Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
Tribungayo.com, TAKENGON – Sudah lebih dari satu bulan, sejumlah murid sekolah di Kabupaten Aceh Tengah, terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di tenda darurat akibat dampak bencana hidrometeorologi yang merusak ruang kelas mereka.
Tenda darurat yang didirikan di lingkungan sekolah tersebut menjadi ruang belajar sementara bagi siswa kelas I dan II MIN 4 Aceh Tengah, setelah dua ruang kelas mengalami kerusakan akibat banjir dan retakan pada dinding bangunan.
Belajar di tenda dengan fasilitas terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak.
Tanpa meja dan kursi, siswa harus menulis sambil duduk di lantai, sehingga kerap mengeluhkan cepat lelah dan kesulitan menulis.
Baca juga: Aceh Akhiri Tanggap Darurat Bencana, Beralih ke Transisi Pemulihan, Mualem Tegaskan Hal Ini
"Kondisinya tidak senyaman di kelas. Untuk menulis agak terganggu karena tidak ada meja,” ujar salah seorang guru, Suci Rahmadani, kepada TribunGayo.com, Jumat (30/1/2026).
Selain itu, suhu panas di dalam tenda juga menjadi keluhan utama.
Pada pagi hari suasana masih terasa sejuk, namun menjelang siang tenda menjadi pengap dan panas, sehingga anak-anak sulit berkonsentrasi mengikuti pelajaran.
Namun jika tenda dibuka untuk mengurangi panas, fokus belajar justru terganggu akibat aktivitas warga yang lalu-lalang di sekitar sekolah.
Hal ini membuat guru harus bekerja lebih keras untuk menjaga perhatian siswa agar lebih fokus saat belajar.
Mengajar di tenda darurat juga membutuhkan pengawasan ekstra, mengingat siswa yang belajar masih berusia dini.
Pihak sekolah memilih menggunakan tenda demi faktor keamanan, guna mengantisipasi risiko apabila bangunan kelas yang rusak kembali digunakan.
Meski proses belajar tetap berjalan, pihak sekolah berharap ada tindak lanjut agar ruang kelas yang rusak dapat segera diperbaiki.
“Harapan kami anak-anak bisa kembali belajar di kelas seperti biasa, dengan kondisi yang aman dan nyaman,” kata Suci. (*)