TRIBUNNEWS.COM - Di era ketika jajanan viral bermunculan, mulai dari croffle, dessert box, hingga street food ala Korea, tidak mudah bagi camilan tradisional untuk tetap bertahan.
Banyak makanan populer hanya bertahan sebentar, kemudian hilang tergeser tren baru.
Namun di Solo, Jawa Tengah, sebuah usaha molen justru mampu terus eksis selama lebih dari satu dekade.
Bukan karena ikut-ikutan viral, melainkan karena memiliki ciri khas yang kuat yaitu bentuknya unik, rasanya konsisten, dan proses produksinya dijaga ketat.
Usaha tersebut adalah Crunchy Molen Kress, molen pisang dengan variasi bentuk yang berbeda-beda sesuai isiannya.
Ada yang bulat, segitiga, hingga bentuk molen klasik seperti biasa. Keunikan sederhana ini justru membuatnya tetap diingat di tengah persaingan jajanan modern.
Jika molen pada umumnya hanya dikenal sebagai pisang yang dibalut kulit tepung dan digoreng, Crunchy Molen hadir dengan pendekatan yang lebih kreatif.
Keunikannya bukan sekadar pada rasa, tetapi juga pada tampilan bentuknya:
Baca juga: Dari Gula Aren Hingga Minuman Herbal Bikin UMKM Lokal Cuan, Omzet Tembus Rp 1 Miliar
Bentuk-bentuk ini bukan hanya estetika, tetapi menjadi penanda rasa yang mudah dikenali pembeli.
“Kalau pelanggan lihat bentuknya saja sudah tahu, ini ketan hitam atau kacang ijo,” ujar Eka, karyawan outlet Crunchy Molen di Tipes, Solo.
Di tengah jajanan viral yang sering mengandalkan topping berlebihan, identitas sederhana seperti ini justru menjadi pembeda yang kuat.
Eka menjelaskan bahwa Crunchy Molen masih memiliki pasar tersendiri, terutama karena molen merupakan camilan yang akrab untuk semua usia.
Outlet tempatnya bekerja buka sejak pagi hingga pukul 21.00 WIB.
“Jam operasional dari sekitar jam enam pagi sampai jam 9 malam. Ramainya biasanya mulai jam dua siang sampai menjelang Maghrib, lalu ramai lagi malam,” kata Eka.
Meski kondisi ekonomi membuat penjualan tidak setinggi sebelum pandemi, bisnis Molen yang memiliki pabrik di Nolodutan, Makamhaji ini tetap bertahan karena pelanggan masih mencari camilan praktis yang rasanya familiar.
Varian yang paling laris saat ini menurut Eka adalah:
“Ketan hitam itu sering banget dipesan banyak, pernah sampai 120 pcs,” ungkap pria kelahiran 1980 itu.
Di balik molen yang terlihat sederhana, ternyata ada standar teknik yang harus dijaga.
Eka mencontohkan bahwa setiap varian memiliki perlakuan berbeda saat digoreng.
“Varian kacang hijau itu nggak bisa digoreng di minyak terlalu panas. Kalau panas banget, dia nggak bisa mengembang,” jelasnya.
Hal-hal kecil seperti ini menjadi bagian dari konsistensi kualitas, agar molen tetap renyah dan tampil menarik ketika dijual.
Ia juga sering mengingatkan operator baru agar mengikuti SOP kebersihan dan pelayanan.
“Kita sama-sama berusaha memajukan outlet. Harus rapi dan bersih,” ujarnya.
Bagi pelanggan seperti Dewi, Crunchy Molen bukan sekadar jajanan biasa. Perempuan 53 tahun asal Purbayan ini sudah mengenal produk tersebut sejak 2017.
Ia pertama kali tahu dari rekomendasi teman.
“Teman saya bilang molennya enak dan beda dari molen biasa. Katanya lebih renyah,” tutur Dewi.
Saat pertama mencoba, ia langsung merasakan perbedaannya.
“Kesan pertama itu renyah di luar, isinya padat, dan nggak bikin enek,” katanya.
Dewi juga menilai bahwa salah satu hal paling unik dari Crunchy Molen adalah bentuknya yang tidak seragam.
Menurutnya, varian ketan hitam dan kacang hijau terasa spesial karena jarang ditemukan di molen lain, apalagi dengan bentuk berbeda.
“Yang paling menonjol itu ketan hitam sama kacang ijo. Rasanya khas dan bentuknya juga beda,” ujarnya.
Varian pertama yang ia coba adalah ketan hitam, yang berbentuk segitiga.
“Lucu, jadi gampang diingat,” tambahnya.
Walaupun ketan hitam menjadi varian yang paling khas, Dewi mengaku favorit utamanya adalah keju.
“Keju itu padat dan terasa, nggak pelit isian,” katanya.
Ia menilai Crunchy Molen konsisten dari segi tekstur dan rasa.
“Harganya sesuai dengan kualitas. Isiannya penuh,” ujar Dewi.
Menurut Bu Dewi, Crunchy Molen punya keunggulan karena bisa dinikmati siapa saja.
“Ini cocok untuk anak-anak sampai orang dewasa,” katanya.
Ia pun tidak ragu merekomendasikan kepada orang lain karena kualitasnya stabil.
“Saya beli sesekali, kadang buat sendiri, kadang dibagi juga. Tapi pasti beli lagi karena enak,” ungkapnya.
Bu Dewi berharap Crunchy Molen bisa semakin berkembang dan membuka lebih banyak outlet.
“Biar lebih mudah dijangkau,” ujarnya.
Ia juga berharap ada inovasi rasa baru yang tetap mempertahankan cita rasa tradisional.
“Varian baru yang unik tapi jangan hilangkan rasa khasnya,” katanya.
(Tribunnews.com/Farra)