Dulu Tak Tamat SD, Zaenal Semangat Jualan Kopi Keliling Nyambi Dagang Ayam, Pernah Hanya Laku 4 Cup
February 02, 2026 05:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Inilah sosok Muhammad Zaenal Arifin (26), lulusan kelas 4 SD yang jadi penjual kopi keliling.

Gerobak kopi kelilingnya tampak berada di Jalan Veteran, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Selain karena ramai pelanggan silih berganti, Zaenal was-was akan ada ancaman penertiban yang sewaktu-waktu datang tanpa aba-aba.

Mengenakan rompi coklat bertuliskan nama brand kopi tempatnya bekerja, Zaenal berdiri di balik gerobak kopi keliling atau kopling nama bekennya.

Baca juga: Rahmat Laris Manis Jualan Nasi Padang Keliling Meski Awalnya Iseng, Tiap Jumat Semua Menu Rp 10 Ribu

Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali menyambut pelanggan, sebagian besar mahasiswa yang mencari kopi murah untuk menemani aktivitas tugas mereka.

“Sudah sekitar tiga bulan saya jualan kopi keliling di sini,” ujar Zaenal saat, Senin (2/2/2026), melansir dari Kompas.com.

Lokasi mangkalnya berada di area pedestrian Jalan Veteran, kawasan yang sebenarnya dilarang untuk aktivitas berdagang.

Namun bagi Zaenal, tak ada pilihan lain selain melanggar aturan pemerintah setempat.

Tempatnya bekerja meminta ia berjualan di kawasan tersebut karena dinilai strategis.

Mahasiswa ramai, kopi laku sehingga penertiban menjadi konsekuensi yang tak terelakkan baginya.

“Kalau Satpol PP, ya sering ke sini. Memang enggak boleh jualan, tapi bagaimana lagi. Ini sudah pilihan tempat saya bekerja,” ungkapnya.

Biasa Kejar-kejaran dengan Satpol PP

Kejar-kejaran dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sudah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari pekerjaannya.

Aki kendaraan pernah disita, gerobak diangkut, hingga ancaman sanksi tindak pidana ringan (tipiring) kerap menghantui.

Namun, semua itu tetap ia jalani.

Zaenal mengaku tak memiliki banyak pilihan dalam hidup.

Pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas 4 sekolah dasar.

Ijazah pun tak pernah ia genggam.

“Ini kerjaan sampingan saya. Selain ikut saudara jualan ayam di pasar,” ujarnya.

Dengan latar belakang pendidikan yang terbatas, pekerjaan sebagai pegawai kopi keliling menjadi jalan hidup yang ia pilih, meski penuh risiko.

Setidaknya, ada pemasukan untuk menghidupi istri dan satu anaknya.

Setiap hari, Zaenal ditargetkan menjual minimal 30 cup kopi.

Pada hari-hari ramai, terutama saat mahasiswa aktif kuliah, angka itu bisa melonjak hingga 60 bahkan 70 cup.

Namun, situasi tak selalu berpihak.

Cuaca hujan, musim mahasiswa libur seperti saat ini, kerap membuat targetnya tak bisa dipenuhi.

Dalam beberapa hari terakhir, ia bahkan hanya mampu menjual 4 cup kopi.

“Kapan hari hujan seharian, mahasiswa libur, dagangan sepi. Sehari cuma jualan empat cup,” akunya.

Baca juga: Warga Kehilangan Rp 300 M setelah Ikut Bisnis Jualan Buah, Syok Gudang Usaha Tak Beroperasi

Meski demikian, Zaenal memilih bertahan.

Ia menelan segala tantangan, dari panas matahari, hujan yang turun tiba-tiba, hingga rasa waswas saat melihat petugas berseragam mendekat.

Baginya, semua itu adalah harga yang harus dibayar demi dapur tetap mengepul.

“Mau bagaimana pun, ini sudah pilihan saya. Risikonya juga harus siap ditanggung,” kata Zaenal.

Ia sadar, jalan hidupnya tak mudah. Namun mendapatkan pekerjaan saja, menurutnya, sudah patut disyukuri.

Di tengah kerasnya hidup dan ketatnya aturan pemerintah, Zaenal tetap berdiri di balik gerobaknya, menyeduh kopi, menyapa pelanggan dan berharap esok hari masih ada rezeki yang bisa dibawa pulang.

“Meskipun banyak risikonya tapi saya betah kerja di sini. Saya juga mensyukuri pekerjaan ini,” pungkas Zaenal.

Cerita Lain

Dari sebuah warung kecil di tepi jalan Desa Sumberagung, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat kisah luar biasa.

Tak ada papan nama mencolok di warung tersebut, hanya deretan kursi kayu sederhana dan tikar untuk lesehan. 

Dari warung sederhana tersebut, aroma kopi hitam menyeruak.

Kopi murni seharga Rp500 perak masih bertahan hingga sekarang di warung ini.

Diketahui, warung ini dirintis pada tahun 1992 dan kini dikelola oleh Sundana (68), dibantu sang suami, Senawi.

Sejak pagi hingga larut malam, keduanya dengan sabar melayani siapa saja yang datang. 

"Kalau kopi dibuat mahal, orang kecil jadi susah. Saya ingin semua bisa minum kopi di sini," ucap Sundana saat dikonfirmasi awak media pada Minggu (21/9/2025). 

Harga murah ini membuat banyak orang tercengang.

Di saat kafe modern menjual kopi dengan harga belasan hingga puluhan ribu, warung sederhana ini tetap konsisten dengan tarif Rp500 per gelas kecil dan Rp1.000 untuk gelas sedang. 

Baca juga: Dulu Jadi Kuli Bangunan, Amir Kini Punya Pabrik Roti, Sempat Jualan Keliling Pakai Gerobak

Tak hanya kopi, Sundana juga menyediakan es cincau Rp1.000 dan menu rujak petis Rp3.000 yang menjadi teman ngobrol para pelanggan.

Pengunjungnya pun beragam, ada petani yang mampir usai pulang dari sawah, ada tukang becak yang singgah untuk melepas lelah, hingga mahasiswa dan peziarah dari luar kota yang penasaran dengan kopi murah ini. 

Dari Mojokerto, Sidoarjo, hingga Gresik, orang rela datang untuk mencicipi kesederhanaan yang nyaris hilang di era modern.

Meski keuntungan yang didapat rata-rata hanya sekitar Rp30.000 per hari, Sundana dan Senawi tidak pernah mengeluh.

Bagi mereka, warung kopi bukan sekadar tempat mencari uang, melainkan ruang untuk menjaga silaturahmi.

"Yang penting pembeli senang, warung tetap hidup," ujar Senawi.

Lebih dari sekadar minuman, kopi Rp500 ini menjadi simbol perlawanan terhadap logika komersial.

Warung kecil ini seolah menjadi oase ruang inklusif tempat orang-orang dari berbagai latar belakang duduk sejajar, berbagi cerita, dan meneguk kehangatan yang tak ternilai.

Di tengah derasnya arus modernisasi, secangkir kopi murah dari warung Sundana mengajarkan bahwa ada hal-hal yang lebih penting daripada keuntungan, yakni kebersamaan, solidaritas, dan kesetiaan pada nilai sederhana yang diwariskan turun-temurun.

"Masih bertahan dengan harga yang murah karena memang banyak pembeli yang datang ke sini profesinya petani, tukang becak, tukang parkir."

"Jadi diberi harga murah, biar sama-sama bisa menikmati kopi," pungkasnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.