TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah kerasnya dinamika demokrasi tanah air saat ini, sejumlah aktivis harus merasakan dinginnya jeruji penjara seusai ditetapkan sebagai tersangka saat melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran pada Agustus 2025 silam.
Kondisi semacam itu tak menyurutkan sosok penulis bernama Ahmad Bahar untuk terus bersuara.
Kritik tajam terhadap institusi Polri disuarakan Bahar melalui diksi-diksi tajam dengan berdasarkan realita yang digali dari berbagai sumber.
Melalui buku berjudul Rapot Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Bahar mengulas beberapa hal yang memperlihatkan bagaimana aparat kepolisian mengambil langkah-langkah yang terkesan menutup demokrasi.
"Akibatnya, indek demokrasi turun, banyak kriminalisasi hukum, maraknya budaya setoran, no viral no justice dan lain-lain," katanya, saat pra launching buku terbarunya di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Jadi Tokoh Utama Rakernas PSI di Makassar, Jokowi : Saya Akan Bekerja Keras untuk PSI
Buku setebal 240 halaman itu disusun Ahmad Bahar dengan harapan menjadi sebuah pengingat Korps Bhayangkara untuk berbenah dan menjunjung tinggi integritas.
Selain itu, Bahar juga berharap karya sastranya ini membuka cakrawala berpikir tentang kondisi Polri saat ini.
"Mengkritik Polri bukan berarti benci tetapi justru cara seorang penulis peduli dengan korp baju coklat ini," terang dia.
Rencananya dia akan menggelar launching karya ke lima-nya itu pada Kamis, (5/2/2026) mendatang, pukul 15.00, bertempat di Galery Kopi Darmin, Jalan Duren Tiga, Pancoran Jakarta Selatan.
"Pas launching nanti akan dibedah bersama narasumber Komjen (purn) Oegroeno (mantan Wakapolri), Rismon, lalu Pak Mahfud MD tapi masih dalam konfirmasi," ujarnya. (hda)