TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Petahana Prof Dr Ir Akhmad Sodiq bakal bersaing dengan kedua koleganya dalam bursa pemilihan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto periode 2026-2030.
Senat Unsoed telah menetapkan tiga nama yang berhak maju ke tahapan berikutnya.
Hal ini diputuskan dalam rapat tertutup Senat yang digelar di Gedung Justitia Fakultas Hukum Unsoed, Kamis (29/1/2026).
Tiga calon rektor tersebut adalah Prof Dr Ir Akhmad Sodiq yang meraih 79 suara Senat, Prof Ali Rokhman mengantongi 36 suara, dan Dr Adi Indrayanto, mendapat 3 suara.
Sementara, langkah Dr Khavid Faozi harus terhenti di tahap penyaringan setelah hanya meraih dua suara.
Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof Dr Dwi Nugroho Wibowo mengatakan, proses penyaringan tiga besar calon rektor merupakan bagian penting dari mekanisme demokrasi kampus.
"Penyampaian visi dan misi menjadi ruang strategis bagi sivitas akademika untuk menilai secara objektif gagasan para bakal calon."
"Kami bersyukur, seluruh tahapan berjalan lancar dan demokratis," ujar Prof Bowo dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Unsoed Purwokerto Saring 4 Bakal Calon Rektor Lewat Adu Visi Misi dan Program Kerja
Dalam pemaparan visi-misi, keempat bakal calon mengusung semangat transformasi yang relatif seragam, yakni penguatan basis perdesaan sebagai identitas utama Unsoed.
Prof Akhmad Sodiq mengusung visi 'Unsoed Berdampak', dengan menempatkan universitas sebagai motor penggerak ekonomi baru melalui pengembangan sumber daya perdesaan.
Sementara Prof Ali Rokhman, membawa misi jangka panjang menuju 2034 dengan fokus pada pengakuan dunia internasional terhadap kearifan lokal yang menjadi ciri khas Unsoed.
Di sisi lain, Dr Adi Indrayanto menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang sehat dan profesional.
Sedangkan Dr Khavid Faozi, menyoroti isu inklusivitas pendidikan serta hilirisasi riset agar hasil penelitian kampus dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Setelah penetapan tiga besar calon rektor, hasil tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Tahap final pemilihan dijadwalkan berlangsung pada April 2026.
"Tiga nama calon rektor ini akan diusulkan ke Jakarta."
"Pada tahap akhir nanti, Menteri memiliki porsi suara 35 persen, sedangkan Senat memiliki 65 persen suara," tambah Prof Bowo.
Masyarakat akademik Unsoed berharap, siapa pun yang terpilih nanti mampu membawa kampus peninggalan Panglima Besar Jenderal Soedirman itu semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Salsabila Hasna Huwaida, alumni Unsoed yang juga Direktur advokasi dan Litbang Tribhata memberikan pandangannya terhadap dinamika pemilihan rektor Unsoed yang dinilainya sarat makna dan nilai historis.
Terlebih, Unsoed mengusung nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman yang merupakan simbol kepemimpinan yang membumi, berani, dan penuh pengabdian.
Menurut Salsa, hasil pemilihan tahap Senat Akademik Universitas telah menghadirkan fenomena penting yang patut dicatat dalam sejarah Unsoed.
"Ini bukan sekedar kontestasi angka."
"Ini adalah akumulasi nilai dan harapan yang terbaca oleh sivitas akademika," katanya.
Baca juga: Pemilihan Maret, Daftar 4 Kandidat Rektor Unsoed Periode 2026 - 2030
Salsa menilai, kampus Unsoed sedang mencari figur pemimpin yang tidak hanya kuat secara administratif tetapi juga memiliki legitimasi dan kedekatan sosial.
Dalam konteks Unsoed sebagai kampus masyarakat, Salsa menegaskan, kepemimpinan ke depan harus mampu membaur dan bersinergi dengan masyarakat, memahami denyut sosial Banyumas, serta menghadirkan kebermanfaatan nyata.
Rektor Unsoed, menurutnya, tidak cukup hanya memimpin dari ruang rapat tetapi harus hadir sebagai figur yang dirasakan oleh publik.
"Unsoed ini juga milik masyarakat maka wajar harapan publik juga besar."
"Rektornya harus bisa berbaur, mendengar, dan hadir ditengah masyarakat."
"Itulah ruh Unsoed sejak awal berdiri," katanya.
Kepemimpinan Soedirman bukan kepemimpinan yang berjarak, melainkan kepemimpinan yang tumbuh bersama rakyat, sederhana, dan tahan uji.
Nilai itulah yang seharusnya terus hidup dalam kepemimpinan Unsoed.
Sementara, dalam tahapan lanjutan, rektor terpilih akan ditentukan dari 123 suara yang terdiri dari 80 suara Senat (65 persen) dan 43 suara Menteri (35 persen).
Salsa berharap, seluruh pemangku kepentingan melihat proses ini secara jernih dan utuh.
Ia menekankan pentingnya memilih pemimpin yang mampu menjaga marwah akademik sekaligus memperkuat hubungan Unsoed dengan masyarakat.
Unsoed membutuhkan pemimpin yang berani membawa pembaruan, memiliki legitimasi moral. (*)