TRIBUNNEWS.COM - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) melakukan panggilan telepon kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Selasa (27/1/2026).
Dalam panggilan telepon itu, MBS memastikan kepada Iran Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk melakukan serangan militer apa pun terhadap Teheran.
Selama percakapan yang diprakarsai oleh Pezeshkian, Presiden Iran menjelaskan perkembangan terkini di negaranya serta perkembangan terbaru dalam pembicaraan mengenai isu nuklir.
"Sementara itu, Putra Mahkota menekankan dalam percakapan telepon tersebut posisi Kerajaan dalam menghormati kedaulatan Republik Islam Iran, dan bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya dalam tindakan militer apa pun terhadap Republik Islam Iran atau serangan apa pun dari pihak mana pun, terlepas dari tujuannya," menurut transkrip percakapan telepon tersebut, mengutip Al Arabiya.
Baru tiga minggu lalu, Arab Saudi juga memohon kepada AS untuk tidak membom Iran dan memperingatkan risiko perang regional, kata para pejabat AS.
Kini, Arab Saudi seperti berubah pikiran setelah adik Putra Mahkota, Pangeran Khalid bin Salman (KBS) melakukan perjalanan ke Amerika Serikat (AS).
KBS mengadakan pertemuan panjang di Gedung Putih pada Kamis (29/1/2026) dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Menurut sumber yang mengetahui pertemuan ini, fokus utamanya adalah pada kemungkinan serangan AS di Iran.
Dalam sebuah pengarahan tertutup di Washington pada Jumat (30/1/2026), pria yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi itu mengatakan bahwa jika Presiden Donald Trump tidak menindaklanjuti ancamannya terhadap Iran, rezim tersebut akan menjadi lebih kuat.
"Pada titik ini, jika hal ini tidak terjadi, itu hanya akan semakin memperkuat rezim," kata KBS, menurut laporan Axios.
Dua sumber mengatakan mereka memahami KBS mencerminkan pesan yang telah ia sampaikan di Gedung Putih.
Namun, ia juga mengatakan dirinya meninggalkan pertemuan itu tanpa gagasan yang jelas tentang strategi atau niat pemerintahan Trump terhadap Iran.
Baca juga: Iran-Rusia-China akan Latihan Militer di Selat Hormuz, AS Peringatkan IRGC Tentang Konsekuensi
Dalam pengarahan terpisah pada hari Jumat, seorang pejabat Teluk mengatakan bahwa kawasan itu "terjebak" dalam posisi di mana serangan AS terhadap Iran berisiko menimbulkan "konsekuensi buruk".
Tetapi, kata pejabat tersebut, jika tidak melakukannya, "Iran akan keluar dari situasi ini dengan lebih kuat".
Salah satu alasan perubahan sikap tersebut mungkin karena Arab Saudi telah menyimpulkan Trump telah memutuskan untuk menyerang, dan tidak ingin dianggap menentang langkah tersebut.
Di sisi lain, Trump berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Iran tanpa menggunakan kekuatan militer.
Trump meyakini Iran ingin membuat kesepakatan untuk mencegah konflik regional.
Dirinya juga mengklaim "armada" AS di dekat Iran lebih besar daripada gugus tugas yang dikerahkan untuk menggulingkan pemimpin Venezuela.
"Kita memiliki armada besar, atau apa pun sebutannya, yang sedang menuju Iran saat ini, bahkan lebih besar daripada yang kita miliki di Venezuela," kata Trump, Jumat (30/1/2026), mengutip The Guardian.
"Semoga kita bisa mencapai kesepakatan. Jika kita mencapai kesepakatan, itu bagus. Jika tidak, kita lihat saja apa yang akan terjadi," bebernya.
Komentar tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran siap bernegosiasi dengan AS.
Tetapi, Araghchi menyebut pembicaraan itu bisa terjadi hanya jika tidak dilakukan di bawah tekanan dan tidak mencakup program rudal Iran.
Baca juga: Zelenskyy: Ketegangan AS-Iran Ancam Perundingan Rusia-Ukraina
Setelah pertemuan dengan para diplomat Turki, Araghchi mengatakan Iran "siap memulai negosiasi jika berlangsung atas dasar kesetaraan, kepentingan bersama, dan rasa saling menghormati".
Ia mengatakan tidak ada rencana segera untuk bertemu dengan pejabat AS.
"Saya ingin menyatakan dengan tegas bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi," ucap Araghchi.
"Republik Islam Iran, sebagaimana ia siap untuk bernegosiasi, juga siap untuk berperang," tegasnya.
Trump mengatakan pada hari Kamis ia berharap untuk menghindari aksi militer, bahkan ketika AS mengerahkan kapal perang lain ke Timur Tengah, bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak rudal berpemandu.
Berbicara pada pemutaran perdana film dokumenter Melania, Presiden AS mengatakan kepada wartawan Iran harus melakukan "dua hal" untuk menghindari aksi militer.
"Pertama, tidak ada senjata nuklir. Dan kedua, hentikan pembunuhan terhadap para demonstran," katanya.
"Kita memiliki banyak sekali kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang berlayar ke Iran saat ini, dan akan lebih baik jika kita tidak perlu menggunakannya," tutup Trump.
(Tribunnews.com/Whiesa)