4000 UMKM di Kota Malang Harus Naik Kelas pada 2026, Misi Tembus Pasar Internasional
February 02, 2026 09:35 PM

SURYAMALANG.COM, MALANG - Pemkot Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang memasang target peningkatan 10 persen pelaku UMKM naik kelas pada 2026.

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi menerangkan, pendampingan dan penguatan branding adalah cara untuk membantu UMKM naik kelas.

Saat ini, Diskopindag mencatat ada 40 ribu UMKM di Kota Malang. Jika 10 persennya ditargetkan naik kelas, maka ada 4.000 UMKM.

Target yang dicanangkan pada 2026 ini tidak jauh berbeda dari target tahun sebelumnya.

"Pendampingan oleh tim pendamping cakupannya akan diperluas hingga menyentuh 50 sampai 100 UMKM," ujar Eko Sri Yuliadi kepada SURYAMALANG.COM, Senin (2/2/2026).

Baca juga: Ditinggal Belanja dan Salat, Puluhan Anak di Alun-alun Merdeka Malang Lepas dari Pengawasan Ortu

Selain itu, tim pendamping juga diminta lebih detail dalam memberikan materi pelatihan, seperti mengenai pengemasan produk dan pemasaran.

Penguatan ini dilakukan karena pada 2025 jumlah UMKM yang naik kelas tidak memenuhi target.

Misi Tembus Pasar Internasional

Eko menerangkan, UMKM masuk kategori naik kelas jika mengalami peningkatan omzet tahunan, memiliki legalitas, dan peningkatan kualitas produk.

Penguatan langkah pendampingan juga ditujukan agar semakin produk milik pelaku UMKM dari Kota Malang bisa menembus pasar ekspor, terutama ke tiga negara, yakni Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.

Hingga 2025 total sudah ada 95 UMKM yang produknya mampu menembus pasar global dan mayoritas komoditas adalah keripik dari hasil olahan tempe.

"Pada 2026 produk yang ekspor bisa meningkat 50 persen," paparnya.

Susy Kurnia, pelaku UMKM berpendapat Pemerintah Kota Malang perlu membangun satu pasar khusus yang menjual produk UMKM.

Menurutnya, persoalan utama pelaku UMKM saat ini bukan hanya produksi, tetapi juga pemasaran.

Ia mengatakan, pernah mencoba memasarkan produk lewat media sosial dengan akun besar di Kota Malang, namun harus membayar.

Sementara banyak pelaku UMKM kecil tidak punya modal cukup untuk promosi.

“Kan ada MCC, tapi harus lewat kurasi. Ada juga match making dengan hotel atau toko oleh-oleh, tapi orangnya itu-itu saja. Yang kecil-kecil susah masuk,” ujarnya.

Di Kelurahan Karangbesuki, tempat Susy ikut membina UMKM dikatakan banyak yang akhirnya mencari jalur pemasaran sendiri.

Meski Pemkot Malang sering memfasilitasi pelatihan dan pendampingan, dampaknya belum terasa signifikan.

“Dinas sudah banyak bantu pelatihan, packaging, digital marketing. Tapi orang yang ikut itu-itu saja. Seperti muter di lingkaran yang sama,” katanya.

Susy berpendapat Kota Malang mencontoh Jakarta yang memiliki Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan pasar kreativitas yang menampung banyak UMKM.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Malang bisa menghadirkan satu pasar UMKM di lokasi strategis dan mudah dijangkau, agar produk-produk lokal bisa dikenal lebih luas dan benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha kecil. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.