatan Kepulauan ‎Banda adalah 107 Km⊃2; yang terdiri dari ‎10 desa, antara lain, Lonthoir (2,322 jiwa), Pulau Hatta (692 jiwa), Selamon (1,576 jiwa), Waer (1,452 jiwa), Uring Tutra (458 jiwa), Lautang (581 jiwa), Wailing Spancyby (1,283 jiwa), Boiyauw (906 jiwa), Dender (416 jiwa), dan Combir Kasestoren (770 jiwa).

Baca juga: Oknum Dosen ACP Bantah Tuduhan Punya Hubungan Asmara dengan Pengurus DPW Partai NasDem Maluku

Baca juga: SERUNI KMP, ESDM, dan Pertamina Hadirkan Sarana Air Bersih hingga Perbatasan Papua

‎Kondisi miris kerusakan jalan dikeluhkan warga Kepulauan Banda tepatnya di Negeri Administratif Lautang, Kecamatan Kepulauan Banda.

‎Jalan dengan lebar sekira 4 meter itu berlubang hampir sebadan jalan, menyisakan kubangan air.

‎Para warga akhirnya secara swadaya memperbaiki jalan yang meliputi Negeri Administratif Lautang, Negeri Administratif Uring Tutra, hingga Negeri Lonthoir. 

‎Jumat (30/1/2026), Kepala Negeri Administratif Lautang,  Ramli Astar (56) mengatakan, Kondisi jalan rusak berat dan diperbaiki setiap tahun.

‎Sayangnya penggunaan material semen dan pasir tak bisa bertahan lama dibanding penggunaan aspal. Terlebih saat musim gelombang, ombak menghantam jalan hingga badan jalan kembali rusak. 

‎Khususnya Banda Besar Kecamatan Kepulauan Banda, akses jalan yang dibangun Pemerintah Daerah kisaran tahun 2019 banyak yang sudah hancur.

‎Demikian dipaparkan Ramly Astar kepada TribunAmbon. Dengan rusaknya jalan dengan perkiraan panjang 7-8 kilo meter itu, ia bersama warganya mengambil langkah swadaya mengumpulkan material tuk perbaikan jalan.

‎"Kita ambil langkah dengan swadaya murni masyarakat kita datangi pedagang, kepala sekolah, di desa-desa untuk mendapatkan bahan dasar semen," ujarnya.

‎Usai material terkumpul, warga bahu membahu menambal sulam jalan dengan material seadanya. 

‎"Dari situ kita sama-sama kerja bakti dengan mengikuti sertakan beberapa desa untuk pekerja tambal sulam jalan yang rusak-rusak," tuturnya.

‎Kondisi itu ia akui sudah berlangsung empat tahun, dan setiap tahun selalu dilakukan perbaikan. "Tiap tahun kita kerja, dan tahun 2026 dikerjakan dua kali," imbuhnya.

‎Perbaikan jalan selalu dilakukan warga menjelang Bulan Suci Ramadan. Namun sebelum itu, dilakukan survey terlebih dulu. 

‎"Misalnya 30 titik jalan rusak, maka bisa menghabiskan semen sampai 80-90 bantal. Tenaga kerja itu masyarakat dari desa-desa. Tapi semen dengan aspal kurang menyatu, di Banda tidak ada penyedia aspal, itu rata-rata di Ambon," pungkas Ramly Astar. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.