Melihat 'Kampung Santri' di Jakarta, Menjaga Cahaya dan Merawat Spiritual
kumparanNEWS February 01, 2026 11:57 PM
Karpet merah itu membentang hampir menutup seluruh ruangan. Luas, lapang, dan tenang. Di bagian depan, sebuah meja kecil berdiri sederhana, yang menjadi tempat Al-Quran dan kitab-kitab kuning dibuka hampir setiap malam.
Tak ada mimbar tinggi, tak ada jarak antara pengajar dan murid. Ruangan ini seolah sengaja dibiarkan apa adanya, agar ilmu tumbuh tanpa sekat.
Di seberang ruangan, sebuah lemari menyimpan kitab-kitab milik para murid. Tepat di bawahnya, rebana-rebana tertata rapi, diam, namun menyimpan denyut tradisi. Di dinding, ayat-ayat suci ditempel sebagai hiasan sekaligus pengingat bahwa tempat ini bukan sekadar ruang belajar, ia adalah ruang merawat kesalehan spiritual.
Seorang pria muda menyambut dengan hangat. Wajahnya tenang, tutur katanya bersahaja, Muassis Majelis, Abdullah Kafabihi (29) menjelaskan nama majelis yang dibangunnya.
"Nama majelisnya itu Nurul Majalis," kata pria yang akrab disapa Kafa itu.
Perbesar
Majelis Nurul Majalis di Kampung Santri, Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Foto: Dok. Pribadi
Kafa menjelaskan, nama majelis itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia membawa sanad keilmuan hingga ke Hadhramaut, Yaman.
"Oh kalau misalkan dari nama Nurul Majalis itu kita dapat nama dari Syeikh Ali bin Abubakar bin Salim di Hadhramaut, Yaman gitu. Waktu itu kita mengadakan pertama kali majelis di bulan puasa kemudian sekaligus pembukaan majelis itu langsung live dari Tarim gitu," ujarnya.
Bagi Kafa, majelis ini bukan kerja seorang diri. Ia tumbuh sebagai ruang keluarga yang diartikan secara harfiah maupun maknawi.
"Itu beliau [Syeikh Ali bin Abubakar bin Salim] itu guru di Tarim Hadhramaut, guru saya dan juga guru adik saya. Karena yang mengajar di Majelis Nurul Majalis itu bukan hanya saya pribadi gitu, tetapi adik juga sama mengajar di sana. Dan kebetulan adik yang paling bontot itu lagi menempuh pendidikan di Tarim Hadhramaut," terang dia.
Majelis ini diisi sekitar 60 jemaah dari anak SD hingga mereka yang telah bekerja. Kafa menyebut, mayoritas jemaahnya adalah anak muda, wajah-wajah yang di tempat lain mungkin lebih sering terlihat nongkrong di pinggir jalan, di sini memilih duduk bersila dan mengkaji Islam.
"Jemaahnya kalau misalkan saya lihat itu kan kurang lebih ada 60-an gitu. 60-an dan itu diisi dari mulai anak SD sampai mereka yang sudah bekerja, rata-rata sih anak-anak kecil dan anak muda sih," kata Kafa.
Perbesar
Majelis Nurul Majalis di Kampung Santri, Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Foto: Dok. Pribadi
Nurul Majalis tidak lahir secara instan. Kafa menceritakan perjuangannya memupuk majelis itu, ia tumbuh dari langkah-langkah kecil, dari rumah ke rumah, dari obrolan kopi menuju ayat suci.
"Saya datang ke rumah-rumah mereka gitu kan, mereka punya yang namanya perkumpulan-perkumpulan yang biasa tiap malam itu pada ngerokok pada ngopi gitu kan. Kebetulan saya alumni pondok pesantren di Kudus gitu di Yanbu’ul Qur’an dan mereka mulai mulai ngaji sama saya itu dari Al-Quran gitu," cerita Kafa.
Perjuangannya tidak mudah, ia mengenang di mana pada saat pertama mendirikan majelis itu hanya ada 5 murid yang ingin belajar. Namun, seiring berjalannya waktu, jemaah kian bertambah.
"Nah, beriring berjalannya waktu 3 tahun kemudian alhamdulillah Allah berikan kesempatan di majelis itu membuka, awalnya sih datangnya cuma 5 orang gitu yang bener-bener rutin datang di situ," kenangnya.
Sebagai anak Betawi, Kafa merasa ada amanah yang tak tertulis. Ia lahir, tumbuh, dan besar di Jakarta dengan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Baginya, Betawi tak bisa dilepaskan dari ngaji.
Awalnya, pengajian difokuskan pada Al-Qur’an. Namun keresahan muncul ketika Kafa melihat kebutuhan lain di lapangan. Dari situlah kajian kitab kuning mulai diperkenalkan.
"Kitabnya itu Ta’lim Muta’alim terus juga fikihnya Fathul Qarib gitu, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an itu khusus buat ya setiap malam Jumat di akhir bulan," kata dia.
Perbesar
Majelis Nurul Majalis di Kampung Santri, Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Foto: Dok. Pribadi
Respons anak-anak muda, menurutnya, sangat positif. Kafa mengatakan bahwa sebenarnya banyak anak muda yang ingin belajar. Namun, mereka merasa sungkan jika berbaur dengan para orang tua.
"Mereka tuh sebenarnya pengin ngaji tapi karena ada rasa malu gitu untuk berbaur kepada masyarakat yang memang bukan seusianya sepantarannya gitu," ucapnya.
Pengajian digelar malam hari, mulai pukul 20.30 WIB. Waktu itu dipilih karena menyesuaikan ritme hidup anak-anak muda.
"Karena gini kalau misalkan pagi mereka semua kan sekolah gitu ada yang sekolah sebagian terus juga ada yang emang kerja gitu. Maka kita berikan mereka untuk istirahat sebentar, nanti setelah itu jam 08.30 baru hadir ke majelis untuk ngaji sama-sama bareng gitu," terang Kafa.
Metode pengajaran yang digunakan pun layaknya pesantren-pesantren salaf. Para murid memegang kitab dan memberikan arti bersama di kitab yang mereka pegang.
"Iya ikut maknain kitabnya," ujar dia.
Kitab-kitab itu dibeli dari iuran bersama. Tak ada pungutan lain, tak ada bisyarah, tak ada gaji pengajar. Majelis itu dibangun secara gratis.
"Enggak ada untuk bisyarah gak ada. Gratis semuanya," tegas Kafa.
Menjelang akhir perbincangan, Kafa menyampaikan pesannya, tentang zaman modern, tentang AI, dan tentang pentingnya guru bagi anak muda.
"Jangan sampai kita menanyakan permasalahan di bidang agama itu kepada AI itu salah apa enggak? Gak salah gitu tapi alangkah lebih baiknya ketika kita memiliki guru," ucap dia.
Kafa berharap para murid di majelisnya itu bukan hanya sekadar menjadi pembelajar, tetapi juga dapat membawa cahaya mereka di daerah lain.
"Diharapkan dengan adanya Nurul Majalis itu cahaya di antara para majelis-majelis gitu yang ada di Jakarta khususnya ini anak muda, bukan hanya menjadi apa pendengar dan murid tapi juga mereka juga sanggup menjadi seorang guru gitu yang menerangi," tandas dia.
Di ruangan sederhana berkarpet merah itu, cahaya dirawat pelan-pelan. Bukan dengan suara keras, bukan dengan panggung megah. Melainkan dengan duduk bersila dan mengaji bersama.