Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Pasar 16 Ilir merupakan salah satu pasar tradisional tertua dan paling ikonik di Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Hingga kini, kawasan ini tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi rakyat sekaligus saksi bisu perjalanan panjang sejarah perdagangan di Bumi Sriwijaya.
Terletak di tepi Sungai Musi dan berhadapan langsung dengan Jembatan Ampera, Pasar 16 Ilir memiliki posisi strategis sejak masa lampau.
Pada masa itu, Sungai Musi berfungsi sebagai jalur transportasi utama, sehingga aktivitas jual beli banyak dilakukan melalui perahu-perahu dagang yang bersandar di dermaga kecil sepanjang sungai.
Nama “16 Ilir” berasal dari sistem pembagian wilayah administratif pada masa kolonial Belanda.
Kawasan di sepanjang hilir Sungai Musi dibagi dalam beberapa nomor, dan wilayah ini dikenal sebagai kawasan ke-16.
Seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat perdagangan rakyat yang ramai dan terus hidup hingga sekarang.
Sebelum memasuki abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir telah dikenal sebagai sentra aktivitas perdagangan.
Pada masa kolonial Belanda, area ini masih berupa hamparan tempat berdagang terbuka yang dimanfaatkan pedagang lokal maupun pendatang untuk melakukan transaksi jual beli berbagai kebutuhan pokok.
Meski tidak ada catatan pasti mengenai tahun pendiriannya, Pasar 16 Ilir diperkirakan telah ada sejak masa Kesultanan Palembang.
Awalnya, pasar ini berfungsi sebagai titik temu sederhana antara penjual dan pembeli. Namun, intensitas perdagangan yang terus meningkat menjadikannya salah satu pusat ekonomi terpenting di Palembang.
Memasuki masa kolonial Belanda, kawasan Pasar 16 Ilir mulai mengalami perubahan signifikan.
Pemerintah kolonial dikenal memiliki perencanaan kota yang tertata rapi atau master plan, dengan menempatkan pusat perdagangan, pergudangan, kawasan real estat, hingga permukiman khusus warga Belanda secara sistematis untuk menunjang aktivitas ekonomi kota.
Sejumlah bangunan permanen yang berdiri di kawasan Pasar 16 Ilir hingga kini merupakan hasil pembangunan dan rekonstruksi pada masa tersebut. Menariknya, beberapa bangunan diketahui melibatkan kontraktor dari etnis Arab.
Hal ini diperkuat dengan ditemukannya tulisan “Alimoneal” pada bagian bangunan tertentu yang diyakini sebagai penanda nama kontraktor pelaksana pembangunan kala itu.
Sejarawan Palembang, Helen Susanti, menilai salah satu faktor utama Pasar 16 Ilir tetap berkembang pesat hingga kini adalah lokasinya yang strategis, tepat di jalur utama Sungai Musi.
“Banyak yang mengenal Palembang sebagai daerah yang kaya sumber daya alam sejak masa Sriwijaya. Hal ini membuat Palembang berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai sejak dulu,” ujar Helen Susanti melalui kanal YouTube Mang Dayat, dikutip Senin (2/2/2026).
Geliat perdagangan di Palembang juga tercatat meningkat pesat pada era 1940-an. Pada tahun 1946, aktivitas ekonomi di kota ini menunjukkan lonjakan signifikan.
Bahkan, Mister Hermani, seorang utusan pemerintah pusat pada masa itu, mengaku terkejut melihat ramainya aktivitas perdagangan di Palembang saat kunjungannya pada tahun 1940.
Ia menilai geliat ekonomi Palembang jauh lebih hidup dibandingkan Jakarta pada periode yang sama.
Kini, Pasar 16 Ilir tidak hanya berfungsi sebagai pusat jual beli berbagai kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang hidup sejarah yang merekam perjalanan ekonomi, sosial, dan budaya Kota Palembang dari masa ke masa.
Keberadaannya menjadi bukti bahwa denyut perdagangan di tepian Sungai Musi telah menghidupi Palembang selama berabad-abad dan terus bertahan di tengah modernisasi kota.