Tangis Mama Eng Pecah, Saat Jenazah Hartono Pajama dari Kamboja Tiba di Manado
January 30, 2026 04:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID – Tangis haru menyelimuti kepulangan jenazah Hartono Pajama alias Opo, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sulawesi Utara, yang tiba di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, subuh tadi, setelah sebelumnya tertahan di Kamboja.

Kedatangan jenazah tersebut menjadi akhir penantian keluarga, khususnya Mama Eng, ibu kandung almarhum, yang sejak menerima kabar duka tak henti-hentinya memanjatkan doa agar anaknya bisa kembali ke tanah kelahiran.

Jenazah almarhum disambut pihak keluarga bersama pemerintah setempat di wilayah domisili keluarga.

Suasana haru tak terelakkan saat peti jenazah diturunkan dari pesawat.

Isak tangis keluarga pecah, bercampur rasa kelegaan karena almarhum akhirnya dapat dimakamkan secara layak.

Informasi tibanya jenazah tersebut disampaikan langsung oleh Mama Eng kepada Pengagas Komunitas Lingkungan Peduli TPPO Sulut, Antonius Sangkay melalui sambungan telepon pada subuh dini hari.

“Jenazah Opo sudah tiba pagi ini,” ujar Antonius.

Kata Antonius, Mama Eng dengan suara bergetar, seraya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan.

“Terima kasih banyak untuk semua yang sudah membantu dan mendoakan. Kami sekeluarga sangat bersyukur karena anak kami akhirnya bisa pulang ke tanah air,” tutur Mama Eng kepada saya.

Kata Antonius, saat ini jenazah telah dibawa ke rumah duka yang berada di Minut.

"Langsung dibawa ke rumah duka," ungkapnya.

Sebelumnya, pihak keluarga dengan pendampingan Komunitas Lingkungan Peduli TPPO Sulut melalui Program Gerakan 1.000 Jaringan Lawan TPPO telah melaporkan kasus ini secara resmi ke Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara.

Diketahui, Hartono Pajama berangkat ke luar negeri sekitar April 2025 melalui jalur nonprosedural.

Kasus ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya kehati-hatian masyarakat terhadap tawaran kerja ke luar negeri yang tidak melalui prosedur resmi.

Keluarga berharap peristiwa yang menimpa almarhum tidak terulang pada keluarga lain, serta mengajak masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan dan jalur resmi dalam bekerja ke luar negeri.

BP3MI Sulut Dapat Banyak Aduan Terkait Kamboja dan Myanmar

BP3MI tak henti mengimbau masyarakat senantiasa awas ketika menerima tawaran bekerja di luar negeri. 

Terutama, tawaran bekerja di negara-negara Asia Tenggara, yakni Kamboja, Myanmar, Laos, Thailand dan Filipina. 

Negara-negara tersebut, tidak memiliki perjanjian kerja sama penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Selain itu, negara-negara ini--Kamboja dan Myanmar--melegalkan pekerjaan online scammer dan judi online. 

Kata dia, pihaknya tak akan pernah berhenti mengimbau: jangan pernah ke Kamboja, Myanmar.

"Masih banyak peluang kerja legal di luar negeri. Informasinya bisa kami berikan," kata Kepala BP3MI Sulawesi Utara, Syachrul Afriyadi, Senin (8/9/2025). 

Ia mengapresiasi Aparat Penegak Hukum (APH), terutama Polda Sulut lewat Polsek Bandara Samrat Manado yang kembali mencegah keberangkatan 14 orang dari Sulut ke Kamboja dan Myanmar. 

"Pencegahan dan penanganan terkait pekerja migran ilegal ke Kamboja ini memang butuh kolaborasi," ujarnya lagi. 

Ia mengungkapkan, BP3MI tak henti menerima laporan terkait keberangkatan ke Kamboja dan Myanmar. 

Untuk itu dirinya mengimbau agar masyarakat berhenti percaya dengan rayuan pergi ke Kamboka dan Myanmar.

"Kami imbau stop. Tidak usah tambah-tambah urusan. Nyawa pekerja jadi jaminan ketika bekerja di perusahaan judi online dan online scammer," katanya lagi. 

"Siapa yang akan menjamin keselamatan jika memaksa bekerja ke negara negara tersebut," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.