TRIBUNTORAJA.COM - Ramadan 1447 Hijriah sebentar lagi.
Diperkirakan awal Ramadan pada 18 atau 19 Februari 2026.
Umat Muslim seluruh dunia kini siap-siap menyambut Ramadan termasuk di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Meskipun Islam agama minoritas di Tana Toraja dan Toraja Utara, namun warga beragama Islam tetap semangat dalam menjalani Ramadan.
Semangat ini tidak lepas dari akar sejarah panjang yang membentuk komunitas Muslim Toraja hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari adat setempat.
Masuknya Islam ke wilayah pegunungan Toraja tidak terjadi melalui ekspansi militer, melainkan lewat pendekatan kultural dan ekonomi.
Berdasarkan catatan sejarah, pengaruh Islam mulai menguat pada pertengahan abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1858.
Titik awal penyebaran ini diyakini berada di daerah Madandan, Kecamatan Rantetayo.
Seorang saudagar asal Sidrap bernama Si Dupa datang ke wilayah ini untuk berdagang sekaligus membawa misi dakwah.
Kehadirannya diterima dengan baik, bahkan ia menikah dengan seorang tokoh perempuan bangsawan setempat yang sangat berpengaruh dan berwibawa bernama Nenek Rangga.
Masuknya Nenek Rangga ke dalam agama Islam diikuti oleh banyak pengikutnya, yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Muslim di Tana Toraja.
Bukti fisik paling nyata dari sejarah ini adalah Masjid Jami Madandan, yang menyandang status sebagai masjid tertua di Tana Toraja.
Pembangunan masjid ini menjadi potret unik toleransi di Toraja, dimana proses konstruksinya dilakukan secara gotong royong oleh seluruh masyarakat, termasuk warga non Muslim.
Bahkan, dalam sejarah pembangunan masjid ini, pernah tercatat bahwa ketua panitia pembangunannya adalah seorang warga non Muslim.
Hingga saat ini, lokasi masjid yang berhadapan langsung dengan gereja menjadi simbol kerukunan yang tetap terjaga, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan.
Data terkini menunjukkan populasi Muslim di Toraja berkisar antara 4,45 persen hingga 12 % .
Meskipun jumlahnya kecil, identitas Muslim Toraja sangat kuat.
Mereka tetap menjalankan ritual adat yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti menghadiri upacara kematian (Rambu Solo') namun dengan penyesuaian pada aspek penyembelihan hewan yang harus halal.
Menjelang Ramadan 2026, persiapan di masjid-masjid bersejarah seperti di Madandan mulai terlihat.
Bagi warga setempat, Ramadan bukan sekadar ibadah kelompok minoritas, melainkan momentum mempererat silaturahmi antar keluarga yang berbeda keyakinan.(*)