Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat aktivitas belanja barang dari luar negeri atau impor sepanjang tahun 2025 mencapai 2,07 miliar dolar AS atau Rp 32,5 triliun.
Realisasi impor tersebut mengalami penurunan tipis sebesar 2,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 2,12 miliar dolar AS (Rp 33,2 triliun).
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung Muhammad Sabiel Adi Prakasa mengatakan, penurunan juga terlihat pada data bulanan di pengujung 2025, di mana impor pada Desember 2025 tercatat sebesar 162,51 juta dolar AS (Rp 2,5 triliun).
"Nilai impor pada Desember 2025 ini menunjukkan penurunan 14,35 persen secara year-on-year (yoy) dibanding Desember 2024," ujar Sabiel, Selasa (3/2/2026).
BPS mencatat, Nigeria menjadi negara pemasok terbesar barang ke Lampung dengan nilai 354 juta dolar AS atau Rp 5,5 triliun (17,12 persen).
Di posisi kedua ada Amerika Serikat dengan nilai impor sebesar 314,06 juta dolar AS atau Rp 4,9 triliun.
Kemudian disusul Australia di posisi ketiga dengan nilai 263,60 juta dolar AS atau Rp 4,1 triliun.
Menariknya, barang-barang yang didatangkan dari ketiga negara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
"Impor dari Nigeria didominasi oleh bahan bakar mineral, sementara Amerika Serikat banyak menyuplai peralatan kereta api, trem, dan bagiannya," kata Sabiel.
"Untuk Australia, komoditas utama yang dikirim ke Lampung adalah binatang hidup, seperti sapi ternak," jelasnya.
Secara keseluruhan, bahan bakar mineral memang menjadi komoditas impor paling dominan dengan porsi 40,23 persen atau senilai 832,07 juta dolar AS (Rp 13 triliun).
Selain bahan bakar, Lampung juga banyak mengimpor binatang hidup senilai 211,21 juta dolar AS (Rp 3,3 triliun) serta gula dan kembang gula senilai 204,36 juta dolar AS (Rp 3,2 triliun).
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)