TRIBUN-BALI.COM - Gubernur Bali, Wayan Koster membuka Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar, pada Minggu (1/2).
Pembukaan ditampilkan garapan berjudul Japatuan ka Suargan dari Sanggar Seni KOKAR Bali atau SMKN 3 Sukawati. Bulan Bahasa Bali ini digelar selama sebulan penuh hingga 28 Februari 2026 dengan berbagai kegiatan pementasan, lomba, workshop hingga konservasi lontar .
Gubernur Bali Wayan Koster mengajak krama Bali melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali yang merupakan salah satu budaya Bali. "Jangan sampai mematikan budaya. Kalau sampai budaya Bali mati, punah, nomor satu kita dosa sama leluhur, kena kutuk raga ajak mekejang (kena kutuk kita semua),” paparnya.
Koster menyebutkan, sependek pengetahuannya, hanya di Bali ada event terkait bahasa akasara dan sastea Bali lewat Bulan Bahasa Bali. Koster menyebut belum semua tertib dalan menggunakan aksara Bali baik di toko, hotel, restoran, kantor dan fasilitas umum.
Baca juga: KENTUNG Divonis 10 Tahun Penjara Akibat Jadi Kurir Narkoba, Sidang Putusan di PN Singaraja
Baca juga: MASIH Minim STT Mendaftar, Maka Pendaftaran Bantuan Pembuatan Ogoh-ogoh Diperpanjang di Klungkung
Ia pun mengatakan penggunaan aksara Bali ini harus jadi gerakan kolektif agar tampil di semua ruang. Karena menurutnya, negara-negara yang memiliki aksara sendiri menjadi negara maju seperti China, Jepang, hingga Thailand. “Kita diwariskan aksara Bali ini, bagaimana leluhur membuat ha na ca ra ka. Kita hanya menggunakan, kalau tidak tertib menggunakan kebangetan,” paparnya.
Ia pun berharap agar semua tempat menggunakan aksara Bali bahkan kalau bisa tanpa aksara latin. “Pergub Bali ini sudah toleran. Kalau ada di lingkungannya tidak gunakan aksara Bali, tegur dia Biar nggak sampai harus Pol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) yang turun. Harus jadi kesadaran kolektif,” imbuhnya.
Selain itu, Koster menugaskan Dinas Perindag Provinsi Bali untuk mengawasi penggunaan aksara Bali di kemasan produk. Ia meminta semua produk di Bali agar menggunakan aksara Bali. Jika tidak menggunakan, Koster meminta agar produk tersebut tak dipasarkan.
“Pak Kadis Perindag, semua produk di Bali, semuanya standarkan dia harus menggunakan aksara Bali. Kalau tidak pakai aksara Bali nggak usah dipasarkan, tutup dia,” kata Koster.
Koster mengaku kerap menegur hotel di Bali yang tak pakai aksara Bali. Namun menurutnya, sebagian besar hotel di Bali sudah tertib, khususnya untuk hotel bintang lima. “Yang nggak tertib itu kebanyakan seperti losmen,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia mengungkapkan, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini merupakan sarana menyebarluaskan Pergub Nomor 80 tahun 2018 tentang Bahasa Aksara dan Satra Bali serta Bulan Bahasa Bali.
Dalam pembukaan selain pertunjukan Japatuan Ka Suargan juga digelar festival nyurat aksara Bali dengan beberapa sarana seperti batu, tembaga, kain, baligrafi, kertas, rerajahan, hingga digital.
Selain itu, ada seminar membahas isi lontar yang berkaitan dengan membangun jiwa yang paripurna. Juga ada 17 jenis lomba, workshop berbicara bahasa Bali hingga baligrafi, pameran teknologi hingga industri kreatif berkaitan dengan bahasa aksara dan sastra Bali, apresiasi sastra hingga konservasi lontar.
“Tahun ini ada dua orang yang berjasa dalam perkembangan bahasa sastra dan aksara Bali yang diberikan penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama,” katanya.(sup)