Wabah Kusta dan Cerita Para Perindu Pulang ke Muara Jambi di Balik Topeng Labu
February 01, 2026 10:48 PM

Ada yang berbeda ketika masuk ke dalam Rumah Manapo.

Topeng labu menyambut, didandani mirip seperti manusia.

Ada yang mengenakan baju kurung, ada yang mengenakan sarung dan baju koko, ada pula yang didudukkan di sebuah bilik.

Topeng Labu Muara Jambi berakar dari kisah rakyat tentang penderita kusta yang menyamar memakai labu untuk kembali ke desa saat Idulfitri
Topeng Labu Muara Jambi berakar dari kisah rakyat tentang penderita kusta yang menyamar memakai labu untuk kembali ke desa saat Idulfitri (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Rumah Manapo yang terletak di Desa Muara Jambi kini difungsikan sebagai ruang pamer Topeng Labu Muara Jambi dengan beragam karya visual.

Galeri sederhana ini dikelola oleh Mukhtamar Hadi atau yang akrab disapa Borju, seorang pegiat kebudayaan Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi.

Bermacam bentuk topeng dipemerkan di sana. Raut-raut wajah itu dibuat dengan berbagai ekspresi; tersenyum, menampakkan gigi, menganga, menjulurkan lidah, hingga termenung.

Topeng Labu, bagi masyarakat Desa Muara Jambi, bukan tanpa asal-muasal.

Borju mengisahkan, secara turun-temurun masyarakat desa meyakini Topeng Labu berawal dari cerita rakyat masa lalu.

Konon, kala itu wilayah Muara Jambi pernah dilanda wabah kusta. 

Pada masa itu, penderita kusta dianggap sebagai penyakit kutukan.

Mereka terpaksa diisolasi ke hutan--istilahnya: ngutang.

“Pada momen Hari Raya Idulfitri, para penderita kusta yang hidup berkomunal di hutan merasakan rindu untuk bertemu keluarga di desa,” kata Borju usai menunjukkan karya warga desa.

Agar bisa kembali ke kampung halaman tanpa dikenali, mereka menutup wajah dengan tempurung labu dan berjalan beriringan menyusuri desa.

Warga yang tidak mengetahui jati diri mereka justru terhibur dengan atraksi tersebut, lalu memberikan makanan dan minuman yang diletakkan di dalam keranjang.

“Dari situ muncul nilai kesetaraan, saling berbagi, dan hak hidup manusia sebagai makhluk yang setara,” ujarnya.

Borju menjelaskan, Topeng Labu Muara Jambi tidak memiliki tokoh khusus sebagaimana topeng tradisional di Jawa.

Namun, karakter yang dihadirkan terbagi dalam sejumlah ekspresi, seperti figur laki-laki, perempuan, sosok menyeramkan yang melambangkan kejahatan, hingga wajah ceria.

Ragam karakter itu kemudian diterjemahkan ke dalam karya lukisan Topeng Labu Muara Jambi.

Dalam beberapa hari terakhir, komunitas Rumah Manapo menggelar kegiatan bertajuk Anantara Topeng Labu Muara Jambi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses seleksi Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan dengan tema pemanfaatan ruang publik.

“Anantara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti panggung atau pertunjukan budaya,” jelas Borju.

Rangkaian acara meliputi pameran Topeng Labu, diskusi kebudayaan, lomba kostum Topeng Labu, pertunjukan seni, hingga lomba kuliner berbahan dasar labu.

Secara tradisional, Topeng Labu Muara Jambi biasa ditampilkan setiap perayaan Idulfitri, khususnya pada sore hari.

Kelompok-kelompok warga turun ke desa mengenakan topeng yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi ini terbuka untuk umum, meski mayoritas pelakunya adalah laki-laki.

Untuk menjaga keberlanjutan tradisi, komunitas Rumah Manapo memasukkan Topeng Labu sebagai materi pembelajaran dalam program Sekolah Alam Raya Muara Jambi.

Anak-anak diajak membuat topeng sekaligus dikenalkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Topeng Labu Muara Jambi.

 

(Tribunjambi.com/Rifani Halim)

 

Baca juga: Pemkab Muaro Jambi Panggil Seluruh Kepala SPPG setelah 145 Orang Diduga Keracunan MBG

Baca juga: Daftar 5 Pejabat Eselon II Pemkot Sungai Penuh Kena Nonjob karena Merger OPD

Baca juga: Tabel Angsuran KUR BSI 2026 Limit Kredit Syariah Rp500 Juta dan Tenor 4 Tahun

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.