Mengantuk setelah Makan Siang, Dokter Ungkap Pola Makan yang Sering Salah
February 02, 2026 06:33 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mengantuk setelah makan siang sering dianggap wajar, bahkan menjadi bahan candaan di kantor. 

Padahal, menurut dokter spesialis gizi klinik dr. Nita, M.Gizi, Sp.GK, kondisi tersebut tidak lepas dari pola makan yang keliru dan kebiasaan harian yang tanpa disadari berdampak pada kesehatan tubuh.

Fenomena “ngantuk habis makan” kerap dialami pekerja di usia produktif, terutama mereka yang melewatkan sarapan dan baru makan dalam porsi besar saat siang hari.

Makan Siang Kalap, Tubuh Kaget Terima Lonjakan Gula Darah

Lebih lanjut dr. Nita menjelaskan, rasa kantuk setelah makan siang berkaitan dengan cara tubuh memetabolisme makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

“Kalau makan siang kan biasanya porsinya cukup lumayan nih ya, apalagi kalau kita punya kebiasaan tidak mulai dengan sarapan, jadi sering pada saat makan siang ini jadi kalap gitu, nah jadi tiba-tiba perut penuh, gula darah naik gitu ya,” ujar dr. Nita pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Senin (2/2/2026). 

Baca juga: Pengalaman Alyssa Daguise Hamil Anak Pertama, Sering Mengantuk dan Mudah Lelah

Ia menerangkan, lonjakan gula darah membuat tubuh membutuhkan aliran darah lebih besar ke saluran pencernaan untuk proses metabolisme. 

Akibatnya, pasokan darah ke otak berkurang sementara.

“Otomatis kan jadi muncul nih, ngantuk, ya lemas, karena tadi karena gula yang tiba-tiba melonjak naik itu salah satunya, dan aliran darah yang dipakai untuk memetabolisme sih makanan yang baru dimakan itu,” lanjutnya.

Kondisi ini makin terasa ketika menu makan siang didominasi karbohidrat sederhana, seperti nasi putih dalam porsi besar dengan lauk terbatas.

Karbo Berlebih, Makan Cepat, dan Minuman Manis Jadi Kombinasi Berbahaya

Kebiasaan makan di luar, terutama di jam kerja, juga turut memengaruhi munculnya rasa kantuk dan lemas. 

Menu tinggi karbohidrat, makan terburu-buru, hingga pendamping minuman manis kerap menjadi satu paket.

Ia menegaskan, tubuh secara alami membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama, terutama untuk otak dan sel darah merah. 

Namun, saat asupan gula masuk terlalu cepat dan berlebihan, tubuh justru “kewalahan”.

“Begitu sudah seharian ya dari pagi sampai siang, itu kan akan dipakai nih glukosa-glukosa yang ada di tubuh kita, nah pasti akan drop ya, nah itu secara alami, pasti kan tubuh akan minta untuk asupan gula, untuk cepat mengembalikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, makanan dan minuman manis memang memberi rasa senang sesaat karena memicu hormon bahagia. 

Namun efeknya sering membuat seseorang ingin terus makan, meski kebutuhan tubuh sebenarnya sudah tercukupi.

Ditambah lagi, kebiasaan makan cepat tanpa mengunyah dengan baik membuat otak terlambat menerima sinyal kenyang.

Dari Lapar Berlebihan Sampai Makan Malam Tak Terkontrol

Pola makan yang tidak dimulai dengan baik di pagi hari sering berujung pada pola makan berlebihan hingga malam. 

Setelah makan siang besar, sebagian orang kembali makan berat di malam hari, disertai camilan, gorengan, kopi, atau minuman manis.

Menurut dr. Nita, kondisi ini berbahaya jika berlangsung terus-menerus.

Perut yang kosong lama lalu tiba-tiba diisi penuh akan mengganggu sistem pencernaan. Lonjakan gula darah yang berulang juga memberi tekanan pada metabolisme tubuh.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini bukan hanya berdampak jangka pendek seperti lemas dan sulit fokus, tetapi juga memicu masalah kesehatan jangka panjang.

Gizi Seimbang Bukan Sekadar Kenyang

Dr. Nita menekankan bahwa pola makan ideal bukan soal kenyang, melainkan gizi seimbang, bervariasi, dan sesuai kebutuhan tubuh masing-masing individu.

Ia mengingatkan bahwa sayur dan buah sering menjadi komponen yang paling diabaikan, padahal perannya sangat penting.

Buah yang dikonsumsi dalam bentuk jus pun tidak selalu ideal karena seratnya berkurang. Padahal, serat berperan penting dalam mengontrol gula darah, kolesterol, kesehatan jantung, serta menjaga keseimbangan bakteri baik di saluran cerna.

Selain itu, konsumsi air putih yang cukup juga kerap terlupakan dalam rutinitas harian.

Makan Tanpa Sadar, Tanda Pola Makan Sudah Bermasalah

Salah satu tanda pola makan yang tidak sehat, menurut dr. Nita, adalah ketidaksadaran terhadap apa yang dikonsumsi sehari-hari.

Ketika seseorang kesulitan mengingat apa saja yang dimakan dari pagi hingga malam, itu menandakan makan dilakukan sekadar untuk menghilangkan lapar, bukan untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Padahal, kebutuhan tiap orang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan.

Pola makan yang terus dijalani tanpa kesadaran dan keseimbangan berisiko menumpuk dampak buruk bagi kesehatan di masa depan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.