TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta - Biang kerok pasar modal sempat anjlok beberapa waktu terakhir terbongkar, setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh kritis.
Pertemuan tertutup yang berlangsung di kediaman Prabowo Subianto di Kertanegara, Jakarta, Jumat (30/1/2026), turut dihadiri sejumlah tokoh.
Satu di antaranya yakni Mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji.
Purnawirawan jenderal bintang tiga, yang hadir dalam pertemuan 5 jam tersebut, membocorkan detik-detik menegangkan saat Presiden menerima telepon penting terkait anjloknya pasar modal Indonesia.
Pasar modal adalah tempat atau sistem yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki dana melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang.
Instrumen yang diperdagangkan di pasar modal antara lain saham, obligasi, reksa dana, dan surat berharga lainnya. Di Indonesia, pasar modal diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai penyelenggara perdagangan efek.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com, Susno menceritakan, awalnya Prabowo menyinggung kondisi pasar modal yang sempat anjlok tajam pada hari Kamis, sehari sebelum pertemuan.
Prabowo, kata Susno, sangat paham ada pihak yang seharusnya menjadi regulator namun justru ikut 'bermain'.
Kejutan terjadi dua jam setelah obrolan berlangsung. Sebuah panggilan telepon masuk ke Presiden Prabowo.
Susno menggambarkan momen itu sebagai bukti ketegasan Prabowo.
Susno menegaskan, mundurnya pejabat tersebut bukanlah sebuah aksi heroik, melainkan karena 'diminta' mundur oleh Presiden akibat ulahnya yang membuat pasar modal goyang.
"Rupanya itu bukan mengundurkan diri, memang diminta mundur. Jadi bukan pahlawan bahwa dia 'Wah tanggung jawab saya mundur', bukan!" tegas Susno sambil tertawa.
Selain isu pasar modal, Susno juga mengungkap kemarahan Prabowo terhadap gaji fantastis direksi BUMN dan Bank Himbara yang dinilai tidak masuk akal di tengah kesulitan rakyat.
Baca juga: Abraham Samad Bongkar Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo, "Sampai Lupa Makan"
Bahkan, ada yang meminta tantiem hingga Rp 40 miliar.
"Beliau marah sekali. Gaji Direksi BUMN sangat mengerikan, kalahkan gaji Presiden Amerika," pungkas Susno.
Tanya: Pak, Pak Susno kalau boleh saya tahu terkait dengan proses penegakan hukum terutama di korupsi yang diusulkan atau menjadi concern dari Pak Abraham Samad dan disampaikan oleh Pak Susno juga sih dalam kesempatan itu apa Pak? Kalau boleh saya tahu, Pak?
Jawab: Ya kita ingin, dengan Pak Abraham Samad gitu, ingin meningkatkan indeks korupsi kita. Karena kita kan rendah gitu, di bawah Nepal. Nah, beliau (Presiden Prabowo) mempunyai data yang lengkap. Data beliau berdasarkan perhitungan dari luar negeri, dari dalam negeri. Tidak seperti yang kita bayangkan, lebih besar dari itu.
Bahwa APBN kita itu bocornya 30 persen lebih. Dan dari mana angka itu? Ya beliau buat berdasarkan data ilmiah dan perhitungan dari suatu lembaga internasional. Nah, jadi tidak seperti yang kita bayangkan, tapi lebih parah. Dan beliau tahu. Makanya sampai ke desa dia katakan paling kecil 30 persen gitu duit negara dikorup.
Tanya: Apakah dalam kesempatan itu juga ada usul untuk memperkuat kembali KPK Pak, Komisi Pemberantasan Korupsi yang beberapa waktu yang lalu banyak orang karena adanya amandemen undang-undang KPK lalu menjadi lemah posisi KPK ini? Apakah dalam forum itu juga dibahas soal itu, Pak?
Jawab: Ya kita singgung juga gitu. Karena 5 jam ya banyak benar yang dibicarakan. 5 jam dan bebas ngomong gitu.