Insiden ledakan petasan yang menimpa kiper Cremonese, Emil Audero membuat kapten Inter Milan Lautaro Martinez dan presiden klub, Beppe Marotta tak tinggal diam.
Insiden memalukan itu terjadi tepat pada menit 48 ketika Inter Milan membangun serangan ke pertahanan Cremonese, Senin (2/2/2026).
Mendadak, bunyi dentuman keras menggema di Stadion Giovanni Zini, markas Cremonese.
Dari arah gawang tuan rumah, asap putih membumbung tebal, menutupi Emil Audero yang tersungkur jatuh.
Sontak para pemain Inter Milan dan Cremonese menghentikan permainan, kemudian bergegas menghampiri kiper asal Indonesia itu.
Usut punya usut, ledakan tersebut dipicu dari petasan yang dilemparkan penonton di tribun pendukung Inter Milan, tepat di belakang gawang Emil Audero.
Petasan tersebut mengenai Audero, hingga terkejut dan tumbang di lapangan, sembari memegang telinganya.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu tampak berlari menuju arah tribun penonton, seolah mempertanyakan apa yang terjadi pada fans yang tidak berguna.
Seluruh elemen di Inter Milan juga langsung mengecam insiden itu.
Kapten Inter Milan, Lautaro Martinez mengutuk tindakan tersebut. Menurutnya tindakan itu sangat berbahaya bagi para pemain di lapangan.
Terlebih, Lautaro Martinez menyesalkan insiden tersebut menimpa Emil Audero yang notabene mantan kiper Inter Milan.
"Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, kami adalah manusia dan pemain, ini membahayakan kami," kata Lautaro Martinez kepada DAZN.
Penyerang asal Argentina ini meminta maaf kepada Audero dan fans Cremonese atas perlakuan fans dari tribun penonton Inter Milan.
"Kami perlu meminta maaf kepada Audero, juara bintang kedua bersama kami, dan kepada para penggemar Cremona," tuturnya.
Presiden Beppe Marotta juga turut mengutuk keras ledakan petasan yang dilemparkan ke lapangan.
"Pihak berwenang akan menangkap orang yang bertanggung jawab. Kecaman Inter Milan sepenuhnya atas apa yang terjadi sangat tegas dan menyeluruh. Suatu tindakan yang benar-benar tidak masuk akal," tegas Marotta.
Ia menilai aksi ceroboh itu tak seharusnya terjadi saat pertandingan berjalan.
Marotta meyakini tindakan tersebut bukan dilakukan fans sejati Nerazzurri, oleh sebab itu meminta pihak berwenang mengambil sikap tegas.
"Nilai-nilai olahraga benar-benar jauh dari apa yang kita lihat. Pihak berwenang sedang menyelidiki tindakan terisolasi, dan menurut saya semua penggemar Inter sepakat: sepak bola harus benar-benar menjauhkan diri dari insiden-insiden seperti ini," ungkapnya.
Marotta mengapresiasi respons Emil Audero yang memilih melanjutkan pertandingan.
Bisa saja Audero sakit hati dan memutuskan tak melanjutkan permainan.
Andai itu terjadi, maka Inter Milan bisa kalah WO 0-3. Beruntung, Audero menunjukkan profesionalisme tinggi.
"Kami mengutuk ini dengan sekeras-kerasnya. Dan kami juga berterima kasih kepada Audero atas profesionalismenya," kata Marotta.
Senada dengan itu, bek Nerazzurri, Alessandro Bastoni menganggap tindakan ceroboh tersebut sangat merugikan pemain dan klub.
"Apa yang terjadi pada Audero adalah insiden yang benar-benar harus dikutuk. Saya sependapat dengan Presiden Marotta dan Lautaro yang sebelumnya juga sudah berbicara: hal-hal seperti itu harus dihindari," kata Bastoni.
"Terlepas dari bendera dan warna, itu adalah hal yang sangat berbahaya dan harus benar-benar dihindari," tambahnya.
Bastoni sekali lagi mengingatkan fans Inter Milan, sosok Emil Audero bukan orang lain lantaran pernah menjadi bagian Nerazzurri di masa lalu.
Kendati kebersamaan kiper Indonesia tersebut singkat di Inter Milan, namun Emil Audero pernah merasakan 6 caps bersama Nerazzurri.
Bahkan Emil Audero ikut menyumbangkan dua trofi bergengsi yang diraih Inter Milan, Scudetto bintang kedua dan Super Coppa Italia musim 2023/2024.
"Saya menyampaikan solidaritas penuh kepada Emil Audero, yang kebetulan juga pernah menjadi rekan kami. Saya berharap kejadian-kejadian seperti ini tak pernah terjadi lagi," tegas Bastoni.
Akibat insiden itu, hukuman berat menanti Inter Milan, kendati menurut sumber investigasi, penggemar tersebut tidak tergabung dalam fans Nerazzurri mana pun.
Tetapi insiden tersebut fatal dan terjadi dari arah tribun yang dihuni penonton tim tamu.
Mantan wasit Italia, Luca Marelli menilai Inter Milan terancam hukuman berat, baik itu bermain tanpa penonton maupun denda besar.
Hal tersebut diungkapkan Marelli kepada DAZN baru-baru ini.
"Inter berisiko didenda sangat besar. Tetapi Curva juga berisiko dalam hal pembatasan jumlah penonton," kata Luca Marelli yang kini bekerja sebagai pakar wasit dan komentator teknis untuk DAZN.
Menurutnya insiden ini serius, sehingga harus ada hukuman tegas yang memungkinkan Inter Milan mengalami kerugian.
"Hakim Olahraga harus mengevaluasi laporan tersebut. Insiden ini serius, dan oleh karena itu akan ada denda besar dan mungkin sanksi tambahan, seperti pembatasan di curva penonton. Penutupan stadion adalah pilihan yang kurang memungkinkan jika belum ada peringatan sebelumnya," ungkapnya.
Kabarnya, pelaku pelemparan petasan ke lapangan kemarin yang meledak di dekat Emil Audero, saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Maggiore di Cremona.
Ia tampaknya mengalami cedera tangan, bukan saat melempar petasan yang jatuh di dekat kiper berdarah Indonesia, tetapi saat mencoba melempar alat kedua ke lapangan, yang meledak di tangannya.
Pelaku mengalami cedera serius pada ruas dua jarinya dan kemungkinan akan dipindahkan ke pusat perawatan khusus dalam beberapa jam ke depan.
Diidentifikasi oleh petugas polisi di stadion, keberadaannya masih sedang diselidiki.
Ia bisa ditangkap dengan tuduhan kriminal, maupun disanksi seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.