Dari Rekor ke Koreksi Brutal, Penyebab Harga Emas Dunia Anjlok Tajam hingga 4 Persen Awal Februari
February 02, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Pada Senin 2 Februari 2026, harga perdangan emas dan perak tiba-tiba kompak mengalami penurunan yang tajam.

Padahal sebelumnya perdagangan emas dan perak mengalami reli panjang tren kenaikan yang cukup tinggi.

Ada faktor utama yang menyebabkan harga emas turun cukup dalam. Tekanan terhadap harga logam mulia kembali berlanjut pada awal pekan. 

Baca juga: Calon Bos Baru OJK Menguat, Menkeu Purbaya Gerak Cepat Cari Pengganti Tanpa Arahan Presiden Prabowo

Menurut data Bloomberg, pada pukul 07.16 waktu Singapura, harga emas di pasar spot turun 3,2 persen ke level 4.742,73 dollar AS per ons. Sementara itu, harga perak melemah 7,7 persen menjadi 78,64 dollar AS per ons.

Penurunan ini terjadi setelah harga emas sempat anjlok hingga 4 persen di awal perdagangan Asia.

Adapun perak mencatat tekanan yang lebih dalam, dengan pelemahan sekitar 4 persen dan bahkan sempat jatuh hingga 12 persen pada sesi sebelumnya menjadi penurunan intraday terbesar sepanjang sejarah perdagangan perak.

HARGA EMAS TURUN - Ada faktor utama yang menyebabkan harga emas turun pada Senin (2/2/2026), emas sempat anjlok hingga 4 persen. (Pixabay)

Salah satu faktor utama yang menekan harga logam mulia adalah penguatan mata uang Amerika Serikat. 

Indeks Spot Dollar Bloomberg tercatat naik 0,9 persen pada sesi sebelumnya, membuat emas dan perak yang diperdagangkan dalam dollar AS menjadi kurang menarik bagi investor global.

Mantan trader logam mulia JPMorgan Chase & Co. yang kini menjadi analis independen, Robert Gottlieb, menilai koreksi harga belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Menurutnya, pasar sebelumnya terlalu padat oleh posisi beli, sehingga kini tengah mencari level dukungan baru.

Pada tahun 2025, harga emas dan perak sempat mencetak rekor tertinggi yang mengejutkan banyak pelaku pasar berpengalaman.

Tren kenaikan tersebut semakin menguat pada Januari 2026, dipicu oleh kekhawatiran geopolitik, pelemahan mata uang, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Namun, sentimen pasar berubah tajam pada Jumat (30/1/2026) setelah muncul kabar Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.

Warsh dikenal sebagai figur yang agresif dalam menekan inflasi, sehingga memunculkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pengumuman tersebut memperkuat dollar AS dan memukul harapan investor terhadap pelemahan mata uang tersebut. Dampaknya, harga emas dan perak kembali tertekan.

Selain faktor politik dan kebijakan moneter, volatilitas ekstrem juga membuat pasar logam mulia semakin rapuh.

Lonjakan harga yang terlalu cepat sebelumnya mengguncang model risiko serta neraca keuangan para trader.

Goldman Sachs Group Inc. dalam catatannya menyebutkan bahwa rekor pembelian opsi beli (call option) secara mekanis mendorong lonjakan harga emas.

Para penjual opsi kemudian melakukan lindung nilai dengan membeli emas tambahan, yang justru memperbesar fluktuasi harga di pasar.

***

(Kompas.com/TribunTrends.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.