TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Desideria Cempaka Wijaya M., S.Sos., M.A., Ph.D. memperoleh pendanaan Dana Indonesiana, Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan.
Kajian tersebut berjudul "Panduan Wisata Multisensorik Inklusif: Menuju Pariwisata Budaya yang Aksesibel di Tamansari".
Penelitian ini berangkat dari temuan bahwa banyak destinasi wisata di Yogyakarta belum menyediakan layanan informasi yang aksesibel bagi penyandang disabilitas.
Berbekal pengalamannya sebagai anggota tim peneliti dalam dua hibah internasional sebelumnya yakni dari Australia dan UK, Desideria melihat bahwa masih adanya kekurangan dalam penyediaan layanan inklusif di sektor pariwisata.
Hasil dari penelitian ini adalah travel guide yang harapannya dapat dimanfaatkan untuk penyandang disabilitas.
“Dalam proses itu saya memperhatikan banyak hal dan dari situ saya menangkap kayaknya masih ada kekurangan. Masih ada hal-hal yang bisa kita garap di sini, salah satunya ya multisensory travel guide kayak ini. Artinya belum ada di Jogja atau bahkan mungkin di Indonesia. Intinya bahwa dengan teknologi yang kita punya sekarang, harusnya ada information tourism guide untuk difabel,” jelas Desideria.
Baca juga: Tim Dosen UAJY Lolos Pendanaan Riset Nasional BRIN
Dalam pengembangan kajian ini, Ilmu Komunikasi memiliki peran strategis terutama dalam aspek storytelling, multimedia, dan produksi audio visual.
Penelitian ini melibatkan berbagai pihak yang saling mendukung, termasuk mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa akan dilibatkan secara aktif, khususnya dalam penggarapan konten audio visual sebagai bagian dari proses penelitian.
Pemilihan Taman Sari sebagai lokasi penelitian didasarkan pada pengalaman uji coba sebelumnya yang dilakukan melalui pelatihan bagi penyandang disabilitas sebagai pemandu wisata.
Hasil uji coba tersebut menunjukkan adanya berbagai tantangan, terutama karena kawasan wisata Taman Sari memiliki area yang luas serta terdiri dari banyak ruang dan kompleks bangunan.
“Di sini kita melihat bahwa sebenarnya kalau challenge di Taman Sari ini bisa kita selesaikan, kayaknya destinasi lain mungkin bisa diterapkan. Jadi justru kita coba selesaikan challenge yang paling berat dulu. Selain itu, kelebihan Taman Sari adalah dia punya banyak sekali artefak yang bisa kita terjemahkan di dalam travel guide tadi,” ungkap Desideria.
Proses penelitian ini masih memerlukan waktu yang panjang, termasuk pelaksanaan FGD dengan sejumlah pihak serta kerja sama dengan berbagai komunitas disabilitas untuk menghasilkan prototipe.
“Sekarang kita sedang mengupayakan proyeksi kira-kira gambar, media, atau platform apa yang cocok untuk memfasilitasi storytelling objek tersebut. Hasil akhirnya, misalnya, bisa berupa peta braille, atau representasi ikonisasi di Taman Sari yang posisinya tinggi di atas, sehingga bisa digambar dan diraba. Untuk penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, kita akan mencoba menyediakan satu tempat agar mereka bisa melihat versi 3D-nya, karena ruangannya berada di area yang harus naik. Ada beberapa ruangan yang memang harus diakses ke atas,” jelas Desideria.
Ke depan, penelitian ini akan terus dikembangkan melalui kolaborasi dan proses revisi yang komprehensif agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pariwisata budaya yang aksesibel. (*)