SRIPOKU.COM, MUARADUA- Bencana tanah longsor menutup total akses jalan satu-satunya menuju Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Sindang Danau, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan. Akibat kejadian tersebut, aktivitas dan mobilitas warga desa lumpuh total.
Peristiwa tanah longsor itu terjadi pada Minggu malam, 1 Februari 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi sejak sore hari. Hujan deras yang berlangsung cukup lama membuat kondisi tanah menjadi labil hingga akhirnya longsor dan menimbun badan jalan desa.
Material longsoran berupa tanah bercampur bebatuan menutup seluruh ruas jalan, sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat sama sekali tidak bisa melintas. Jalan tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung Desa Tanjung Harapan dengan desa lain dan pusat kecamatan.
Selain menghambat aktivitas warga, tertutupnya jalan tersebut juga berdampak pada distribusi kebutuhan pokok serta akses layanan darurat, termasuk kesehatan dan logistik.
Mengetahui kejadian tersebut, Pemerintah Desa Tanjung Harapan bersama masyarakat setempat langsung bergerak cepat melakukan gotong royong membersihkan material longsor.
Warga menggunakan peralatan seadanya untuk membuka akses jalan agar bisa dilalui, setidaknya untuk pejalan kaki.
Namun, upaya pembersihan secara manual tidak berjalan maksimal. Kondisi tanah di sekitar lokasi longsor masih sangat labil dan berisiko terjadi longsor susulan, terutama jika hujan kembali turun.
“Kami sudah coba bersihkan bersama-sama, tapi tanahnya masih bergerak. Kami khawatir terjadi longsor susulan yang bisa membahayakan warga,” ujar salah seorang warga setempat.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten OKU Selatan langsung melakukan koordinasi lintas instansi untuk penanganan lebih lanjut. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah penurunan alat berat ke lokasi guna mempercepat proses pembersihan material longsor dan membuka kembali akses jalan desa.
Bupati OKU Selatan, Abusama, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana tanah longsor tersebut. Ia meminta masyarakat untuk tidak memaksakan diri beraktivitas di sekitar lokasi longsor.
“Saat ini kondisi tanah masih sangat labil. Kami meminta masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari area longsor demi keselamatan bersama. Pemerintah daerah sedang berupaya maksimal agar akses jalan bisa segera dibuka,” kata Abusama, Selasa (3/2/2026).
Selain itu, Abusama juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi arahan petugas di lapangan dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda pergerakan tanah yang berpotensi menimbulkan longsor susulan.
“Jika ada retakan tanah, pohon miring, atau tanda-tanda lain yang mencurigakan, segera laporkan kepada aparat desa atau pihak berwenang agar bisa ditindaklanjuti secepatnya,” ujarnya.