Emas Dunia Bangkit Usai Koreksi Tajam, Antrean Pembeli Tetap Panjang
kumparanBISNIS February 03, 2026 09:57 AM
Harga emas dunia kembali menguat setelah sempat terkoreksi tajam dari rekor tertingginya pekan lalu. Di tengah volatilitas tersebut, minat beli investor ritel justru menunjukkan ketahanan, dengan antrean pembeli emas masih terlihat di sejumlah pusat keuangan Asia-Pasifik seperti Singapura, Sydney, dan Thailand.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas berada di level USD 4.731,50 per troy ounce, naik USD 70,12 AS atau 1,50 persen, pada perdagangan Senin (2/2/2026) pukul 18.45 waktu New York (EST).
Sepanjang hari, harga emas bergerak di kisaran USD 4.660,98–4.763,35 per troy ounce, dibandingkan penutupan sebelumnya di 4.661,38 dolar AS. Secara year to date (YTD), emas telah menguat 7,91 persen.
Kenaikan harga ini terjadi setelah emas mengalami pembalikan arah sejak Jumat lalu, menyusul reli panjang yang didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Federal Reserve.
Meski demikian, koreksi harga justru dimanfaatkan investor ritel untuk menambah kepemilikan emas. Bloomberg melaporkan, antrean pembeli masih terlihat di Singapura pada hari Senin, mencerminkan kuatnya permintaan ritel terhadap logam mulia.
Di kantor pusat United Overseas Bank Ltd., satu-satunya bank di Singapura yang menawarkan emas fisik kepada investor ritel, pembeli yang datang langsung memadati ruang khusus transaksi emas batangan.
“Saya datang untuk membeli karena harga emas turun hari ini,” kata Ng Beng Choo.
Perbesar
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock
Pensiunan berusia 70-an itu mengatakan dia tiba dan mendapatkan tiket pada pukul 9:30 pagi, tetapi masih menunggu dipanggil lebih dari enam jam kemudian.
Fenomena serupa juga terjadi di Australia. Di pusat kota Sydney, antrean panjang pembeli dilaporkan mengular hingga ke jalan dari gerai ABC Bullion di dekat Martin Place.
“Saya kehilangan banyak uang” pada hari Jumat, tetapi besok adalah hari baru,” kata Alex, seorang pria berusia 20-an yang mengantre di luar toko Sydney untuk membeli emas batangan.
Singapura tetap menjadi tujuan utama pembelian emas fisik karena statusnya sebagai pusat kekayaan global serta kebijakan bebas pajak untuk emas batangan berkualitas investasi maupun keuntungan modal.
Investor ritel tampaknya masih bertaruh bahwa faktor pendorong utama kenaikan harga emas belum sepenuhnya hilang. Ketidakpastian kebijakan Trump dan tren pelemahan nilai mata uang global di mana investor menjauhi mata uang serta obligasi pemerintah, dinilai masih menopang prospek emas.
Pandangan optimistis ini juga dianut oleh Deutsche Bank AG, yang dalam catatan pada Senin menegaskan tetap mempertahankan proyeksi harga emas mencapai USD 6.000 per ons.
Sementara itu di Thailand, investor emas cenderung memilih bertahan. Menurut pelaku pasar setempat, kepemilikan emas lebih banyak disimpan ketimbang dilepas di tengah volatilitas harga.
“Tren pembelian masih berlanjut di Thailand,” kata Kuhapremkit.
“Mereka mempertahankan posisi lama dan hanya menahannya lalu melihat perkembangannya,” imbuhnya.