TRIBUNFLORES.COM, RUTENG- Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai menyatakan hasil pemeriksaan awal terhadap otak anjing yang menggigit seorang bocah berusia 8 tahun di Kecamatan Cibal Barat menunjukkan hasil negatif rabies.
Meski demikian, sampel otak anjing tersebut tetap dikirim untuk pemeriksaan lanjutan guna memastikan status rabies secara menyeluruh.
Korban diketahui bernama Petrus Putra Joman, warga Kampung Gurung, Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat. Ia digigit seekor anjing pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 14.30 Wita.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai, drh. Yustina Hangung Lajar, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium awal terhadap kepala anjing menunjukkan tidak ditemukan indikasi rabies.
Baca juga: Bocah 8 Tahun di Golo Lanak Manggarai Alami Luka Serius Usai Diserang Anjing Diduga Rabies
“Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kepala anjing menunjukkan negatif rabies. Anjing yang menggigit korban merupakan anjing yang sedang beranak dan diduga menggigit karena diganggu,” ujar Yustina, Jumat (30/1/2026).
Menurut Yustina, meskipun hasil awal negatif, pihaknya tetap mengambil langkah kehati-hatian dengan mengirim otak anjing tersebut ke Balai Veteriner (BBVet) Denpasar, Bali, untuk pemeriksaan lanjutan.
Peristiwa gigitan terjadi di luar rumah korban. Anjing yang menggigit diketahui merupakan milik tetangga korban.
Dugaan sementara, anjing bereaksi agresif karena merasa terganggu saat sedang dalam kondisi melindungi anaknya.
Baca juga: Selidiki Dugaan Keracunan MBG Pelajar di Kuwus, Dinkes Manggarai Barat Uji Sampel Makanan
Sementara itu, penanganan medis terhadap korban telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.
Korban mendapat perawatan standar pascagigitan berupa pencucian luka dengan sabun di bawah air mengalir, pemberian cairan NACL, serta vaksin anti rabies (VAR) dosis H0.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam berinteraksi dengan hewan, khususnya anjing yang sedang beranak, serta segera melaporkan setiap kasus gigitan hewan kepada petugas kesehatan atau peternakan agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.