Pemain Berjiwa Besar Itu Emil Audero, Kiper Timnas Indonesia
February 03, 2026 06:56 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero buka suara pasca-insiden petasan atau flare yang terjadi dalam pertandingan Cremonese vs Inter pada Senin (1/2/2026) WIB.

Satu sore di Styadio Giovanni Zini, Kremona tampak tidak bersahabat bagi Emil Audero, meskipun bermain di kandang dan di hadapan pendukung timnya, Cremonese.

Emil Audero terkena petasan yang dilemparkan oleh oknum suporter Inter di awal babak kedua.

Petasan yang dilemparkan oknum tersebut jatuh di dekat kakinya, meledak dengan keras, sehingga Emil terjatuh di lapangan.

Pertandingan pun dihentikan oleh wasit setelah insiden tersebut, dan tim medis bergerak cepat untuk memberikan penangan medis kepada Audero.

Setelah mendapat perawatan tim medis, Audero memilih untuk melanjutkan permainan. Sejatinya, laga tersebut bisa saja dihentikan jika Audero tidak terima dengan perlakuan tersebut. Namun sebuah keputusan berani diambil oleh pemain kelahiran NTT itu.

INSIDEN FLARE - Kiper Cremonese, Emil Audero terkena lemparan flare dari oknum suporter saat menghadapi Inter Milan pada giornata ke-23 Liga Italia, Senin (2/2/2026) dini hari WIB. Emil dikabarkan mengalami sedikit luka bakar, tetapi tetap bisa kembali melanjutkan pertandingan. (Foto Twitter @VidioSports).
INSIDEN FLARE - Kiper Cremonese, Emil Audero terkena lemparan flare dari oknum suporter saat menghadapi Inter Milan pada giornata ke-23 Liga Italia, Senin (2/2/2026) dini hari WIB. Emil dikabarkan mengalami sedikit luka bakar, tetapi tetap bisa kembali melanjutkan pertandingan. (Foto Twitter @VidioSports). (Twitter @VidioSports)

Emil kemudian buka suara pasca-insiden tersebut, semua hal yang terjadi di lapangan bahkan hingga sehari setelah pertandingan.

"Pertama-tama, saya merasa cukup baik. Setidaknya secara mental, karena jika mengingat kembali apa yang terjadi, saya menyadari konsekuensinya bisa jauh lebih serius," buka Audero, dikutip dari Gazzetta.

"Tapi semuanya sulit untuk dicerna. Di akhir pertandingan, setelah adrenalin mereda, lehar saya kaku. Sekarang bahkan lebih buruk karena telinga saya sakit dan punggung saya juga kaku."

"Saya akan menjalani tes dalam beberapa hari ke depan untuk melihat apakah ada masalah, tapi ya anggap saja bisa jadi lebih buruk," sambungnya.

Petasan yang jatuh dan meledak di kaki Audero terjadi pada menit ke-49. Tapi suporter sudah menyalakan bom asap dan petasan sebelum itu.

Seperti bukan suatu sore (waktu setempat) yang damai bagi Audero.

Baca juga: Bak Senjata Makan Tuan, 3 Jari Pelaku Lemparan Flare ke Emil Audero Putus Akibat Ledakan

"Sudah saat pemanasan. Tapi hal-hal seperti ini terjadi tanpa saya pikirkan sebelumnya. Biasanya itu hanya suar yang tidak meledak," bebernya.

Oleh karena itu, Audero tidak menghiraukan hal tersebut karena menurutnya adalah pemandangan yang biasa dalam pertandingan sepak bola.

Ia lebih memilih bersiap dan fokus untuk pertandingan.

Tapi apesnya, semua yang tampak terkendali olehnya menjadi sebuah insiden buruk.

"Selama pertandingan saya fokus, lalu saya menoleh dan melihat benda itu di tanah di dekat saya."

"Saya bukan ahli dan hanya kebetulan saya bergerak, mengikuti jalannya permainan dengan mata saya."

"Saya tetap menarik perhatian wasit, saya melangkah beberapa langkah dan kemudian terdengar ledakan yang sangat besar," ujarnya.

Suara ledakan itu cukup besar. Emil merasa seperti ada yang memukul telinganya dengan palu.

