Waspada PMK, 41 Ribu Dosis Vaksin Ditambah di Kabupaten Kediri
January 31, 2026 06:14 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi perhatian bagi peternak sapi di Kabupaten Kediri pada awal 2026. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kediri per 30 Januari 2026, tercatat 156 kasus PMK pada sapi.

Dari jumlah tersebut, 59 ekor masih sakit, 6 ekor mati, dan 91 ekor telah sembuh setelah mendapat penanganan dari petugas kesehatan hewan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DKPP Kabupaten Kediri, Yuni Ismawati, menegaskan meski angka kesembuhan tinggi, kewaspadaan tetap diperlukan.

"PMK ini belum sepenuhnya hilang. Virusnya masih ada, sehingga kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama di wilayah dengan populasi sapi yang cukup tinggi," kata Yuni saat dikonfirmasi, Sabtu (31/1/2026).

Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Tarokan menjadi daerah dengan jumlah kasus PMK terbanyak. Hal ini tidak lepas dari kondisi Tarokan sebagai salah satu sentra peternakan sapi di Kabupaten Kediri.

Selain Tarokan, kasus PMK juga tercatat di beberapa kecamatan lain, di antaranya Ngancar, Grogol, Plemahan, Purwoasri, Ringinrejo, Kandat, Kayen Kidul, Pare dan Semen.

Baca juga: Vaksinasi PMK Serentak di Jatim, Ribuan Dokter Hewan Diterjunkan ke Lapangan

Yuni menjelaskan, tingginya populasi ternak serta padatnya lalu lintas sapi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran PMK di wilayah tertentu. Sapi potong diketahui memiliki mobilitas tinggi, mulai dari kandang, pasar hewan, hingga perpindahan antarwilayah.

"Mobilitas ternak sapi potong sangat tinggi. Jika biosekuriti tidak dijaga dengan baik, potensi penularan PMK bisa meningkat," jelasnya.

Selain kasus sapi sakit, DKPP juga mencatat adanya sapi yang mati akibat PMK. Dari total enam ekor sapi mati, lima ekor di antaranya dilakukan pemotongan paksa sebagai langkah pengendalian agar tidak menimbulkan penularan lebih luas.

Dalam upaya pengendalian PMK, DKPP Kabupaten Kediri terus melakukan berbagai langkah, antara lain vaksinasi PMK, pengobatan ternak yang sakit.

Selain itu juga penyemprotan disinfektan kandang, serta edukasi kepada peternak terkait penerapan kebersihan dan pembatasan lalu lintas ternak.

Baca juga: Awal Tahun 2026, Kasus PMK di Kabupaten Blitar Tembus 72 Kasus 

"Kami mengimbau peternak agar tidak menjual sapi yang sakit dan segera melapor kepada petugas apabila menemukan gejala PMK pada ternaknya," imbau Yuni.

Adapun gejala PMK yang perlu diwaspadai pada hewan ternak meliputi demam tinggi, air liur berlebihan, mulut dan bibir pecah-pecah, luka pada kuku atau kaki, serta kondisi sapi yang terlihat lemas dan malas makan.

Jika gejala tersebut muncul, peternak diminta segera melakukan isolasi mandiri.

Untuk memperkuat pengawasan, DKPP Kabupaten Kediri juga berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner (BBVET) serta pemerintah pusat melalui kegiatan surveilans, termasuk pengambilan sampel darah dari sapi sakit maupun sapi sehat di wilayah terdampak.

"Langkah ini dilakukan untuk memantau efektivitas vaksin sekaligus mengetahui pola penularan PMK di lapangan," ungkap Yuni.

Baca juga: Penyebab Ledakan Ketel Uap Pabrik Tahu di Malang yang Tewaskan Pekerja Masih Diselidiki

Meski demikian, Yuni mengakui masih ada tantangan berupa menurunnya kesadaran sebagian peternak terhadap vaksinasi PMK.

Menurutnya, kondisi kasus yang sempat menurun membuat sebagian peternak merasa aman, padahal virus PMK masih berpotensi muncul kembali saat daya tahan ternak menurun.

"Justru ketika situasi terlihat aman, kewaspadaan jangan dikendurkan. Vaksinasi tetap menjadi perlindungan utama bagi ternak," ungkapnya.

Sebagai upaya pencegahan, DKPP Kabupaten Kediri saat ini telah menyiapkan alokasi vaksin PMK sebanyak 41.500 dosis untuk melindungi populasi ternak sapi di wilayah setempat.

"Alokasi vaksin 41.500 dosis," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.