AS Siap Serang Iran Akhir Pekan Ini? Pejabat Militer Bocorkan Rencana ke Sekutu Timur Tengah
January 31, 2026 09:47 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM - Pejabat tinggi militer Amerika Serikat telah memberi tahu pimpinan salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah bahwa Presiden Donald Trump berpotensi mengizinkan serangan militer ke Iran akhir pekan ini.

Hal itu dikonfirmasi sejumlah sumber kepada Drop Site News. Serangan disebut bisa dimulai secepat Minggu, jika Washington memutuskan untuk melanjutkan rencana tersebut.

“Ini bukan soal senjata nuklir atau program misil. Ini soal pergantian rezim,” ujar seorang mantan pejabat intelijen senior AS yang kini menjadi konsultan bagi sejumlah pemerintah Arab dan penasihat informal pemerintahan Trump dalam kebijakan Timur Tengah.

Baca juga: Presiden Rusia Putin Setuju Hentikan Serangan ke Kyiv Ukraina Selama Sepekan Usai Diminta Trump

Menurutnya, para perencana perang AS membayangkan serangan yang menargetkan fasilitas nuklir, balistik, dan militer Iran, sekaligus upaya memenggal kepemimpinan pemerintahan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

IRGC merupakan cabang militer Iran yang dibentuk pascarevolusi 1979 dan kini memegang peran besar dalam politik serta ekonomi negara tersebut.

Target Pergantian Rezim

Sumber tersebut menyebut pemikiran di internal pemerintahan Trump adalah bahwa serangan yang berhasil terhadap kepemimpinan Iran akan memicu rakyat turun ke jalan, sehingga berujung pada runtuhnya pemerintahan.

Netanyahu disebut “berharap serangan itu terjadi” dan meyakinkan Trump bahwa Israel dapat membantu membentuk pemerintahan baru di Iran yang bersahabat dengan Barat.

Dua pejabat intelijen senior Arab mengatakan kepada Drop Site bahwa mereka menerima informasi serangan AS bisa terjadi “dalam waktu dekat”.

Upaya Diplomasi Menit Terakhir

Pada Jumat, Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan para pemimpin Turki untuk mendorong solusi diplomatik.

Negara-negara kawasan juga berusaha membentuk jalur komunikasi belakang layar, termasuk kemungkinan pertemuan trilateral antara pemimpin Iran, AS, dan Turki, guna menggagalkan serangan yang diperkirakan akan terjadi.

Arab Saudi, pada Selasa, menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.

AS dan Iran Saling Kirim Peringatan

Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak berkomentar. Gedung Putih merujuk Drop Site pada pernyataan Trump di Ruang Oval, di mana ia mengatakan AS memiliki “armada besar yang sedang bergerak menuju Iran”, meski enggan mengonfirmasi apakah Iran telah diberi tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan.

“Jika Amerika melakukan salah perhitungan, perang ini tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan Trump, melakukan operasi cepat lalu dua jam kemudian menulis di Twitter bahwa semuanya selesai,” kata Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, juru bicara militer Iran.

Ia memperingatkan bahwa perang akan meluas ke seluruh kawasan, termasuk Israel dan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa jika AS menyerang, terutama jika menargetkan pembunuhan pimpinan negara, maka Iran akan membalas dengan serangan balasan besar-besaran terhadap pangkalan militer AS, infrastruktur minyak di kawasan, serta Israel.

Dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat pekan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan AS memiliki 30.000–40.000 tentara di pangkalan kawasan yang berpotensi berada dalam jangkauan drone dan misil balistik jarak pendek Iran.

Iran Siap Balas Lebih Keras

Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, Iran selama ini memilih menahan diri, bahkan kerap memberi sinyal terlebih dahulu sebelum melakukan serangan balasan guna menghindari eskalasi besar.

Namun, pejabat Iran menegaskan pola itu tidak akan diulang jika terjadi serangan baru. Profesor Universitas Teheran Dr. Foad Izadi menyebut kepemimpinan militer baru Iran menilai pendekatan lama gagal menahan agresi AS dan Israel.

“Angka yang saya dengar, targetnya adalah minimal 500 tentara Amerika,” kata Izadi. Ia menegaskan Iran akan merespons jauh lebih keras jika kembali diserang.

Iran Masih Buka Pintu Negosiasi

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam konferensi pers di Istanbul bersama Menlu Turki Hakan Fidan, menyatakan Iran siap melanjutkan pembicaraan nuklir dengan AS, namun bukan di bawah ancaman kekuatan militer.

Ia menegaskan kemampuan pertahanan dan misil Iran tidak akan pernah dinegosiasikan, seraya menambahkan bahwa Teheran siap menghadapi perang, tetapi juga terbuka untuk negosiasi yang adil dan setara.

 (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.