Bahkan akibat ledakan petasan tersebut, bagian celananya robek, luka di bagian kaki kanan, dan ada bagian tubuh yang merasakan sensasi terbakar dengan sangat kuat.

"Jika saya tidak bergerak, ini bisa berakhir sangat buruk," ungkapnya.

Kejadian itu adalah yang pertama dirasakan Audero sepanjang karier profesionalnya sebagai pesepak bola.

Ia pernah menjadi bagian dari Inter sejak pertengahan 2023 hingga musim panas 2024.

Emil kecewa dengan apa yang dilakukan oleh oknum suporter Inter terhadap dirinya dan pertandingan.

"Luka di lutut saya terasa sakit, tetapi masalahnya ada di dalam diri saya. Rasa kecewa yang mendalam dan kurangnya keinginan untuk bermain," katanya.

"Saya berada di lapangan melakukan pekerjaan yang sangat saya cintai. Tetapi sementara itu, pikiran saya melayang ke lokasi ledakan."

"Saya berpikir, mengapa saya berada di lapangan? Mengapa saya bermain? Kepala dan pikiran saya berputar-putar. Itu perasaan yang mengerikan," jelasnya.

Tapi bagaimana pun, Emil Audero menunjukkan hal terpenting dalam sebuah pertandingan, meskipun mengalami insiden yang bisa mengancam dirinya, ia memutuskan untuk tetap berada di lapangan dan melanjutkan permainan. Pemain berjiwa besar.

"Yang terpenting adalah adrenalin. Anda memahami situasinya, dan Anda tidak ingin itu berakhir seperti itu."

"Jauh di lubuk hati, saya tidak merasa ingin menyerah. Hukuman skorsing pertandingan karena insiden seperti itu tidak sesuai dengan saya."

"Saya tahu saya bisa melakukannya. Bahkan jika sesuatu terjadi setelahnya," tambahnya.

Setelah Insiden

BERSELEBRASI - Luapan emosi kiper Timnas Indonesia, Emil Audero Mulyadi, saat pertandingan Hellas Verona vs Cremonese pada giornata 4 Serie A Liga Italia 2025/2026 di Marcantonio Bentegodi Stadium, Selasa (16/9/2025).
BERSELEBRASI - Luapan emosi kiper Timnas Indonesia, Emil Audero Mulyadi, saat pertandingan Hellas Verona vs Cremonese pada giornata 4 Serie A Liga Italia 2025/2026 di Marcantonio Bentegodi Stadium, Selasa (16/9/2025). (Twitter @USCremonese)

Sikap Emil Audero yang memutuskan melanjutkan permainan dianggap dalam fair-play permainan yang luar biasa bagi presiden Inter Milan, Moratta.

Mereka punya kedekatan karena pernah menjalin kerjasama meski dalam waktu yang singkat.

Moratta tidak hanya memuji keputusan Emil, tetapi juga mengkhawatirkan kondisinya. Termasuk pemain Inter lainnya yang memberikan dukungan akibat insiden tersebut.

"Semua orang, mulai dari presiden, datang untuk menjenguk saya," ungkapnya.

"Mereka khawatir. Saya telah melalui banyak hal dalam karier saya. Saya adalah orang yang berdedikasi di lapangan, jadi saya ingin melanjutkannya (pertandingan)."

"Gagasan untuk berspekulasi tentang apa yang telah terjadi bukanlah bagian dari karakter saya," sambungnya.

"Antara Minggu malam dan Senin, mengetahui banyak orang yang peduli dengan kesehatan saya sangat baik bagi saya."

"Saya bukan tipe orang yang suka berperan sebagai korban, tetapi merasakan kedekatan seperti itu, solidaritas yang begitu dalam, memberi saya begitu banyak kekuatan," jelasnya.

Emil berharap, oknum suporter yang melakukan aksi tindakan tidak terpuji itu mendapat hukuman yang setimpal.

"Sepak bola tentang kesenangan, keterampilan, kualitas, komitmen, dan gairah." Ini adalah prinsip-prinsip yang ingin dan harus kita sampaikan."

"Fans adalah bagian fundamental dari sepak bola. Semangat dan dukungan mereka sangat penting."

"Terlepas dari apa yang terjadi, saya masih percaya pada sisi baiknya. Mereka yang melakukan hal-hal seperti itu pantas dihukum dengan berat," tutupnya.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.