Sriwijaya FC Terjun Bebas, Marwan Singa Mania: Kami Malu, Klub Legendaris Jadi Bulan-bulanan
February 02, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Keterpurukan Sriwijaya FC mencapai titik nadir. Klub kebanggaan Sumatera Selatan itu mencatat sejarah kelam setelah dibantai Adhyaksa FC Banten 15-0 pada laga pamungkas putaran kedua Pegadaian Championship 2025/26. Kekalahan memalukan tersebut memantik kemarahan dan keprihatinan mendalam dari para pendukung setia Laskar Wong Kito.

Mantan Ketua Harian Singa Mania, Muhammad Marwan, secara terbuka menyoroti kegagalan PT Digi Sport Asia selaku pemegang saham mayoritas dalam mengelola Sriwijaya FC selama dua musim terakhir. Menurutnya, kehancuran Sriwijaya FC bukan semata soal kualitas pemain, melainkan buah dari manajemen yang abai dan tidak hadir mendampingi tim.

“Ini efek ketidakbecusan PT Digi Sport Asia mengelola klub. Termasuk Pak Alex Rusli beserta jajarannya, Pak Anggoro, dan Manajer saat ini Pak Eko. Mereka tidak mendampingi tim, bagaimana tim Sriwijaya FC ini bisa berkembang?” ceplos Marwan kepada Sripoku.com.

Sriwijaya FC yang dulu disegani dengan segudang prestasi nasional, kini justru terjerembab sebagai juru kunci dan menjadi “lumbung gol” bagi tim-tim lain. Kondisi finansial klub pun memprihatinkan. Jersey nyaris tanpa sponsor, pemain inti hengkang satu per satu, hingga klub terpaksa merekrut pemain seadanya demi menuntaskan kewajiban bertanding.

Ironisnya, sejumlah pemain Sriwijaya FC disebut tidak menerima gaji, hanya diberi fasilitas makan dan mess. Situasi ini dinilai Muhammad Marwan sangat mencoreng marwah klub profesional.

“Walaupun pemain ala kadarnya, kalau latihan diurus dan ada kepedulian, pasti masih ada perlawanan. Kalah itu wajar, tapi jangan sampai Sriwijaya FC jadi bulan-bulanan, jadi ‘pelacur’ bagi klub lain,” ujarnya dengan nada sedih.

Muhammad Marwan juga menyesalkan absennya para petinggi manajemen saat Sriwijaya FC menjalani laga-laga penting, termasuk pada Derby Sumsel. Menurutnya, ketidakhadiran manajemen menjadi simbol nyata ketidakpedulian terhadap klub.

“Kalau memang tidak peduli atau tidak mampu mengurus Sriwijaya FC, lepaskan saja. Dijual. Untuk apa Pak Anggoro dan Pak Eko kalau tidak pernah mendampingi, bahkan di laga kandang?” tegasnya.

Ia menambahkan, narasi bahwa pemain “dibayar dengan makan dan mess” tidak bisa diterima.

“Ini klub profesional. Buang narasi itu. Kita tidak tahu arah klub ini mau ke mana. Manajemen juga tidak terbuka,” pungkas Marwan.

Kondisi Sriwijaya FC saat ini menjadi tamparan keras bagi sepak bola Sumatera Selatan. Klub legendaris yang pernah berjaya di pentas nasional kini berada di persimpangan: bangkit dengan perubahan total, atau terus tenggelam dalam krisis yang kian dalam.

"Sedih nian, sudah berdarah-darah masih ada juga yang nuduh. Saya bingung mau jawabnya. Takutnya fans terpancing. Kita semua udah berdarah-darah buat mempertahankan Sriwijaya FC. Kebanyakan dramanya. Serangannya ke kita gak berhenti-henti," ungkap Anggoro Prajesta kepada Sripoku.com.

Sejarah kelam tercipta dalam dunia sepak bola Indonesia. Sriwijaya FC resmi mencatatkan diri sebagai tim yang mengalami kekalahan terbesar dalam sejarah kompetisi resmi sepak bola nasional setelah dibantai Adhyaksa FC Banten dengan skor telak 15-0 di Banten International Stadium semalam.

"Soal tuduhan menjual pertandingan Sriwijaya FC, kita dengan kondisi sedang baik-baik saja di putaran pertama, kita tidak bisa menang. Kemudian dibandingkan dengan kondisi sekarang yang sangat terbatas, ya korelasinya jelas," kata Anggoro Prajesta. 

