Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Musim hujan di Indonesia bukan hanya identik dengan cuaca dingin dan genangan air, tapi juga peningkatan berbagai penyakit, terutama pada anak-anak.
Kondisi lingkungan yang lembap, sanitasi yang menurun, hingga perubahan perilaku saat hujan menjadi faktor utama lonjakan penyakit.
Baca juga: DBD Meningkat di Jakarta saat Musim Hujan, Kenali Gejala dan Tanda Bahayanya
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K).
Berikut lima penyakit yang paling sering muncul saat musim hujan dan perlu diwaspadai orang tua.
Influenza menjadi salah satu penyakit yang paling meningkat saat musim hujan.
Berbeda dengan batuk pilek biasa, influenza bisa menyebabkan demam tinggi, nyeri badan hebat, anak tampak sangat lemas, bahkan berujung komplikasi.
“Dikatakan influensa peningkatannya sampai 38 persen , bahkan di Indonesia minggu ke-40 2025 sampai 55 persen,” jelas Prof. Anggraini pada media briefing virtual, Jumat (30/1/2026).
Lingkungan dingin dan lembap membuat virus lebih stabil, ditambah kebiasaan berkumpul di ruangan tertutup yang mempercepat penularan antaranggota keluarga.
Penyakit diare meningkat tajam saat musim hujan akibat kontaminasi air dan menurunnya kualitas sanitasi.
"Diare di Indonesia dikatakan begitu musim hujan, lebih dari 4 kali lebih tinggi dibandingkan musim kemarau,"imbuhnya.
Bakteri seperti E. coli, Shigella, dan Salmonella mudah berkembang.
Pada anak, diare bisa cepat menyebabkan dehidrasi karena cadangan cairan tubuh mereka terbatas.
Musim hujan berarti banyak genangan air, dan itu menjadi tempat ideal nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari, waktu di mana anak-anak sering berada di rumah.
DBD bisa ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala, hingga risiko perdarahan dan syok.
Karena itu, musim hujan selalu menjadi periode rawan peningkatan kasus dengue.
Leptospirosis menjadi penyakit yang perlu diwaspadai terutama saat hujan lebat dan banjir.
Penyakit ini ditularkan melalui air yang terkontaminasi urine tikus dan masuk lewat luka kecil di kulit.
Indonesia menjadi lingkungan yang ideal bagi bakteri penyebab leptospirosis karena tingkat kelembapan yang tinggi.
Gejalanya bisa berupa demam tinggi, nyeri otot terutama di betis, hingga gangguan ginjal bila terlambat ditangani.
Penyakit virus yang sangat mudah menular seperti campak dan cacar air juga cenderung meningkat di musim hujan.
Penularannya terjadi melalui udara, dan satu anak bisa menularkan ke banyak anak lain, terutama saat mereka berada di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
Prof. Anggraini mengingatkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi membuat penyakit-penyakit ini masih mudah menyebar, khususnya pada anak-anak.
Musim hujan memang tak bisa dihindari. Namun, mengenali penyakit yang paling sering muncul dapat membantu orang tua lebih waspada terhadap gejala awal.
Deteksi dini, kebersihan lingkungan, serta perhatian ekstra pada anak, terutama balita, menjadi kunci agar musim hujan tidak berubah menjadi musim sakit berkepanjangan di rumah.