Doa Berbuka Puasa Nisfu Syaban Hari ini Selasa 3 Februari 2026 Jelang 1 Ramadan 1447 H
February 03, 2026 09:05 AM

TRIBUNKALTENG.COM - Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag), awal bulan Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. 

Dengan demikian, tanggal 15 Syaban jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026, sehingga malam Nisfu Syaban diperingati pada Senin malam, 2 Februari 2026, setelah Magrib.

Baca juga: Murah Promo Alfamart dan Indomaret Hari ini Selasa 3 Februari 2026, Harga Minyak Goreng cek

Baca juga: Harga Emas Antam Hari ini Selasa 3 Februari 2026 Naik Lagi, Penguatan Signifikan Rp 167.000

Pada praktiknya, terdapat beberapa versi doa berbuka puasa yang lazim dibaca oleh umat Islam, termasuk saat berbuka puasa Nisfu Syaban. 

Doa berbuka puasa Nisfu Syaban ini bisa diamalkan. Malam Nisfu Syaban merupakan salah satu malam yang memiliki keutamaan dalam Islam. 

Nisfu Syaban berarti pertengahan bulan Syaban, tepatnya pada tanggal 15 Syaban dalam kalender Hijriah. 

Pada malam dan siangnya, banyak umat Muslim meningkatkan ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta melaksanakan puasa sunnah.

Salah satu amalan yang sering dilakukan adalah puasa Nisfu Syaban, kemudian ditutup dengan doa berbuka puasa. 

Doa berbuka bukan sekadar ucapan sebelum makan, tetapi merupakan bentuk penghambaan, pengakuan iman, dan rasa syukur atas nikmat Allah setelah menahan lapar dan dahaga.

Puasa Nisfu Syaban termasuk dalam puasa sunnah. Secara umum, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Syaban. 

Hal ini menunjukkan bahwa berpuasa di bulan tersebut, termasuk pada pertengahannya, merupakan amalan yang dianjurkan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah selain di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan dasar ini, puasa Nisfu Syaban dipahami sebagai bagian dari puasa sunnah di bulan Syaban. Ketika berbuka, dianjurkan membaca doa sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.

Doa Berbuka Puasa yang Paling Masydur (Diriwayatkan Hadis)

Arab:

ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:

Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.

Artinya:

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, dan semoga pahala telah ditetapkan, jika Allah menghendaki.”

Dalil:

Doa ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah membaca doa tersebut ketika berbuka puasa.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai hasan oleh sebagian ulama. Inilah doa berbuka puasa yang paling kuat dalilnya dan dianjurkan untuk dibaca, termasuk saat berbuka puasa Nisfu Syaban.

Makna doa ini sangat dalam. Rasulullah tidak hanya menyebut hilangnya dahaga secara fisik, tetapi juga menggantungkan harapan pahala kepada kehendak Allah, menunjukkan adab tawaduk dan keikhlasan dalam ibadah.

2. Doa Berbuka Puasa yang Populer di Tengah Masyarakat

Arab:

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Latin:

Allaahumma laka shumtu wabika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Artinya:

“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Doa ini sangat populer di Indonesia dan sering dibaca saat berbuka puasa, termasuk puasa Nisfu Syaban. 

Secara makna, doa ini sangat baik karena mengandung unsur tauhid, iman, syukur, dan pengakuan bahwa rezeki berbuka berasal dari Allah.

Doa berbuka puasa Nisfu Syaban memiliki keutamaan karena dibaca pada waktu mustajab, yaitu saat berbuka puasa, sekaligus di bulan Syaban yang penuh keberkahan. 

Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang berpuasa ketika berbuka tidak akan ditolak (HR. Ibnu Majah).

Doa ini menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah setelah menahan lapar dan dahaga, sekaligus penyempurna ibadah puasa sunnah Nisfu Syaban. 

Dalam lafaz doa berbuka juga terkandung harapan agar pahala puasa ditetapkan oleh Allah, menunjukkan sikap rendah hati dan keikhlasan seorang hamba.

Selain itu, doa berbuka puasa Nisfu Syaban menjadi momentum memohon ampunan dan persiapan spiritual menjelang bulan Ramadan. 

Dengan memanjatkan doa di waktu ini, seorang Muslim berharap mendapatkan rahmat, keberkahan, serta kesiapan iman untuk menyambut bulan suci.

Ustadz Abdul Somad memberikan penjelasan bila mengalami hal seperti tersebut di atas.

Apakah puasa Nisfu Sya'ban sah atau tidak? UAS mengingatkan tak masalah sepanjang belum ada hal membatalkan puasa.

