Jelang Musda Golkar Sulut: MEP dan THL Mencuat, Pengamat Bicara Tiga Arah Masa Depan Partai
February 02, 2026 08:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID – Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Utara kembali menjadi sorotan jelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda).

Meski jadwal resmi Musda belum ditetapkan, dinamika internal partai berlambang pohon beringin itu mulai mengerucut.

Sejumlah nama yang dinilai memiliki peluang memimpin Golkar Sulut ke depan.

Dua figur yang paling banyak diperbincangkan adalah Michaela Elsiana Paruntu (MEP) dan Tonny Hendrik Lasut (THL).

Keduanya disebut memiliki kans untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Golkar Sulut di tengah dinamika internal yang terus menghangat.

Menanggapi perkembangan tersebut, Peneliti Barometer Suara Indonesia, Baso Affandi, memberikan analisisnya terkait arah yang akan diambil Golkar Sulut dalam Musda mendatang.

Saat dihubungi via WhatsApp, Senin (2/2/2026) malam, Baso menyebut Musda Golkar Sulut bukan sekadar pergantian figur ketua.

Tetapi ini adalah momentum penentuan arah dan masa depan partai.

Menurutnya, Golkar Sulut sedang berada di persimpangan besar.

"Musda ini bukan hanya memilih ketua, tapi memilih jalan ke mana energi politik partai akan diarahkan,” kata Baso.

Menurutnya, terdapat tiga skenario besar yang kini mengemuka dalam dinamika internal Golkar Sulut.

Yakni jalur stabilitas, jalur perubahan cepat, dan jalur penengah.

Untuk jalur stabilitas, Baso menilai figur Christiany Eugenia Paruntu (CEP) masih merepresentasikan kepemimpinan yang tenang dan terukur.

CEP dinilai memiliki keunggulan dalam menjaga stabilitas internal, komunikasi dengan DPP, serta hubungan dengan elite nasional.

“Dengan CEP, Golkar berjalan aman, stabil, dan terprediksi. Tapi tantangannya, ada kader muda dan DPC yang mulai merasa inovasi berjalan di tempat,” jelasnya.

Sementara itu, Tonny Hendrik Lasut (THL) disebut sebagai representasi jalur perubahan cepat. 

THL dinilai membawa energi baru, semangat regenerasi, serta potensi lonjakan elektoral jika mampu mengelola dinamika internal dengan baik.

“THL adalah simbol fajar perubahan. Regenerasi bisa meloncat, struktur lebih hidup, tetapi risikonya adalah gesekan dan potensi polarisasi jika tidak dikelola dengan hati-hati,” ujar Baso.

Adapun jalur ketiga adalah figur penengah, yang dinilai justru memiliki potensi besar menyatukan partai. 

Dalam kategori ini, Baso menyebut sejumlah nama, termasuk Michaela Elsiana Paruntu (MEP).

“Figur penengah tidak membawa beban konflik masa lalu, tidak terjebak di kutub senior atau milenial, dan bisa menjadi ruang temu semua faksi,” katanya.

Khusus MEP, Baso menilai ia memiliki modal sosial yang kuat, rekam jejak organisasi, jaringan politik keluarga Paruntu, serta tingkat penerimaan publik yang relatif baik.

“MEP cukup aman bagi kubu senior, tapi juga tetap menarik bagi generasi muda. Ini kombinasi yang jarang dimiliki,” ungkap Baso.

Jika Golkar Sulut memilih jalur penengah, lanjut Baso, maka partai berpeluang melakukan konsolidasi tanpa gejolak besar, menata ulang struktur, serta mempersiapkan diri lebih matang menghadapi agenda politik ke depan, termasuk Pilkada 2029.

“Jalan ini memang sunyi, tidak berisik, tapi justru bisa menjadi jalan paling menyelamatkan dan strategis bagi Golkar Sulut,” pungkasnya.

Baso menambahkan, konstelasi jelang Musda Golkar Sulut sejauh ini relatif tidak berubah sejak akhir 2025 dan masih menunjukkan dinamika yang sama hingga saat ini.

(TribunManado.co.id/Pet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.