Renungan Harian Katolik Selasa 3 Februari 2026, Iman yang Rendah Hati
February 03, 2026 08:35 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Selasa 3 Februari 2026.

Tema renungan harian Katolik "iman yang rendah hati ".

Selasa 3 Februari 2026 merupakan hari Selasa Biasa IV, Perayaan fakultatif Santo Blasius, Uskup dan Martir, Santo Ansgarius, Uskup, Santo Gilbertus, Imam, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 3 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 3 Februari 2026, Iman di Tengah Kerumunan

Bacaan Pertama 2 Samuel 
18:9-10.14b.24-25a.30-19:3

"Daud meratapi kematian Absalom."

Waktu melarikan diri, Absalom bertemu dengan anak buah Daud. Saat itu Absalom sedang memacu bagalnya. Ketika bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar,

tersangkutlah rambut kepala Absalom pada pohon tarbantin itu, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi, sedang bagal yang ditungganginya berlari terus. 

dan ditikamnya ke dada Absalom! Waktu itu Daud sedang duduk di antara kedua pintu gerbang sementara penjaga naik ke sotoh pintu gerbang itu, di atas tembok. 

Lalu raja berkata kepada Ahimaas, "Pergilah ke samping, berdirilah di situ." Ahimaas pergi ke samping dan berdiri di situ. Kemudian tibalah orang Etiopia itu. 

Kata orang Etiopia itu, "Tuanku Raja mendapat kabar yang baik, sebab Tuhan telah memberi keadilan kepadamu pada hari ini! Tuhan melepaskan Tuanku dari tangan semua orang yang bangkit menentang Tuanku." 

Tetapi bertanyalah Raja Daud kepada orang Etiopia itu, "Selamatkanlah Absalom, orang muda itu?" Jawab orang Etiopia itu, "Biarlah seperti orang muda itu musuh Tuanku Raja dan semua orang yang bangkit menentang Tuanku untuk berbuat jahat." 

Maka terkejutlah raja! Dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan, "Anakku Absalom, anakku! Ah, anakku Absalom,

Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara mendengar orang berkata, "Raja bersusah hati karena anaknya."

Maka pada hari itu tentara Israel masuk kota dengan diam-diam, seperti tentara yang kena malu karena melarikan diri dari pertempuran.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 86:1-2.3-4.5-6

Ref. Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan jawablah aku.

Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan dan jawablah aku, sebab sengsara dan miskinlah aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku ini orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.

Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.

Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bait Pengantar Injil Matius 8:17
Ref. Alleluya

Yesus memikul kelemahan kita, dan menanggung penyakit kita.

Bacaan Injil Markus 5:21-43

"Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!"

Sekali peristiwa, sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. 

Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 

Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 

Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"

Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 

Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" 

Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"

Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.

Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. 

Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" 

Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun.

Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

Iman yang Menyentuh, Iman yang Menghidupkan 

"Iman di Tengah Kerumunan"

Dalam bacaan Injil hari ini (Markus 5:21–43), kita diajak menyelami dua kisah mukjizat Yesus yang sangat menyentuh: seorang perempuan yang dua belas tahun menderita pendarahan, dan seorang anak perempuan yang telah mati, putri Yairus, kepala rumah ibadat.

Kedua kisah ini disatukan dalam satu narasi yang indah. Di tengah kerumunan orang yang berdesakan, ada dua pribadi yang datang kepada Yesus bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk berharap. Mereka datang dengan iman yang mungkin kecil di mata manusia, tetapi sangat besar di hadapan Allah.

Bagi kita yang hidup di zaman digital, penuh distraksi dan kebisingan, Injil ini menjadi renungan Katolik harian yang sangat relevan: bagaimana tetap memiliki iman yang berani “menyentuh” Yesus di tengah keramaian dunia.

1. Perempuan yang Menyentuh Jubah Yesus: Iman yang Rendah Hati

Markus menceritakan seorang perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia sudah menghabiskan seluruh hartanya untuk tabib-tabib, tetapi tidak sembuh, malah semakin parah. Secara sosial dan religius, ia dianggap najis. Ia tidak boleh disentuh, apalagi menyentuh orang lain.

Namun perempuan ini melakukan sesuatu yang tampak sederhana, bahkan diam-diam: ia menyentuh jubah Yesus.

“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mrk 5:28)

Inilah iman yang tidak berisik, tidak pamer, tetapi penuh kepercayaan. Ia tidak menuntut, tidak berteriak, tidak merasa layak. Ia hanya percaya bahwa Yesus cukup.

Dalam dunia hari ini, banyak orang mencari pengakuan, validasi, dan penyembuhan lewat hal-hal yang instan: popularitas, relasi, pencapaian, atau pelarian digital. Tetapi Injil mengingatkan kita bahwa iman Katolik sejati sering kali justru lahir dari kerendahan hati: keberanian untuk mengakui bahwa kita lemah dan membutuhkan Tuhan.

