Kondisi Laut tak Wajar Sulitkan Pencarian Nelayan di Tanahlaut Diduga Hilang Saat Mencari Ikan
February 01, 2026 11:43 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kejanggalan gelombang laut saat pencarian seorang nelayan di RT 1 Dusun 1 Desa Kualatambangan, Kecamatan Takisung Tanahlaut diduga hilang saat mencari ikan.

Kondisi laut sempat menyulitkan upaya pencarian. Gelombang di perairan Takisung dilaporkan sempat cukup tinggi pada siang hari.

“Siang tadi gelombang laut sempat ribut,” kata  Sekretaris Desa Kualatambangan, Mulyadi
.
Kondisi di perairan laut saat ini masih belum sepenuhnya bersahabat meski mulai cenderung teduh. Bahkan seorang nelayan di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), dilaporkan tak kunjung pulang.

Baca juga: Empat Keracunan Massal di Baruh Tabing HSU, Korban Mual-mual hingga BPOM Turun Tangan

Baca juga: Dua Gol Barito Putera Saat Lawan PSS Sleman Dianulir, Begini Reaksi Mengejutkan Teco

Nelayan tersebut yaitu Bahrani, warga RT 1 Dusun 1 Desa Kualatambangan, Kecamatan Takisung. 

Penuturan kalangan nelayan setempat, Minggu (1/2/2026), lelaki berusia sekitar 50 tahun ini berangkat melaut pada Sabtu siang.

Bahrani melaut menaiki kapal kecil jenis Lumbung. Namun hingga malam tak kunjung pulang sehingga membuat keluarga khawatir. 

Sejumlah nelayan Kualatambangan pun bergerak cepat melakukan pencarian sejak Minggu pagi. Pencarian berlanjut dilakukan lagi pada sore. 

Upaya pencarian tersebut dilakukan secara swadaya menggunakan beberapa kapal nelayan setempat.

Sekretaris Desa Kualatambangan, Mulyadi, mengatakan begitu diketahui Bahran tak kunjung pulang, para nelayan setempat langsung berinisiatif melakukan pencarian di sekitar perairan pesisir.

“Pagi tadi sudah dilakukan pencarian oleh nelayan menggunakan beberapa kapal. Sore ini dilanjutkan lagi,” ujar Mulyadi saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kondisi laut sempat menyulitkan upaya pencarian. Gelombang di perairan Takisung dilaporkan sempat cukup tinggi pada siang hari.

“Siang tadi gelombang laut sempat ribut,” tambahnya.

Bahran dikenal sebagai nelayan yang rutin pulang ke darat menjelang malam usai melaut. Ketika kebiasaan itu berubah, keluarga dan sesama nelayan mulai khawatir terhadap keselamatannya.

Selain pencarian mandiri oleh nelayan, pihak desa juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada camat dan pihak terkait untuk mendapatkan dukungan pencarian lebih lanjut.

Terpisah, Kapolsek Takisung AKP Duki membenarkan adanya laporan nelayan yang belum kembali dari laut tersebut. 

Ia menyebut kekhawatiran keluarga muncul karena biasanya nelayan tersebut sudah kembali sebelum tengah hari.

“Biasanya sebelum tengah hari sudah datang, jadi keluarga khawatir,” ujarnya singkat.

Kebiasaan Nelayan dalam Memprediksi Cuaca Ketika Melaut

Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan atau secara aktif melakukan operasi penangkapan ikan di perairan.

Perhitungan yang tepat terkait kondisi iklim dan cuaca lokal sangat penting bagi nelayan karena berkaitan langsung dengan aktivitas melaut dan keselamatan.

Meski dengan kecanggihan teknologi yang telah berkembang, namun masih banyak nelayan tradisional yang memprediksi cuaca dengan faktor alam.

Dalam hal pembacaan iklim dan cuaca lokal, nelayan tradisional memiliki cara-cara tersendiri yang mereka dapatkan dari proses berinteraksi dengan alam sekitar.

Untuk melaut pada malam hari, umumnya nelayan melakukan pembacaan iklim melalui bulan. Namun, bagaimana nelayan mengetahui posisi dan arah di laut ketika pada siang hari?

Pada siang hari, indikator yang digunakan dalam membaca iklim dan cuaca lokal yaitu tanda-tanda alam yang ada di laut, seperti gelombang, arah angin, dan arus air.

Adapun tanda-tanda yang diperhatikan nelayan sebelum turun melaut di antaranya:

Faktor angin musim

Secara umum nelayan menggunakan indikasi pembentukan awan dari arah tertentu untuk memprediksi peluang terjadi angin kencang dari arah-arah tersebut.

Bentuk awan yang tebal berwarna abu-abu dan kehitaman, dan terlihat menggantung di atas laut seperti sebuah garis pada arah tertentu dipercaya nelayan sebagai tanda terjadinya cuaca buruk.

Tanda di daratan seperti daun pohon kelapa yang terkena tiupan angin ke arah tertentu juga diperhitungkan untuk memastikan arah datang angin yang bertiup.

Bila kejadian angin kencang terjadi saat nelayan berada di laut pada malam hari, beberapa tanda seperti bunyi gemuruh gelombang dari arah tertentu, dan gerakan gelombang yang dirasakan di atas perahu menjadi tanda akan terjadinya cuaca buruk.

Ada nelayan yang menggunakan jarinya yang diberi air liur terlebih dahulu untuk mendeteksi arah datang angin.

Faktor awan

Bagi para nelayan, keberadaan awan di langit juga dapat dijadikan pedoman atau petunjuk ketika akan melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut.

Nelayan tradisional menggunakan awan sebagai tanda untuk memprediksi cuaca di laut. Arah dan kecepatan pergerakan awan diamati nelayan untuk memprediksi arah datang dan kecepatan angin yang akan terjadi.

Nelayan juga dapat membedakan jenis awan yang hanya akan berubah menjadi hujan bukan badai angin yang dapat menimbulkan gelombang tinggi di laut.


Faktor ombak

Tanda-tanda alam di laut berupa ombak, sangat terkait dengan angin, arus, dan keberadaan karang di laut. Setiap daerah memiliki ciri ombak masing-masing yang dapat menjadi indikator prediksi cuaca.

Munculnya ombak dalam ukuran-ukuran tertentu juga sangat dipengaruhi oleh kencangnya angin yang berhembus

Jika angin kencang searah dengan arus, maka ombaknya agak lebih rendah dan panjang. Tetapi jika angin berlawanan dengan arus, maka ombaknya agak tinggi dan tidak panjang.


Pembacaan umur bulan

Pembacaan umur bulan merupakan pengetahuan yang sangat mendasar bagi nelayan baik di daratan utama maupun di pulau. 

Pembacaan umur bulan dilakukan karena posisi umur bulan sangat berpengaruh terhadap kondisi di laut dan waktu penangkapan ikan.

Selain itu, pembacaan umur bulan dan fenomena alam terkait dengannya dimanfaatkan nelayan untuk beberapa kepentingan seperti keputusan melakukan perjalanan laut termasuk berlayar.

(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.