Setelah Berbulan-bulan Ditutup, Rafah Gaza–Mesir Akhirnya Dibuka,Tapi Ada Syaratnya
SERAMBINEWS.COM- Pos perbatasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir resmi dibuka kembali setelah berbulan-bulan ditutup.
Sejumlah warga Palestina dilaporkan mulai menyeberang sejak perlintasan tersebut kembali dioperasikan untuk pergerakan orang.
Namun, pembukaan ini masih bersifat sangat terbatas dan belum mencakup masuknya bantuan kemanusiaan maupun barang dagangan.
Perlintasan Rafah sebagian besar ditutup sejak Mei 2024, setelah wilayah tersebut direbut oleh pasukan Israel.
Baca juga: Setelah Hampir 2 Tahun Ditutup, Perbatasan Rafah Gaza–Mesir Akhirnya Bakal Dibuka Kembali
Pembukaan kembali ini merupakan bagian dari tahap pertama rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku sejak Oktober lalu.
Meski telah dibuka, jumlah orang yang diizinkan melintas masih sangat kecil.F
Setiap harinya, hanya puluhan warga Palestina yang diperbolehkan menyeberang ke Mesir maupun kembali ke Gaza. Bantuan kemanusiaan dan pasokan barang hingga kini masih dilarang masuk melalui jalur tersebut.
Situasi ini berdampak besar bagi warga Gaza yang membutuhkan perawatan medis.
Baca juga: Mossad dan Shin Bet Israel Latih Geng Bersenjata Untuk Serang Hamas dan Warga Sipil Gaza
Diperkirakan sekitar 20.000 warga Palestina yang sakit dan terluka saat ini menunggu izin untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan pengobatan di luar wilayah tersebut.
Namun, laporan dari pihak Israel menyebutkan bahwa hanya 50 pasien yang diizinkan keluar setiap hari, masing-masing didampingi oleh dua anggota keluarga.
Selain itu, hanya 50 orang dari puluhan ribu warga Palestina yang sebelumnya meninggalkan Gaza selama perang yang akan diizinkan kembali.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengawasi proses pemindahan pasien dari wilayah yang dikuasai Hamas.
Para pasien akan diangkut menggunakan bus melalui wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel sebelum mencapai perbatasan Rafah, sebagaimana disampaikan sumber kepada BBC News.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeluarkan peringatan keras.
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang melintasi “Garis Kuning” batas wilayah yang dikuasai Israel sesuai kesepakatan gencatan senjata akan dihadapi dengan tembakan.
Pengelolaan penyeberangan Rafah akan dilakukan oleh pengawas dari Uni Eropa bersama staf lokal Palestina, sedangkan Israel akan tetap melakukan pemeriksaan keamanan dari jarak jauh.
Otoritas Israel menyatakan bahwa uji coba pembukaan perlintasan telah dilakukan dan dinyatakan selesai.
Baca juga: Israel Akan Buka Lagi Perbatasan Rafah, Tapi Warga Gaza Tetap Harus Lewati Seleksi Ketat Keamanan
Seorang pejabat Palestina mengatakan sekitar 30 staf Palestina telah tiba di sisi Mesir sebagai persiapan operasional.
Sebelum direbut Israel pada 2024, Rafah merupakan jalur utama keluar-masuk warga Palestina serta pintu utama bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pembukaan kembali perbatasan ini sempat tertunda akibat perbedaan sikap Israel dan Mesir, serta syarat Israel terkait penemuan jenazah sandera terakhir.
Konflik Gaza sendiri telah menelan korban jiwa yang sangat besar.
Sejak kampanye militer Israel dimulai sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, lebih dari 71.790 warga Palestina dilaporkan tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Baca juga: PBB Kecam Pemindahan Paksa Warga Palestina di Gaza ke Kota Reruntuhan Rafah
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)