Lansia dan Cucu Tinggal di Gubuk Tak Layak di Kawasan Hutan Negeri Haria
January 30, 2026 07:52 PM

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Seorang lanjut usia (lansia) bersama cucunya terpaksa tinggal di hunian tak layak di dalam kawasan hutan, Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah.

Lansia tersebut bernama Fransina Tamaela (77), warga Negeri Haria, yang hidup dalam kondisi memprihatinkan bersama cucunya, Ipan Tamaela (10). Ipan merupakan anak yatim yang masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Dasar.

Baca juga: Putusan Sela Dihormati, Petrus Fatlolon Siap Bongkar Dugaan Pemerasan Jaksa di Sidang Pokok

Baca juga: ‎Bertahun-Tahun Akses Jalan Kepulauan Banda Rusak Berat, Warga Harap Perhatian Pemerintah

Keduanya diketahui menempati sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi. 

Hunian itu beratapkan daun rumbia, berdinding gaba-gaba, beralaskan tanah, tanpa penerangan, serta tidak memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). 

Kondisi bangunan juga rawan bocor dan tergenang air saat musim hujan.

Untuk kebutuhan air minum, Fransina dan cucunya masih bergantung pada bantuan warga sekitar. 

Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan hasil kebun seperti pisang, singkong, atau papeda (sagu), bahkan kerap kali tanpa lauk pauk. Pada kondisi tertentu, keduanya dilaporkan pernah tidak makan sama sekali.

Kondisi tersebut terungkap setelah dilakukan asesmen respon kasus oleh pendamping Rehabilitasi Sosial terhadap Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).

“Kami dari pendamping Rehabilitasi Sosial telah melakukan asesmen awal dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat, termasuk terkait status kepemilikan tanah yang ditempati PPKS,” ujar Pendamping Kementerian Sosial, Lusi Souhoka, Jumat (30/1/2026).

Informasi awal mengenai kondisi Fransina dan cucunya diketahui dari unggahan media sosial seorang guru Sekolah Dasar. 

Guru tersebut mendatangi rumah muridnya, Ipan Tamaela, setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Dari kunjungan itu, ia mendapati muridnya hidup bersama sang nenek dalam kondisi kemiskinan ekstrem.

“Hasil asesmen menunjukkan bahwa tempat tinggal yang dihuni Fransina dan cucunya tidak layak huni,” kata Lusi.

Selain persoalan hunian, hasil asesmen juga mencatat kondisi sosial ekonomi Fransina yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Faktor usia dan kondisi kesehatan, seperti asam lambung dan asam urat, membuatnya tidak lagi mampu bekerja mencari hasil kebun sebagaimana sebelumnya.

Berdasarkan asesmen tersebut, sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, di antaranya pembangunan rumah layak huni, pemenuhan bantuan kebutuhan pokok, penyediaan fasilitas MCK, serta dukungan perlengkapan sekolah bagi Ipan.

Pendamping Rehabilitasi Sosial kini terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait guna menindaklanjuti penanganan kasus tersebut agar Fransina dan cucunya dapat memperoleh kehidupan yang lebih layak.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.