Peneliti BRIN Ungkap Alasan Indonesia Harus Waspada pada Potensi Penularan Virus Nipah
February 02, 2026 06:33 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Peneliti Ahli Utama Virologi  sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti mengungkapkan, potensi risiko virus nipah di Indonesia jika tidak diantisipasi dengan baik.

Baca juga: Kemenkes Terbitkan SE Waspada Virus Nipah, Cuci, Kupas & Buang Buah Bekas Gigitan Kelelawar

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) merupakan penyakit zoonotik yang perlu ditangani tepat berdasarkan kajian ilmiah, mengingat karakteristiknya yang serius dan berpotensi menimbulkan wabah.

“Virus Nipah perlu diwaspadai karena memiliki tingkat kematian yang tinggi. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, berbagai bukti ilmiah menunjukkan virus ini telah bersirkulasi di alam,” kata dia dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).

Merujuk pada perjalanan penyakitnya ini, virus nipah pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998.

Dan kemudian, menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Nipah virus memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” jelasnya peneliti yang disapa Indi ini.

Baca juga: Kenali Cara Penularan Virus Nipah, Bisa Dari Buah Aren yang Tidak Dimasak

Ia menjelaskan, Nipah virus termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus.

Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.

Penularan virus Nipah ke manusia, dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antar manusia.

Di sejumlah negara, wabah NiV juga dikaitkan dengan konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar.

Adakah Virus Nipah Bersirkulasi di Alam Indonesia?

Indi menyebutkan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar.

Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.

“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” tutur Indi.

Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan.

Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus atau perpindahan patogen dari hewan ke manusia.

Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.

“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.

Hingga, saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Nipah virus.

Oleh karena itu, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, sementara pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.

Pendekatan One Health menekankan kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam pengendalian zoonosis, dengan tantangan utama berupa keterbatasan data dan rendahnya kesadaran publik, sehingga penguatan riset, surveilans, edukasi, dan kesiapsiagaan menjadi kunci pencegahan penyakit emerging seperti virus Nipah.

“Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.