TRIBUNJATIM.COM - Seorang istri bos sate kambing bernama Daryanti (34), warga Desa Pengkol, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah dicekik perampok pada Kamis (29/1/2026).
Peristiwa perampokan hingga berujung pembunuhan di rumah bos sate, Purwanto ini menjadi sorotan publik.
Belakangan perampok diketahui merupakan tetangga bos sate sendiri, Agus (30).
Agus ditangkap pada Jumat (30/1/2026) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Dalam insiden tersebut, putri Daryanti dan Purwanto yang berinisial AO (6) tewas.
Sedangkan Daryanti mengalami luka serius dan dirawat di rumah sakit.
Saat kejadian, Purwanto berada di Singkawang, Kalimantan Barat. Selama ini, ia dikenal menjalankan bisnis kuliner sate kambing.
Diduga motif pelaku melancarkan aksi kejinya karena ditagih utang oleh korban.
Baca juga: Demi Hidupi Pacar Jandanya, Dian Nekat Rampok Pasutri Penghuni Ruko, Sempat Minta Kerjaan
Peristiwa perampokan sadis di rumah bos sate kambing itu ternyata diawali dengan perbincangan antara pelaku dan Daryanti.
Hal itu berdasarkan video berisi pengakuan Agus kepada polisi, dikutip Tribunnews dari Kompas.com.
Dalam video yang beredar di media sosial itu, Agus mengaku sempat berbincang dengan korban.
Agus mengaku masuk rumah begitu saja lantaran pintu pagar tidak dikunci.
Ia kemudian memanggil Daryanti. Korban pun keluar.
Agus kemudian menanyakan nomor rekening kepada korban.
Setelah diberikan, Agus mengaku sempat mencatat nomor itu. Namun, beberapa detik setelahnya, Agus mencekik leher Daryanti.
Saat itu, Daryanti sempat memohon kepada Agus agar melepaskan tangannya dari leher korban.
Daryanti juga akan menganggap utang Agus lunas.
Namun, Agus justru melukai leher Daryanti menggunakan cutter.
"Gus, apa ini? Sudah, utangmu anggap lunas saja," kata Agus, menirukan ucapan Daryanti.
Baca juga: Cara Kasar Pegawai PT Pos Indonesia Rampok Uang BLT Rp 600 Juta, Atasan Dianiaya Imbas Kepepet Judol
Sementara itu, keluarga mengonfirmasi Agus sempat ditagih untuk membayar utang oleh Daryanti.
Penagihan utang dilakukan Daryanti sekira 5 atau 6 hari sebelum peristiwa tragis itu terjadi.
Penagihan tersebut diduga yang memicu kemarahan Agus.
"Setahu saya kalau ga salah 5-6 hari lalu itu si Daryanti (korban) minta (menagih utang) sama AG. Karena belum ada AG marah dan seterusnya, berujung penganiayaan," kata satu di antara keluarga korban, Wahyudi (60), dilansir TribunSolo.com.
Wahyudi menegaskan, antara Agus dengan korban tidak ada hubungan keluarga, keduanya saling mengenal karena bertetangga.
Bahkan, Wahyudi menyebut, hubungan antara korban dan pelaku terjalin cukup baik.
"Bahkan istrinya terduga pelaku ini sering main ke sini (rumah korban)," ungkapnya.
Adapun peristiwa perampokan itu pertama kali diketahui warga sekira pukul 15.30 WIB.
Paman korban, Ngatirin mengatakan, ia mendatangi rumah korban setelah mendapat kabar dari Purwanto yang berada di Kalimantan Barat.
Ngatirin menjelaskan, kabar awal diterima oleh istrinya yang dihubungi langsung oleh Purwanto.
Dalam percakapan tersebut, Purwanto meminta agar keluarga segera mendatangi rumah istrinya karena kondisi darurat.
"Istri itu (istrinya Ngatirin) dibel (ditelepon) sama suaminya korban (Purwanto). Saya disuruh ke rumahnya sini, pokoknya gawat. Saya langsung ke sana" kata Ngatirin saat ditemui TribunSolo.com di rumah korban, Kamis (29/1/2026).
Setibanya di rumah korban, Ngatirin mendapati Daryanti (34), dalam kondisi terluka.
Dalam kondisi terluka di bagian leher, Daryanti sempat meminta tolong agar anaknya diselamatkan.
"AO (anak korban) neng kamar mandi, AO neng kamar mandi (AO di kamar mandi) gitu," kata Ngatirin menirukan ucapan Daryanti.
Baca juga: Sosok Herman Rampok Kasir Minimarket Rp 23 Juta untuk Foya-foya, Warga Malah Memuji Wajahnya
Ngatirin pun langsung berlari menuju kamar mandi.
Di sana, ia menemukan keponakannya, AO (6), dalam kondisi mengenaskan.
Ngatirin lantas mengangkat tubuh bocah itu dengan harapan air yang ada di dalam tubuh korban bisa keluar. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil.
"Namun begitu diletakkan di lantai, sudah nggak bernyawa," ungkap Ngatirin dengan suara terbata.
Setelah mengetahui keponakannya tidak bernyawa, Ngatirin kembali memberikan pertolongan kepada Daryanti yang kondisinya makin melemah.
"Saya langsung nulungi ibune genti (saya langsung menolong ibunya)," tutup Ngatirin.