Yesus berhenti. Di tengah kerumunan, Ia memperhatikan satu sentuhan iman. Ia tidak membiarkan mukjizat terjadi secara anonim.

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Mrk 5:34)

Yesus bukan hanya menyembuhkan tubuhnya, tetapi memulihkan martabatnya. Ia menyebutnya “anak-Ku”. Ia mengembalikannya ke dalam relasi.

2. Yairus: Iman yang Bertahan Saat Harapan Seolah Mati

Sementara itu, Yairus datang dengan kegelisahan seorang ayah. Anaknya hampir mati. Ia memohon Yesus datang ke rumahnya. Namun di tengah jalan, kabar buruk datang:

“Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” (Mrk 5:35)
Inilah momen krisis iman. Ketika doa terasa terlambat. Ketika harapan tampak sia-sia. Ketika logika berkata: “Sudah selesai.”

Tetapi Yesus berkata:

“Jangan takut, percaya saja.” (Mrk 5:36)

Kalimat ini adalah inti dari renungan Injil hari ini. Percaya saja. Bukan karena situasi membaik, tetapi karena Yesus hadir.

Yesus masuk ke rumah Yairus, ke ruang duka, ke tempat ratapan. Ia memegang tangan anak itu dan berkata:

“Talita kum!” — “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” (Mrk 5:41)
Dan hidup kembali.

Mukjizat ini bukan sekadar tentang kebangkitan fisik, tetapi tentang kuasa Yesus atas segala bentuk “kematian”: putus asa, luka batin, kehilangan makna, iman yang padam.

3. Dua Kisah, Satu Pesan: Iman yang Menyentuh Hati Allah

Menarik bahwa Injil menggabungkan dua sosok yang sangat berbeda: seorang perempuan anonim dan seorang pemimpin rumah ibadat. Satu dikucilkan, satu dihormati. Satu menyentuh diam-diam, satu memohon terang-terangan. Tetapi keduanya disatukan oleh iman.

Dalam renungan Katolik Markus 5:21-43, kita melihat bahwa iman tidak diukur dari status, latar belakang, atau kesempurnaan hidup. Iman diukur dari keberanian datang kepada Yesus apa adanya.

Yesus menanggapi iman yang rapuh. Ia tidak menuntut iman yang sempurna. Ia hanya meminta satu hal: jangan takut, percaya saja.

4. Relevansi untuk Hidup Kita Hari Ini

Bagi remaja, Gen Z, dan orang tua milenial, Injil ini sangat dekat dengan realitas kita.

Kita seperti perempuan yang sudah “mencoba segalanya”: motivasi, konten rohani, konseling, hiburan, kesibukan… tetapi hati tetap kosong.
Kita seperti Yairus yang membawa doa-doa tentang keluarga, masa depan, kesehatan, dan relasi namun kadang terasa semuanya terlambat.

Yesus hadir hari ini juga. Dalam Ekaristi, dalam doa sunyi, dalam Kitab Suci, dalam Gereja, dalam sesama. Ia masih membiarkan diri-Nya “disentuh” oleh iman.

Pertanyaannya: apakah kita cukup percaya untuk datang kepada-Nya?

Dalam “The Katolik”, renungan seperti ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya konten, bukan hanya tradisi, tetapi relasi yang hidup. Yesus menyembuhkan, memulihkan, dan membangkitkan, bukan hanya di Galilea dua ribu tahun lalu, tetapi juga di kamar kita, di sekolah kita, di kantor kita, di tengah kecemasan kita hari ini.

5. Refleksi Pribadi

Coba renungkan:

Bagian hidup mana yang sedang “berdarah” dan melemahkan imanku diam-diam?
Area mana yang terasa “sudah mati” dan membuatku hampir berhenti berharap?
Apakah aku lebih sering berdesakan dalam “kerumunan” dunia, atau sungguh-sungguh mencari Yesus?
Yesus hari ini berkata kepada kita:

“Jangan takut. Percaya saja.”

Bukan janji hidup tanpa masalah, tetapi janji kehadiran Allah di tengah segala masalah.

6. Doa Penutup

Tuhan Yesus, di tengah kerumunan hidup kami, Engkau tetap melihat iman yang kecil. 

Di saat harapan kami melemah, Engkau tetap memegang tangan kami. Ajarilah kami iman seperti perempuan yang berani menyentuh jubah-Mu.

Ajarilah kami iman seperti Yairus yang tetap berjalan bersama-Mu meski kabar buruk datang. 

Sembuhkanlah luka-luka yang kami sembunyikan. Bangkitkanlah bagian hidup kami yang hampir mati. Kami percaya, Tuhan. Tolonglah kami yang kurang percaya ini. Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.