Baygon & Autan Lawan DBD: Aksi untuk Indonesia Lebih Sehat
kumparanMOM February 02, 2026 08:19 PM
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius di Indonesia. Setiap tahun, kasus DBD terus bermunculan dan kerap meningkat hingga memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai daerah.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan RI, pada 2025 tercatat sekitar 131 ribu kasus DBD di Indonesia. Provinsi Jawa Barat, bersama Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta dan Jawa Tengah, tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Anak usia di bawah 1 tahun atau 5-10 tahun menjadi kelompok paling rentan karena berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat.
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Mengusung tema Lawan Nyamuk Demam Berdarah: Edukasi dan Aksi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat, Baygon dan Autan menggelar serangkaian kegiatan edukatif yang didukung oleh Kementerian Kesehatan RI dan aksi nyata di berbagai wilayah, seperti Soreang, Sumedang, Tasikmalaya, Antapani, Ujung Berung, hingga puncaknya di Kota Bandung, pada Sabtu, 31 Januari 2026, yang dihadiri oleh perwakilan Walikota Bandung yaitu dr. Ira Dewi Jani, MT dari Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Dalam sambutannya, dr. Ira Dewi Jani mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Baygon dan Autan yang telah berperan aktif dalam bentuk edukasi dan aksi nyata untuk mencegah DBD di wilayah Jawa Barat.
Melalui pendekatan yang dekat dengan keluarga dan anak, kegiatan ini bertujuan mendorong terbentuknya budaya pencegahan DBD yang dimulai dari rumah tangga. Pada kesempatan ini, Baygon dan Autan menghadirkan sesi edukasi serta demo produk bersama para ahli dan Shireen Sungkar untuk memberikan solusi proteksi yang praktis dan efektif.
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Gejala Awal dan Fase Kritis DBD
Rentannya anak-anak terhadap serangan DBD merupakan isu kesehatan yang memerlukan perhatian serius kita semua.
Menurut dr. Miza Dito Afrizal, Sp.A, sistem imunitas yang masih berkembang serta tingginya aktivitas di luar rumah meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk pada anak. Hal inilah yang membuat mereka lebih berisiko terkena DBD. Selain itu, gejala demam akibat flu dan DBD sering kali memiliki kemiripan, sehingga orang tua perlu lebih waspada.
“Demam biasa karena flu sering disertai gejala pernapasan seperti batuk dan pilek, suhu biasanya tidak setinggi DBD, dan umumnya akan membaik dalam beberapa hari, sementara DBD ditandai demam tinggi mendadak (bisa 40°C), nyeri hebat (kepala, belakang mata, otot/sendi), tanpa gejala flu, bisa muncul bintik merah dan mimisan/gusi berdarah,” ujar dr, Miza.
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Dr. Miza menegaskan pentingnya kejujuran orang tua dalam menyampaikan riwayat demam anak. Ia menekankan agar orang tua tidak mengira-ngira waktu awal demam, karena durasinya sangat menentukan diagnosis. “Pada demam berdarah, tanda penghancuran sel darah umumnya baru muncul setelah 72 jam. Oleh karena itu, sebelum periode tersebut, kadar trombosit bisa saja masih normal sehingga diagnosis belum dapat dipastikan,”ujarnya
Pertolongan pertama DBD pada anak adalah memberikan banyak cairan (air putih, oralit), kompres dengan air hangat/dingin untuk menurunkan demam. Sebaiknya berikan parasetamol saja, hindari ibuprofen/aspirin, penuhi nutrisinya, dan pastikan anak istirahat cukup, sambil memantau ketat tanda bahaya seperti perdarahan, lemas dan anak semakin rewel.
“Fase kritis DBD itu hari ke-3 hingga ke-5 yang ditandai risiko syok/perdarahan meningkat. Di fase inilah orang tua perlu waspada. Karena banyak yang terkecoh mengira anak sudah sembuh padahal memasuki fase kritis. Segera ke dokter jika curiga DBD, terutama saat demam turun setelah tiga hari. Lakukan tes darah trombosit dan hematokrit untuk diagnosis pasti,” ujar dr. Miza.
