TRIBUNSUMSEL.COM -- Salah satu cara mencegah penyakit kanker, adalah dengan melakukan skiring awal sedini mungkin.
Ada beberapa jenis skrining kanker yang dapat dimanfaatkan oleh kita semua sebagai langkah awal mengetahui apakah berpotensi terkena kanker, meskipun harus dilanjutkan dengan tes-tes berikutnya.
Berikut tribunsumsel.com sajikan beberapa jenis skiring awal kanker yang dapat kita manfaatkan.
Tumor marker adalah zat (protein/antigen) yang bisa meningkat pada kondisi kanker tertentu.
Jenis-jenisnya:
1. Test CEA (Carcinoembryonic Antigen)
Tes CEA (Carcinoembryonic Antigen) adalah pemeriksaan darah untuk mengukur kadar protein penanda tumor (biomarker) yang umum digunakan memantau efektivitas pengobatan kanker serta mendeteksi kekambuhan kanker.
Tes CEA dapat untuk mengetahui terkait: Kanker kolorektal, paru, payudara, pankreas, hati, tiroid, kanker usus besar dll.
Jika Anda telah didiagnosis menderita kanker yang dapat menyebabkan kadar CEA tinggi, tes CEA dapat membantu penyedia layanan kesehatan Anda mempelajari lebih lanjut tentang kanker Anda dan peluang kesembuhan Anda.
Tes ini sering digunakan bersamaan dengan tes lain untuk memeriksa apakah pengobatan kanker berhasil.
Tes CEA hanya sebagai skirin awal, dan harus ditindaklanjuti dengan skrining lanjutan.
Hal ini karena:
Jenis kanker yang biasanya menyebabkan kadar CEA tinggi tidak selalu menyebabkannya. Anda dapat memiliki kadar CEA normal meskipun Anda menderita salah satu jenis kanker tersebut.
Banyak masalah kesehatan lain yang bukan kanker dapat menyebabkan kadar CEA yang tinggi, termasuk kondisi tertentu yang memengaruhi hati, pencernaan, atau pernapasan.
2. AFP (Alpha Fetoprotein)
Tes penanda tumor AFP adalah tes darah yang mengukur kadar AFP (alfa-fetoprotein) dalam sampel darah.
Tes ini biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis jenis kanker tertentu dan untuk memeriksa seberapa efektif pengobatan yang diberikan.
AFP adalah protein yang diproduksi hati ketika sel-selnya tumbuh dan membelah untuk membuat sel-sel baru. Kadar AFP normalnya tinggi pada bayi yang belum lahir.
Setelah lahir, kadar AFP turun sangat rendah. Anak-anak dan orang dewasa sehat yang tidak hamil memiliki kadar AFP yang sangat rendah dalam darah mereka.
Tesk AFP dapat mendiagnosis terkait: Kanker hati (Hepatoseluler), tumor testis dll
Sering dipakai pada: Pasien hepatitis B/C kronis
Kelebihan: Cukup sensitif untuk kanker hati
3. PSA (Prostate Specific Antigen)
Antigen spesifik prostat, atau PSA, adalah protein yang diproduksi oleh sel-sel normal maupun ganas dari kelenjar prostat. Baik kanker prostat maupun beberapa kondisi jinak (terutama hiperplasia prostat jinak , atau BPH, dan prostatitis ) dapat menyebabkan kadar PSA dalam darah meningkat.
PSA terkait gejala : Kanker prostat
Sasaran: Pria usia ≥50 tahun (atau ≥45 berisiko tinggi)
Catatan: Bisa meningkat karena prostatitis/pembesaran prostat
4. CA-125
CA-125 (Cancer Antigen 125) adalah protein penanda tumor (biomarker) dalam darah yang sering digunakan untuk mendeteksi, memantau, dan mengelola kanker ovarium (indung telur).
Kadar CA-125 yang tinggi dapat mengindikasikan kanker, tetapi juga bisa disebabkan oleh kondisi non-kanker seperti endometriosis, menstruasi, atau infeksi panggul.
CA 125 adalah skrining awal terkait: Kanker ovarium
Keterbatasan: Bisa meningkat saat haid, kista, endometriosis
Lebih berguna: Monitoring, bukan skrining massal
5. CA 19-9
CA 19-9 adalah protein penanda tumor yang berada di usus besar, lambung, dan saluran empedu.
Jika dalam pemeriksaan zat ini muncul, ada kemungkinan pasien menderita kanker pankreas stadium lanjut. Meski begitu, adanya CA 19-9 di dalam tubuh tidak selalu berarti pasien menderita kanker.