CEO PT Digi Sport Asia menjelaskan secara realistis dengan kondisi krisis finansial hingga saat ini, tim Sriwijaya FC dengan fasilitas seadanya, tanpa latihan, sangat sulit untuk bisa meraih kemenangan perdana di musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/26. 

"Mau gimana adanya yang begitu kondisinya. Pemainnya juga seadanya, dengan fasilitas seadanya. Tidak ada latihan. Tidak disupport oleh banyak hal. Bahkan dokter tim aja kita gak ada. Kita berharap apa? Berharap Sriwijaya FC menang secara realistis, beratlah," kata Anggoro. 

Terlepas dari isu menjual pertandingan, Anggoro Prajesta juga menyayangkan gawang Sriwijaya FC bisa kebobolan sampai 15 gol. Namun, ia yakin semua penggawa Laskar Wong Kito telah berjuang maksimal.

"Cuma saya menyayangkan juga sampai 15-0 kalah sedemikian besar. Cuma saya mesti bagaimana dengan pemain. Permain saya rasa sudah berjuang semaksimal mungkin. Bahkan ini pun ada beberapa pemain inti akhirnya kembali bergabung," katanya. 

Kedua pemain inti yang kembali bergabung Sriwijaya FC dimaksud yakni Fiwi Dwipan dan Nugroho Fatchu Rochman yang sebelumnya absen di 2 pertandingan. 

Sebaliknya kata Anggoro, begitu melawan Adhyaksa FC Banten yang memang sangat bagus pemainnya dan sangat siap  tentunya bukanlah lawan seimbang. 

"Kalau pemain bagus pun kalau gak latihan, bagaimana ya. Ini kan permainan tim," ujarnya. 

Soal tudingan Sriwijaya FC menjual pertandingan, Anggoro Prajesta menyatakan dirinya berani menjamin 1.000 persen jika itu tuduhan semata. Ia menegaskan dari manajemen tidak ada terima uang sepeserpun dari hal tersebut. 

"Sangat menyakitkan aja tuduhan itu, tanpa melihat kondisi yang ada. Kondisi begini mau berharap apa. Serba sulit semua hal. Pemain belum digaji, bahkan pemain baru pun yang memang pingin main doang dan kita tidak ada target. Mau gimana yang mesti kita lakukan," bebernya. 

Apalagi Sriwijaya FC dengan pelatihnya Budi Sudarsono yang dinilai memiliki integritas sangat disangsikan bakal merelakan Elang Andalas menjual pertandingan.

"Masak beliau mau main juga. Yang jelas itu tuduhan yang sangat menyakitkan dengan kondisi keadaan seperti ini. Kita sudah berkorban banyak hal. Masih dituduh juga. Saya tidak pernah menerima uang apapun dari hal itu. 

Ia menantang balik kepada pihak-pihak yang melayangkan tuduhan tersebut dipersilahkan melaporkan ke PSSI dan pihak terkait sehingga tidak mencemarkan nama Sriwijaya FC.

"Bahkan kalau memang ini, adukan aja ke PSSI, ke pihak-pihak terkait. Kalau bisa dibuktikan, misalkan. Mereka mau nuduh, pastinya ada bukti. Kalau nuduh doang, semua lidah gak bertulang. Jangan memfitnah dengan keadaan seperti ini. Saya gak terima apa-apa," ujarnya.

Di tengah keterpurukan finansial dan ancaman degradasi, Sriwijaya FC akhirnya mendapat secercah harapan. Direktur Olahraga PT SOM sekaligus CEO PT Digi Sport Asia, Anggoro Prajesta, mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan hadir sosok pengusaha asli Sumatera Selatan yang siap mengambil alih kepemilikan klub kebanggaan masyarakat Wong Kito.

"Yang akan mentake over Sriwijaya FC ini orang asli Sumsel. Bisa disebut Dewa Penyelamat SFC segera tiba," ungkap Anggoro Prajesta kepada Sripoku.com. 

CEO PT Digi Sport Asia Anggoro Prajesta mengatakan calon pemilik baru Sriwijaya FC ini nantinya bakal menjadi Presiden Klub Laskar Wong Kito yang baru kedepannya.

"Insya Allah akan diperkenalkan sebagai Presiden Klub Sriwijaya FC. Ya beliau akan menggantikan posisi Bapak Achmad Reza Widjaja, S.E," kata Anggoro yang kesehariannya berprofesi advokat.

Dengan bakal adanya pemilik yang baru, Anggoro Prajesta mengaku belum tahu apakah dirinya masih akan terlibat di Sriwijaya FC lagi untuk menyelesaikan sisa laga kompetisi Pegadaian Championship 2025/26 nantinya.

