TRIBUNNEWSMAKER.COM - Gejolak di pasar saham turut mendapat perhatian dari politikus PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahaean, yang menanggapi mundurnya sejumlah pejabat strategis di sektor keuangan.
Ia menyoroti pengunduran diri petinggi Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan yang terjadi hampir bersamaan.
Situasi tersebut berlangsung di tengah tekanan yang sedang dihadapi pasar modal nasional.
Salah satu langkah besar adalah mundurnya Iman Rachman dari posisi Direktur Utama BEI.
Kursi pucuk pimpinan BEI kemudian diisi oleh Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama.
Tak hanya di BEI, perombakan juga terjadi di tubuh OJK dalam waktu yang berdekatan.
Empat pejabat tinggi OJK secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya.
Mereka adalah Mahendra Siregar selaku Ketua Dewan Komisioner, Mirza Adityaswara sebagai Wakil Ketua,
Inarno Djajadi yang membawahi pengawasan pasar modal dan derivatif, serta I.B. Aditya Jayaantara.
Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar pada Sabtu (31/1/2026) kemudian menetapkan susunan pengganti.
Friderica Widyasari ditunjuk sebagai anggota Dewan Komisioner OJK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua.
Sebelumnya, Friderica menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen.
Selain itu, posisi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal dan Bursa Karbon diisi oleh Hasan Fawzi.
Hasan Fawzi sebelumnya dikenal sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto di OJK.
Menanggapi peristiwa banyak pejabat yang mundur massal, Ferdinand Hutahaean menyebut sektor keuangan sedang mengalami keguncangan.
Meski demikian, ia tidak mempersoalkan alasan para pejabat itu mundur.
"Dirut Bursa Efek Indonesia telah mengundurkan diri disusul kemudian tiga komisioner OJK mengundurkan diri. Juga terjadi keguncangan di sektor keuangan kita," kata Ferdinand Hutahaean dikutip dari akun instaram pribadinya, Minggu (1/2/2026).
Namun, Ferdinand justru melontarkan sindiran singkat yang langsung menarik perhatian publik.
"Saya tidak mau bertanya mengapa mereka mundur, saya hanya mau bertanya singkat saja. Purbaya kapan nyusul? hahaha," ucap Ferdinand sambil tertawa.
Purbaya menegaskan, isu yang beredar luas di ruang publik dan media sosial tersebut tidak berdasar dan cenderung menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu di pasar keuangan.
Ia memastikan tidak ada arahan, tekanan, maupun permintaan pengunduran diri terhadap pimpinan otoritas pasar modal dan lembaga pengawas sektor keuangan.
Hal itu disampaikan Purbaya saat ditemui wartawan di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Dengan nada tenang, ia menepis spekulasi yang berkembang dan meminta publik tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
“Enggak ada. Tidak benar itu. Beliau mah santai saja,” ujar Purbaya singkat, merujuk pada Presiden Prabowo Subianto dikutip dari Wartakota.
Isu mundurnya petinggi BEI dan OJK mencuat setelah IHSG mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah pihak mengaitkan koreksi pasar tersebut dengan dinamika politik dan persepsi investor terhadap respons pemerintah, termasuk narasi bahwa Presiden menunjukkan kemarahan atas kinerja pasar keuangan nasional.
Namun, Purbaya menilai fluktuasi IHSG merupakan bagian dari dinamika pasar yang dipengaruhi banyak faktor, baik global maupun domestik.
Menurutnya pemerintah memahami bahwa pasar saham bersifat sensitif terhadap sentimen, sehingga tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari satu peristiwa atau pernyataan tertentu.
Ia juga menegaskan, koordinasi antara pemerintah, BEI, dan OJK tetap berjalan normal.
Seluruh otoritas terkait, kata Purbaya, fokus menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan investor, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
“Yang terpenting sekarang adalah memastikan stabilitas dan komunikasi yang jelas ke publik. Fundamental ekonomi kita tetap kuat, dan itu yang terus kami jaga bersama,” kata dia.
Pernyataan Purbaya ini sekaligus menjadi klarifikasi resmi pemerintah untuk meredam spekulasi yang berpotensi memperkeruh sentimen pasar.
Pemerintah berharap pelaku pasar dan masyarakat dapat bersikap lebih rasional serta mengandalkan informasi dari sumber-sumber resmi.
Dengan bantahan tersebut, pemerintah menegaskan tidak ada krisis kepemimpinan di tubuh BEI maupun OJK.
(TribunNewsmaker.com/ TribunJakarta)