Opini: Jangan Suruh Anak Selalu Kuat
January 31, 2026 08:19 AM

Oleh: Yulius Maran 
Penulis Buku From Philosophy to the Classroom, dan Kepala SMA Regina Pacis Jakarta.

POS-KUPANG.COM - Di sebuah ruang kelas, seorang murid duduk tertunduk setelah menerima nilai ujian yang buruk. Matanya berkaca-kaca. 

Sang guru mendekat dan berkata dengan niat baik, “Jangan sedih, kamu harus kuat. Tetap berpikir positif.” 

Kalimat itu terdengar menenangkan.  Namun, tanpa disadari, di situlah sebuah pola pendidikan sedang bekerja: emosi negatif dianggap gangguan, bukan bahan belajar; kesedihan dianggap kelemahan, bukan pintu masuk menuju kedewasaan.

Budaya “harus selalu positif” perlahan meresap ke dalam dunia sekolah. Anak diajari untuk tersenyum, bangkit cepat, tidak larut, dan tidak mengeluh. 

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Sabtu 31 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Masih Rp 3 Jutaan

Gagal boleh, asal jangan terlalu lama merasakan kecewa. Menangis boleh asal segera berhenti. 

Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman untuk mengalami seluruh spektrum emosi manusia, berubah menjadi panggung performa ketangguhan semu.

Michael Chapman dalam Positive Thinking: 50 Positive Habits to Transform Your Life justru menegaskan bahwa berpikir positif bukanlah menolak emosi negatif, melainkan mengelolanya secara sadar melalui kebiasaan reflektif (Chapman, 2016). 

Ia menekankan pentingnya emotional awareness, dialog batin yang jujur, dan keberanian menghadapi kegagalan sebagai bagian dari pertumbuhan. 

Positivitas, dalam kerangka Chapman, lahir dari pemahaman diri, bukan dari penyangkalan diri.

Masalah muncul ketika pesan ini direduksi dalam praktik pendidikan menjadi slogan: “jangan sedih”, “jangan lemah”, “harus semangat terus”. 

Di sinilah toxic positivity masuk ke ruang kelas—optimisme yang dipaksakan, yang menuntut anak tampak kuat bahkan ketika batinnya rapuh.

Psikolog pendidikan modern Seymour Sarason mengkritik tajam budaya sekolah yang gagal memahami dunia subjektif murid. 

Menurut Sarason, sekolah sering mengalami institutional blindness, ketidakmampuan sistem untuk melihat pengalaman emosional peserta didik sebagai bagian esensial dari proses belajar (Sarason, 1996). 

Anak dinilai dari performa, bukan dari pergulatan batin. Ketika gagal, yang diperbaiki adalah strategi belajar, bukan luka harga diri.

Dalam kerangka Sarason, tuntutan “selalu kuat” adalah bentuk pengabaian struktural terhadap realitas psikologis anak. 

Sekolah sibuk mencetak ketahanan, tetapi lupa membangun kelekatan emosional yang aman. 

Murid diajari bertahan, tetapi tidak diajari memahami dirinya yang terluka.
Chapman (2016) menyebut bahwa kebiasaan positif justru bertumbuh ketika seseorang mampu mengakui pikiran negatif, mengolahnya, dan merekonstruksi makna. 

Tanpa pengakuan, tidak ada transformasi. Tanpa kejujuran emosional, yang lahir hanyalah topeng optimisme.

Carol Dweck melalui teori growth mindset menegaskan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang sehat. Namun, growth mindset bukan berarti meniadakan rasa kecewa. 

Justru dengan mengakui frustrasi, anak belajar bahwa kemampuan bertumbuh melalui usaha, refleksi, dan penerimaan akan keterbatasan (Dweck, 2006). 

Ketika sekolah hanya berkata “tetap positif”, anak kehilangan kesempatan untuk belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Lebih jauh, Brené Brown menunjukkan bahwa kerentanan (vulnerability) adalah syarat utama bagi keberanian, kreativitas, dan pembelajaran yang otentik. 

Menutup ruang bagi rasa malu, takut, dan sedih berarti menutup pintu bagi perkembangan kepribadian yang utuh (Brown, 2012). 

Anak yang selalu dipaksa kuat akan tumbuh mahir menyembunyikan luka, tetapi miskin kemampuan memahami dirinya.

Dalam perspektif Sarason, perubahan pendidikan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan budaya relasional di sekolah. 

Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi significant other yang memengaruhi cara anak memaknai diri. 

Ketika guru hanya menuntut ketangguhan, tanpa menyediakan ruang aman untuk rapuh, sekolah sedang mendidik generasi yang tampak tangguh di luar, tetapi rapuh di dalam.

Chapman (2016) mengingatkan bahwa kebiasaan positif bertumpu pada refleksi, bukan represi. Emosi negatif bukan musuh, melainkan data psikologis yang perlu dibaca. 

Dalam konteks pendidikan, ini berarti kegagalan bukan sekadar angka, tetapi pengalaman eksistensial yang membentuk identitas belajar anak.

Sayangnya, sistem evaluasi yang kompetitif sering memperkuat budaya “jangan lemah”. 

Nilai, peringkat, dan target membuat emosi dianggap hambatan efisiensi. Sekolah menjadi mesin performa, bukan ruang pemanusiaan. 

Seperti dikritik Sarason (1996), reformasi pendidikan sering gagal karena mengabaikan dimensi psikologis komunitas belajar.

Padahal, mendidik bukanlah mengeraskan, melainkan mematangkan. Bukan mematikan air mata, melainkan mengajarkan maknanya. 

Bukan memaksa senyum, melainkan menumbuhkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Anak yang belajar berkata, “Saya kecewa, tapi saya mau belajar dari sini,” sedang membangun ketangguhan yang otentik. Anak yang hanya diajari berkata, “Saya baik-baik saja,” sedang belajar menyangkal dirinya.

Di sinilah pesan Chapman, Sarason, dan para psikolog modern bertemu: berpikir positif bukanlah seni menutup luka, melainkan seni merawatnya agar menjadi sumber pertumbuhan. 

Sekolah yang sehat bukan sekolah yang bebas tangis, melainkan sekolah yang 
mengajarkan cara menangis dengan bermakna.

Maka, barangkali kita perlu berhenti berkata kepada anak-anak: “Jangan sedih, kamu harus kuat.”

Dan mulai berkata: “Aku lihat kamu terluka. Mari kita pahami bersama. Dari sini, kamu akan bertumbuh.”

Karena pendidikan sejati tidak membentuk manusia yang selalu tersenyum, melainkan manusia yang berani jujur pada rapuhnya dan setia bertumbuh dari sana. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.