Berkat Infak Tetangga di Kencleng Warga, Rumah Lansia Ciamis yang Ambruk Kini Berdiri Lagi
February 03, 2026 11:27 AM

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Eben (67) selain melihat kembali rumahnya berdiri, meski masih dalam tahap pembangunan. 

Seorang lansia yang tinggal di Lingkungan Janggala, Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis itu sempat kehilangan tempat berteduh setelah rumah tuanya ambruk diterjang hujan deras dan angin kencang.

Peristiwa itu terjadi sekitar satu bulan lalu. Rumah yang telah puluhan tahun ditempati Eben bersama cucunya roboh seketika akibat kondisi bangunan yang sudah lapuk. 

Kayu-kayu penyangga yang rapuh tak lagi mampu menahan beban ketika cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut.

“Rumah saya memang sudah tua dan usang. Pas hujan deras dan angin kencang, langsung roboh,” ujar Eben, Selasa (3/2/2026).

Sejak kejadian itu, Eben terpaksa mengungsi dan menumpang di rumah anaknya yang letaknya tak jauh dari lokasi rumahnya. 

Namun ironisnya, kondisi rumah sang anak pun tak jauh berbeda, sudah tua dan mulai rapuh, sehingga membuat Eben merasa khawatir.

“Sekarang sementara tinggal di rumah anak saya. Nunggu rumah ini selesai supaya bisa ditempati lagi,” katanya lirih.

Harapan baru pun datang. Di lahan bekas rumahnya yang sempat rata dengan tanah, kini kembali terdengar suara palu, gergaji, dan adukan semen. 

Rumah Eben dibangun ulang melalui program Satu Bulan Satu Rutilahu yang digagas Unit Pengelola Zakat (UPZ) Kelurahan Ciamis.

Berbeda dengan bantuan berskala besar, pembangunan rumah Eben berasal dari infak kencleng warga. 

Sumbangan kecil yang dikumpulkan secara rutin dari masyarakat satu kelurahan menjadi kekuatan utama program tersebut.

Program Satu Bulan Satu Rutilahu merupakan gerakan sederhana namun berdampak nyata. 

Setiap bulan, infak kencleng yang dikumpulkan dari warga Kelurahan Ciamis digunakan untuk membantu pembangunan satu rumah tidak layak huni bagi warga yang membutuhkan.

Pembangunan rumah Eben pun dilakukan secara swadaya dengan melibatkan warga sekitar. 

Gotong royong menjadi pemandangan sehari-hari di lokasi pembangunan.

“Bagi saya, bantuan ini bukan hanya soal rumah, tapi juga harapan. Terima kasih banyak kepada semua warga yang sudah membantu,” ucap Eben dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Bendahara UPZ Kelurahan Ciamis, Anen Suhendi, menjelaskan bahwa gerakan infak kencleng ini melibatkan 32 RW yang ada di wilayah Kelurahan Ciamis. 

Melihat masih banyaknya warga yang tinggal di rumah tidak layak huni, UPZ memutuskan untuk memfokuskan program rutilahu selama satu tahun penuh.


“Target kami jelas, satu bulan satu rutilahu, dengan anggaran sekitar Rp 10 juta per rumah. Program ini sudah berjalan sejak Desember 2025 dan Januari 2026, artinya sudah dua rumah yang berhasil kami bantu,” jelas Anen.

Ia menambahkan, seiring berjalannya program, tingkat kepercayaan dan partisipasi masyarakat justru semakin meningkat. 

Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah infak yang terkumpul setiap bulannya.

“Awalnya, dana dari kencleng hanya sekitar Rp 2 juta per bulan. Tapi sekarang alhamdulillah bisa mencapai Rp 20 sampai Rp 21 juta per bulan. Antusias dan kepedulian masyarakat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Anen, meningkatnya dana infak tersebut memungkinkan UPZ tidak hanya fokus pada satu rumah, tetapi juga membuka peluang untuk membantu kebutuhan sosial lainnya di masa mendatang.

Sementara itu, Lurah Ciamis, Muhlaso, mengapresiasi kekompakan warga dan kerja keras UPZ Kelurahan Ciamis dalam mengelola program tersebut. 

Ia menilai gerakan infak kencleng menjadi bukti nyata bahwa nilai gotong royong masih hidup dan kuat di tengah masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh warga Kelurahan Ciamis yang terus berpartisipasi dalam gerakan infak kencleng. Juga kepada UPZ yang telah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” kata Muhlaso.

Ia berharap program Satu Bulan Satu Rutilahu dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam upaya mengatasi persoalan rumah tidak layak huni melalui kekuatan kebersamaan warga.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.