Terkait: Kanker pankreas & saluran empedu
Catatan: Tidak spesifik, digunakan sebagai pendukung
6. CA 15-3 / CA 27-29
CA 15-3 dan CA 27-29 adalah penanda tumor (tumor marker) dalam darah yang utamanya digunakan untuk memantau efektivitas pengobatan dan mendeteksi kekambuhan pada kanker payudara stadium lanjut.
Terkait: Kanker payudara
Fungsi utama: Monitoring terapi & kekambuhan
Pap smear adalah prosedur medis skrining untuk mengambil dan memeriksa sampel sel dari leher rahim (serviks) di bawah mikroskop, bertujuan mendeteksi dini kanker serviks atau sel-sel pra-kanker yang berpotensi menjadi kanker.
Prosedur ini sangat krusial bagi wanita yang aktif secara seksual atau berusia di atas 21 tahun untuk mencegah kanker serviks
Untuk: Kanker serviks
Sasaran: Perempuan usia 21–65 tahun
Frekuensi: Tiap 3 tahun (atau sesuai anjuran)
2. IVA Test (Inspeksi Visual Asam Asetat)
Alternatif Pap Smear
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) adalah metode skrining kanker serviks yang cepat, mudah, dan terjangkau, dilakukan dengan mengoleskan asam asetat (3-5 persen) ke leher rahim untuk mendeteksi lesi pra-kanker.
Sel abnormal akan berubah menjadi warna putih (acetowhite) setelah diolesi cairan, memberikan hasil instan bagi petugas kesehatan. Metode ini disarankan terutama bagi wanita usia subur (30-59 tahun) yang sudah pernah melakukan hubungan seksual
Kelebihan: Murah, cepat, cocok layanan primer
Target: Deteksi dini kanker serviks
IVA Test dapat dilakukan secara gratis di puskesmas-puskesmas terdekat dengan atau tanpa BPJS Kesehatan.
3. Tes HPV DNA
Tes HPV DNA adalah prosedur skrining untuk mendeteksi keberadaan materi genetik (DNA) dari tipe Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang dapat memicu kanker leher rahim (serviks).
Tes ini lebih sensitif dibanding Pap Smear karena langsung mendeteksi virus penyebab, bukan perubahan sel, dan disarankan bagi wanita usia 30-65 tahun setiap 3-5 tahun sekal
Untuk: Infeksi HPV risiko tinggi
Keunggulan: Deteksi lebih awal sebelum perubahan sel
4. FOBT / FIT (Tes Darah Samar Feses)
FOBT (Fecal Occult Blood Test) dan FIT (Fecal Immunochemical Test) adalah metode skrining non-invasif untuk mendeteksi darah samar (tersembunyi) dalam feses, yang mengindikasikan pendarahan saluran pencernaan akibat polip, wasir, radang, atau kanker kolorektal.
FIT lebih spesifik mendeteksi hemoglobin manusia daripada gFOBT (berbasis guaiac) dan tidak memerlukan pantangan makanan.
Untuk: Kanker usus besar
Sasaran: Usia ≥45–50 tahun
Jika positif: Dilanjutkan kolonoskopi
Untuk: Kanker payudara
Sasaran: Perempuan ≥40 tahun
Gold standard skrining payudara
2. USG (Ultrasonografi)
Digunakan untuk: Payudara, hati, tiroid, ovarium
Kelebihan: Aman, tanpa radiasi
3. Low-Dose CT Scan Paru
Untuk: Kanker paru
Sasaran: Perokok berat usia 50–80 tahun
1. SADARI (Periksa Payudara Sendiri)
Dilakukan: Setiap bulan
Tujuan: Deteksi benjolan sejak dini
2. Pemeriksaan Kulit
Untuk: Kanker kulit (melanoma)
Tanda bahaya: Perubahan bentuk, warna, ukuran tahi lalat
Catatan Penting penting dari skrining ini perlu diingat bahwa:
Demikian Apa Itu CEA, IVA Test, HPV DNA, Macam-macam Jenis Skrining Awal Tes Deteksi Kanker, Ada yang Gratis. Semoga bermanfaat. (lis/berbagai sumber)
Baca juga: Mengenal 15 Macam Kanker dan Penyebabnya, Gejala & Cara Pencegahan Momentum Hari Kanker Sedunia 2026
Baca juga: Contoh Sambutan Hari Kanker Sedunia 2026 dan Caption Peduli Kanker untuk Medsos dan Poster
Baca juga: Contoh Sambutan Hari Kanker Sedunia 2026 dan Caption Peduli Kanker untuk Medsos dan Poster
Baca juga: Sejarah, Tema dan Tujuan Peringatan Hari Kanker Sedunia Diperingati Setiap 4 Februari