Namun hal ini berlaku untuk umat muslim yang melaksanakan puasa sunah, seperti Senin-Kamis maupun Nisfu Syakban.

Ustadz Abdul Somad memberikan penjelasan untuk bisa tetap melaksanakan puasa Senin Kamis maupun puasa sunah lainnya.

Bila pun lupa berniat puasa Senin Kamis di malam hari karena tidak sahur atau memang lupa sama sekali, maka masih bisa melaksanakan sepanjang keesokan paginya belum ada melakukan hal membatalkan puasa.

Sebelum puasa keesokan harinya, pastinya niat dan puasa sahur umumnya dilakukan umat muslim di malam harinya.

Lalu bagaimana misalnya terbangun sudah masuk shalat subuh dan lupa mengucapkan niat maupun bersahur?

Begini penjelasan dari Ustadz Abdul Somad (UAS) mengenai lupa niat dan sahur untuk mengerjakan puasa sunah.

Bagi yang mengalami hal ini, tak usah khawatir. Sepanjang belum melakukan hal membatalkan puasa, silakan saja puasa Nisfu diteruskan.

Niat puasa bisa dibaca meskipun waktu imsak telah lewat.

Simak penjelasannya dari Ustadz Abdul Somad (UAS), berikut ini.

Terlupa membaca niat puasa sunah bisa saja terjadi lantaran tak sempat bersahur.

Bagi yang mengalami hal seperti itu, tak usah khawatir untuk bisa berpuasa.

Menurut Madzhab Syafi'i boleh atau sah hukumnya membaca niat puasa senin kamis atau puasa sunnah lainnya setelah waktu subuh.

Selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, sejak waktu subuh.

Seperti makan, minum, merokok, berhubungan suami istri, muntah dengan sengaja, haid/nifas, memasukkan benda ke dalam tubuh secara sengaja, mengeluarkan air mani secara sengaja dan murtad atau keluar dari Islam.

Hal ini dijelaskan Ustadz Abdul Somad dalam ceramahnya yang diunggah di YouTube berjudul "Hukum Puasa Lupa Niat - Ustadz Abdul Somad".

Boleh membaca niat puasa sunnah setelah waktu Shubuh didasarkan pada hadist nabi, atau dalil berikut:

Hadits riwayat Muslim dari ummul mukminin Sayyidah Aisyah RA.

“Dari Aisyah, ummul mukminin RA, ia bercerita, ‘Suatu hari Nabi Muhammad SAW menemuiku. Ia berkata, ‘Apakah kamu memiliki sesuatu (yang dapat kumakan)?’ Kami jawab, ‘Tidak.’ ‘Kalau begitu aku puasa saja,’ kata Nabi. Tetapi pada hari lain, Rasul pernah menemui kami. Kami katakan kepadanya, ‘Ya rasul, kami memiliki hais, makanan terbuat dari kurma dan tepung, yang dihadiahkan oleh orang.’ ‘Perlihatkan kepadaku meski aku sejak pagi berpuasa,’ kata Nabi. Ia lalu memakannya,’” (HR Muslim).

Bacaan Niat Puasa Nisfu Syakban

Bacaan Niat Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban

1. Puasa Nisfu Sya'ban

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnati Sya'bana lillaahi ta'aalaa

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syaban esok hari karena Allah Ta'ala.

2. Puasa Senin Kamis

Niat Puasa Hari Senin:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi taa'ala

Artinya:

Saya niat puasa pada hari Senin, sunat karena Allah Ta’aalaa.

3. Niat Puasa Hari Kamis:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala

Artinya:

Saya niat puasa pada hari Kamis, sunat karena Allah Ta’aalaa.

4. Puasa Ayyamul Bidh

Adapun niat melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh adalah sebagai berikut:

َوَيْتُ صَوْمَ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

Lafal latin:

NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya:

“Saya niat puasa pada hari-hari putih , sunnah karena Allah ta’ala.”

Lantas batas waktu membaca niat puasa sunnah sampai kapan?

Melansir Rumasyo.com, Batasan waktu niat puasa sunnah ini ada dua pendapat.

Pertama, tidak boleh setelah pertengahan siang sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan murid-muridnya.

Kedua, boleh sebelum atau sesudah waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat) karena tidak disebutkan batasan dalam hal ini. Inilah al qoul jadid (pendapat terbaru) dari Imam Syafi’i dan jadi pegangan Imam Ahmad. 

(Tribunkalteng.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.