Iran Setuju Bahas Nuklir dengan AS usai Diancam Trump, Pezeshkian Beri Syarat sebelum Negosiasi
February 03, 2026 08:17 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa ia telah memerintahkan dimulainya pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat (AS), Selasa (3/2/2026).

Perintah Masoud Pezeshkian ini setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan "hal-hal buruk" jika tidak tercapai kesepakatan.

Namun, Pezeshkian menyampaikan sejumlah syarat sebelum dimulainya negosiasi kesepakatan nuklir dengan AS.

“Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan syarat adanya lingkungan yang sesuai - yang bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal - untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata,” kata Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X, Selasa, sebagaimana dilansir Al Arabiya.

"Pembicaraan akan diadakan dalam kerangka kepentingan nasional kita,” lanjutnya.

Namun, apakah Iran dan AS dapat mencapai kesepakatan masih harus dilihat, terutama karena Trump kini telah memasukkan program nuklir Iran dalam daftar tuntutan dari Teheran dalam setiap pembicaraan.

Trump memerintahkan pengeboman tiga fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni 2025 lalu.

Ancaman Trump untuk Iran

AS mengirimkan kelompok kapal induk ke Timur Tengah menyusul respons mematikan otoritas Iran terhadap protes anti-pemerintah yang memuncak beberapa waktu lalu.

Trump mengatakan, dia tetap berharap AS akan "menyelesaikan sesuatu" dengan Iran, tetapi memperingatkan pada Senin (2/2/2026) bahwa "hal-hal buruk akan terjadi" jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Sementara itu, Iran bersikeras menginginkan diplomasi sambil bersumpah akan memberikan respons tanpa batas terhadap agresi apa pun.

Baca juga: Rusia Turun Tangan, Tawarkan Jalan Damai di Tengah Bara Konflik Iran VS AS

Iran berulang kali menekankan bahwa pembicaraan harus tetap fokus hanya pada masalah nuklir, menolak negosiasi tentang program rudal atau kemampuan pertahanan mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN yang disiarkan pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan nuklir dengan AS dapat dicapai.

"Jadi, saya melihat kemungkinan pembicaraan lain jika tim negosiasi AS mengikuti apa yang dikatakan Presiden Trump: untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata untuk memastikan bahwa tidak ada senjata nuklir," katanya.

"Jadi, jika demikian, saya yakin kita dapat mencapai kesepakatan," tambahnya.

Kata Penasihat Khamenei

Pada Senin malam, saluran satelit pan-Arab Al Mayadeen, yang secara politik bersekutu dengan kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, Hizbullah, menayangkan wawancara dengan Ali Shamkhani, penasihat utama Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di bidang keamanan.

Shamkhani, yang sekarang duduk di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara itu dan yang pada tahun 1980-an memimpin angkatan laut Iran, mengenakan seragam angkatan laut saat berbicara.

Ia menyarankan jika pembicaraan terjadi, awalnya akan bersifat tidak langsung, kemudian beralih ke pembicaraan langsung jika kesepakatan tampaknya dapat dicapai.

Pembicaraan langsung dengan AS telah lama menjadi isu politik yang sangat sensitif di dalam teokrasi Iran, dengan para reformis seperti Pezeshkian mendorongnya dan kelompok garis keras menolaknya.

"Pembicaraan tersebut akan sepenuhnya fokus pada isu-isu nuklir," katanya.

Baca juga: Iran Kirim Pesan Keras ke Trump: Klaim Siapkan Ribuan Makam untuk Tentara AS

IBU KOTA IRAN - Bendera Iran di ibu kota mereka, Teheran. Iran sempat diguncang gelombang demonstrasi atas krisis multisektor yang terjadi di negara tersebut, mendorong aparat pemerintah melakukan aksi represif yang berujung ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan dengan menyerang pemerintah Iran.
IBU KOTA IRAN - Bendera Iran di ibu kota mereka, Teheran. Iran sempat diguncang gelombang demonstrasi atas krisis multisektor yang terjadi di negara tersebut, mendorong aparat pemerintah melakukan aksi represif yang berujung ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan dengan menyerang pemerintah Iran. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Ketika ditanya apakah Rusia dapat mengambil uranium yang diperkaya milik Iran seperti yang dilakukan dalam kesepakatan nuklir Teheran tahun 2015 dengan kekuatan dunia, Shamkhani menolak gagasan tersebut.

Ia mengatakan bahwa "tidak ada alasan" untuk melakukannya.

Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, sebuah langkah teknis yang singkat dari tingkat kemurnian yang dibutuhkan untuk pembuatan senjata nuklir.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan bahwa Iran adalah satu-satunya negara di dunia yang memperkaya uranium hingga tingkat tersebut tanpa memiliki senjata nuklir.

Iran telah menolak permintaan dari IAEA untuk memeriksa lokasi-lokasi yang dibom dalam perang bulan Juni 2025.

“Jumlah uranium yang diperkaya masih belum diketahui, karena sebagian dari persediaan tersebut berada di bawah reruntuhan, dan belum ada inisiatif untuk mengekstraknya, karena sangat berbahaya,” kata Shamkhani.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.