Keterlambatan penanganan saat memasuki fase kritis (saat demam turun), komplikasi serius seperti kebocoran plasma darah yang menyebabkan syok, daya tahan tubuh lemah, faktor usia, infeksi ulang virus, dan faktor lingkungan menjadi penyebab anak tidak tertolong.
Rebranding 3M Plus
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang mampu menggigit lebih dari satu orang dalam sehari sehingga meningkatkan risiko penularan.
Untuk menekan angka kasus DBD, Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya rebranding Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus sebagai tiga langkah wajib yang harus dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga. PSN 3M Plus tidak lagi dimaknai sekadar kerja bakti, melainkan upaya terstruktur untuk memutus siklus hidup nyamuk sejak dari sumbernya.
PSN 3M Plus meliputi menguras dan menyikat penampungan air secara rutin, menutup rapat seluruh wadah air, serta langkah “Plus” yang wajib dilakukan, seperti mengeringkan genangan air, memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan pestisida, memasang kawat kasa dan kelambu, menanam tanaman pengusir nyamuk, menggunakan lotion anti-nyamuk, serta menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada barang bekas yang berpotensi menampung air.
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Menurut DR. drh. Sugiarto, M.Si., Ketua Tim Kerja Penyehatan Air, Sanitasi Dasar, Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kementerian Kesehatan RI, rendahnya partisipasi masyarakat dalam PSN disebabkan oleh kesenjangan pemahaman terhadap pesan 3M Plus. “Selama ini, PSN kerap dipahami sebatas kegiatan bersih-bersih lingkungan, tanpa fokus utama pada pemberantasan jentik. Padahal, unsur ‘Plus’ dalam 3M adalah keharusan, bukan pilihan,” ujarnya.
Selain faktor perilaku, perubahan iklim yang memicu suhu lebih hangat turut mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk di wilayah urban, sehingga meningkatkan potensi penyebaran virus dengue. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat penerapan PSN 3M Plus secara berkelanjutan demi melindungi keluarga dari ancaman DBD.
Baygon dan Autan merupakan brand andalan keluarga dalam perlindungan terhadap gigitan nyamuk dan serangga. Keduanya menjadi solusi untuk mencegah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan serangga seperti DBD. “Itu adalah komitmen kami untuk melindungi keluarga Indonesia dari DBD dengan produk-produk yang aman dan teruji dalam mencegah gigitan nyamuk yang berbahaya seperti Aedes aegypti,”ujar Country Director, Hasan Hamdan.
Tak bisa dipungkiri, rumah tangga menjadi garda terdepan dalam pencegahan DBD. Pengalaman pernah terjangkit DBD membuat artis Shireen Sungkar, yang hadir bersama suaminya Teuku Wisnu, semakin waspada dalam melindungi keluarganya. Tidak ingin kejadian serupa terulang pada buah hatinya, Shireen sangat memerhatikan kebersihan lingkungan rumah dan melindungi anak-anaknya dari gigitan nyamuk.
“Selain menerapkan praktik 3M, kami juga melindungi anak-anak dari gigitan nyamuk dengan lotion anti nyamuk. Biasanya sebelum tidur saya oleskan Autan agar anak-anak nyaman dan terlindungi. Kami juga gunakan Autan Refresh Spritz karena praktis dan sejuk di kulit, apalagi salah satu anakku ada yang bersekolah di sekolah alam,” ujar Shireen yang selalu memastikan Autan siap sedia untuk melindungi buah hatinya.
Perbesar
Edukasi dan aksi untuk masa depan yang lebih sehat bersama Baygon & Autan. Foto: Dok. Istimewa
Sebagai Brand Ambassador Autan, Shireen memang mengenal produk ini dengan baik. Baginya, Autan bisa dibilang ‘senjata rahasia’ dalam melindungi ketiga anaknya dari risiko DBD. “Autan adalah langkah praktis namun krusial dalam memutus rantai penularan DBD di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian acara “Baygon & Autan Lawan Nyamuk Demam Berdarah, Edukasi dan Aksi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat, dihadirkan serangkaian kegiatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Mulai dari senam bersama, lomba mewarnai untuk anak-anak, layanan Medical Check Up (MCU) gratis, hingga aksi donor darah yang bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia.
Beragam kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana edukasi yang menyenangkan, tetapi juga wujud nyata kepedulian Baygon dan Autan terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.