"Saya gak tahu dilibatkan lagi atau tidak. Kalau beliau masih minta saya, saya gak nolak. Tapi kan saya gal menyodorkan diri. Kalau ada yang lebih mampu, silahkan,: kata Anggoro Prajesta yang mengaku terlanjut jatuh cinta dengan Sriwijaya FC.

Meski belum bisa menjelaskan secara gamblang sosok misterius pengusaha asli wong Sumsel yang bakal mentake over Sriwijaya FC, namun Anggoro menyebut calon pemilik yang baru ini telah paham betul dengan Elang Andalas.

"Saya masih belum bisa menyebutkan siapa beliau. Yang pasti beliau ini tahu, paham betul dengan Sriwijaya FC," katanya.

Anggoro belum bisa memastikan ketika ditanya apakah kehadiran pemilik baru ini bepeluang bisa menyelamatkan Sriwijaya FC untuk tetap bertahan di kompetisi Pegadaian Championship musim depan, alias selamat dari degradasi.

"Kalau selamat dari degradasi gak tahu ya hitungannya. Kita lihat nanti beliau ini masuknya kapan. Mudah-mudahan bisa segera," pungkasnya.

Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan jika melihat sejarah Sriwijaya FC. Pada Liga 1 musim 2017, klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu pernah mencatatkan rekor sebagai salah satu pencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan, saat membantai Persegres Gresik United dengan skor 10-2.

Kala itu, Sriwijaya FC dikenal sebagai tim produktif dengan daya gedor tinggi. Namun sembilan tahun berselang, kondisi justru berbalik 180 derajat.

Dari tim yang pernah mencetak sejarah kemenangan besar, Sriwijaya FC kini menjadi bagian dari catatan kelam sepak bola Indonesia.

Sepanjang laga, Sriwijaya FC terlihat kesulitan menguasai bola, mudah kehilangan penguasaan, serta gagal membangun serangan berarti.

Pelatih Budi Sudarsono tampak hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak asuhnya tidak mampu keluar dari tekanan.

Kekalahan 15-0 ini menjadi tamparan keras dan pekerjaan rumah besar bagi manajemen, tim pelatih, hingga pemain Sriwijaya FC.

Evaluasi menyeluruh mutlak diperlukan agar Laskar Wong Kito dapat bangkit dan tidak kembali mengulang catatan kelam dalam perjalanan mereka di kompetisi sepak bola Indonesia.

Sriwijaya FC berencana merombak tim jelang putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26 dan seiring masih dibukanya bursa transfer window hingga 6 Februari 2026 nanti.

JURANG DEGRADASI SFC - Ilustrasi 3 tim Sumatera (PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, dan Persiraja Banda Aceh) berusaha menggenggam tangan Sriwijaya FC sesama tim Sumatera yang sudah terancam masuk jurang degradasi di kompetisi Pegadaian Championship 2025/26.
JURANG DEGRADASI SFC - Ilustrasi 3 tim Sumatera (PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, dan Persiraja Banda Aceh) berusaha menggenggam tangan Sriwijaya FC sesama tim Sumatera yang sudah terancam masuk jurang degradasi di kompetisi Pegadaian Championship 2025/26. (pspstalk.id)

Baca juga: Sriwijaya FC Siap Tempur di Putaran Ketiga Pegadaian Championship 2025/26

"Di awal bulan akan ada perombakan tim. Pendaftaran pemain di bursa transfer kan sampai 6 Februari 2026. Jadi kita bakal ada penambahan pemain," ungkap Asisten Pelatih Sriwijaya FC, Tedi Berlian.

Asisten pelatih Sriwijaya FC Tedi Berlian mengatakan pemain anyar Elang Andalas ini nanti merupakan eks pemain Liga 2 yang siap membantu hingga menyelesaikan kompetisi Pegadaian Championship 2025/26.

"Mungkin nanti yang akan didatangkan Sriwijaya FC ini para pemain eks Liga 2, kemungkinan ada 5 hingga 6 pemain. Ini lagi koordinasi dengan coach Budi Sudarsono," kata Tedi Berlian.

Pelatih kelahiran Bogor, 11 Juli 1996 berharap dengan didatangkannya pemain anyar eks pemain Liga 2 ini bakal memperkokoh tim Sriwijaya FC berlaga di putaran ketiga nanti.

"Kita lakukan perombakan pelan-pelan. Paling gak nantinya diharapkan kalaupun kalah, jangan terlalu besar kalahnya seperti laga barusan. Kita juga menjaga harga diri dan marwah nama besar Sriwijaya FC," ujar mantan pemain PSMS Medan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.