Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Kerusakan di ruas Jalan Lintas Bula–Airnanang, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kini bukan lagi sekadar persoalan jalan retak.
Kondisinya sudah mengarah pada ancaman putusnya badan jalan jika tidak segera ditangani secara serius.
Pantauan di lokasi, Jumat (30/1/2026), tepatnya di kawasan Teluk Waru, menunjukkan bagian tepi aspal terus tergerus.
Bahu jalan yang longsor membuat perbedaan tinggi antara badan jalan dan sisi luar semakin dalam.
Retakan memanjang terlihat jelas mengikuti garis pinggir aspal yang membuat struktur jalan mulai kehilangan daya dukung.
Yang mengkhawatirkan, kerusakan ini bukan baru terjadi.
Warga menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama namun belum ada penanganan permanen dari pihak berwenang.
Sementara setiap hari, kendaraan roda dua hingga mobil bermuatan melintasi jalur ini.
“Awalnya cuma retak kecil, sekarang sudah turun begini. Kalau dibiarkan, lama-lama badan jalannya ikut patah,” ujaran Bapak Mato (41) salah satu warga di lokasi.
Baca juga: Lansia dan Cucu Tinggal di Gubuk Tak Layak di Kawasan Hutan Negeri Haria
Baca juga: Putusan Sela Dihormati, Petrus Fatlolon Siap Bongkar Dugaan Pemerasan Jaksa di Sidang Pokok
Pihaknya menilai, jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin sebagian badan jalan akan ikut amblas, terutama saat curah hujan tinggi.
Air yang menggerus bahu jalan perlahan melemahkan fondasi aspal, mempercepat kerusakan struktural.
Pengendara kini dipaksa mengambil posisi lebih ke tengah jalan untuk menghindari sisi yang ambles.
Situasi ini meningkatkan risiko kecelakaan, terlebih di tikungan dan saat kendaraan berpapasan.
“Kalau motor masih bisa pelan-pelan, tapi kalau mobil papasan itu ngeri. Takut ban selip ke bagian yang berkerikil itu,” katanya.
Hal senada disampaikan Musafi (32) salah satu pengendara yang rutin melewati jalur tersebut.
Ia mengaku harus ekstra hati-hati karena muatan kendaraan bisa memengaruhi keseimbangan saat melintasi bagian jalan yang rusak.
“Kalau kami bawa barang berat, tidak berani ambil pinggir. Ini jalan utama, bukan jalan kebun. Harusnya cepat ditangani sebelum benar-benar putus,” sesalnya.
Diketahui, ruas jalan Bula–Airnanang sendiri merupakan jalur penting bagi mobilitas warga dan distribusi logistik dari wilayah pedalaman menuju Kota Bula.
Jika akses ini terganggu, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat, mulai dari kenaikan ongkos angkut hingga terhambatnya pelayanan dasar.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi teknis tidak menunggu kerusakan bertambah parah baru turun tangan.
Tanpa langkah cepat, jalan ini tinggal menunggu waktu menuju kerusakan total.(*)