TRIBUNNEWS.COM - Gelombang kemarahan disampaikan sejumlah pejabat Ukraina terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, setelah dirinya secara terbuka menyuarakan keinginannya untuk mengakhiri sanksi pengasingan Rusia dari panggung sepak bola internasional.
Pernyataan kontroversial Gianni Infantino ini disampaikan dalam sebuah wawancara bersama Sky Sports pada Senin (2/2/2026).
Seperti yang diketahui sebelumnya, Rusia secara resmi dilarang berkompetisi oleh FIFA dan UEFA dari seluruh kompetisi sepak bola internasional pada tanggal 28 Februari 2022 lalu.
Adapun keputusan tersebut diambil hanya empat hari setelah Rusia melakukan invasi skala penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Kini hampir 4 tahun setelah sanksi diberikan, Infantino tampaknya mulai berubah pikiran.
Di dalam wawancara tersebut, Infantino memberikan sinyal hijau untuk mempertimbangkan pencabutan larangan terhadap Rusia.
"Tentu saja kita harus (mempertimbangkannya)," ujar Infantino.
Ia berargumen bahwa isolasi olahraga hanya memicu "frustrasi dan kebencian."
Infantino juga menilai sanksi yang selama ini diberikan kepada Rusia tak memberikan dampak baik bagi semua pihak.
"Larangan ini tidak menghasilkan apa pun, malah hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian," kata Infantino kepada Sky Sports.
Ia menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya seharusnya tidak menghukum atlet atas tindakan pemimpin politik mereka.
Baca juga: Mengenal Rudal S-500 Prometheus Milik Rusia, Resmi ‘Tugas Tempur’
Bahkan, ia mengeklaim bahwa mengizinkan anak-anak Rusia bertanding kembali di Eropa dapat membantu memperbaiki situasi.
"Dengan adanya kemungkinan anak perempuan dan laki-laki dari Rusia dapat bermain sepak bola di bagian lain Eropa, itu akan sangat membantu situasi yang ada." pungkas Infantino
Pernyataan Infantino ini pun memicu reaksi keras dari para pemimpin politik dan olahraga Ukraina yang menganggap langkah tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang tengah berlangsung.
Kecaman pertama dilayangkan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha.
Dikutip dari The Star, Sybiha menilai pernyataan Infantino tersebut menunjukkannya sebagai sosok yang tidak bermoral.
Sybiha mengingatkan dunia bahwa ratusan anak Ukraina tidak akan pernah lagi bisa bermain sepak bola karena telah kehilangan nyawa akibat agresi Rusia.
Ia menegaskan bahwa mengusulkan pencabutan larangan saat perang masih berkecamuk adalah sebuah aib sejarah yang mengingatkan pada suasana Olimpiade 1936 di bawah rezim Nazi.
Senada dengan Sybiha, kecaman juga dilontarkan Menteri Olahraga Ukraina, Matvii Bidnyi
Bidnyi menilai pandangan Infantino sangat tidak bertanggung jawab dan terputus dari realitas.
Guna membantah klaim Infantino tersebut, Bidnyi pun menceritakan sejumlah kisah memilukan yang dialami oleh warganya yang menggemari olahraga terutama sepakbola.
Pertama, Bidnyi membahas sosok Illia Perezhogin, seorang siswa di Mariupol yang tewas terkena rudal saat bermain bola di stadion sekolahnya.
Selain itu, Bidnyi juga membahas Viktoriia Kotliarova, juara futsal yang tewas bersama ibunya akibat serangan artileri di Kyiv.
Baginya, selama simbol nasional Rusia terus dipolitisasi untuk mendukung invasi, negara tersebut tidak memiliki tempat dalam komunitas yang menjunjung tinggi keadilan dan integritas.
Kritik terhadap FIFA juga disampaikan CEO klub sepakbola Ukraina Shakhtar Donetsk, Sergei Palkin
Palkin menilai ucapan Infantino tersebut merupakan wujud sejarah kedekatan sang presiden FIFA dengan Kremlin.
Baca juga: Rusia Turun Tangan, Tawarkan Jalan Damai di Tengah Bara Konflik Iran VS AS
Guna membuktikan klaim tersebut, Palkin pun menyoroti pemberian Penghargaan Persahabatan dari Vladimir Putin kepada Infantino pada 2019 sebagai bukti hubungan yang terlalu erat.
Palkin berpendapat bahwa pembiaran FIFA terhadap Rusia di masa lalu, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia 2018 setelah pencaplokan Krimea, justru memberi rasa percaya diri kepada Putin untuk melanjutkan agresi militer yang lebih luas.
Selain kecaman sejumlah pejabat, Asosiasi Sepak Bola Ukraina (UFA) juga secara resmi mendesak FIFA untuk tidak mengubah posisi mereka terhadap Rusia.
UFA meyakini bahwa penangguhan Rusia bukan sekadar simbol, melainkan metode tekanan yang efektif terhadap negara agresor.
Reintegrasi tim nasional Rusia ke kompetisi internasional saat jutaan warga Ukraina masih menderita tanpa akses listrik dan air akibat serangan udara dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan dan integritas dunia olahraga.
Sebagai pengingat, sejarah pengasingan Rusia dari dunia sepakbola internasional ini bermula pada 28 Februari 2022, hanya empat hari setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.
Saat itu, FIFA dan UEFA mengambil langkah darurat setelah mendapat tekanan hebat dari berbagai federasi sepak bola Eropa terutama Polandia, Swedia, dan Inggris yang menolak keras bertanding melawan Rusia di lapangan hijau.
Keputusan ini memaksa Rusia kehilangan haknya di berbagai ajang bergengsi.
Baca juga: Serangan Drone Rusia Hantam Bus Penambang di Ukraina, 12 Orang Tewas dan 7 Lainnya Terluka
Akibat sanksi dari FIFA, Rusia dicoret dari gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar serta Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada
Di tingkat UEFA, Rusia juga gagal tampil di ajang Euro Wanita 2022 serta Euro 2024
Sementara itu pada tingkat Kompetisi Antarklub Eropa, Klub-klub raksasa Rusia seperti Spartak Moscow, Zenit St. Petersburg, dan CSKA Moscow didepak dari Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League.
(Tribunnews.com/Bobby)