TRIBUN-MEDAN.com - Istri eks Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026).
Kepergian Meriyati ke Sang Pencipta dibenarkan oleh eks Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.
"Ya, benar,” ucap Chryshnanda ketika dikonfirmasi.
Meriyati Hoegeng disebut meninggal dunia pada pukul 13.24 WIB karena sakit.
Almarhumah wafat pada usia 100 tahun.
Sementara itu, dari pantauan rumah duka di Pesona Khayangan, Kota Depok, masih terlihat sepi.
Hanya ada segelintir tamu yang berlalu lalang di ruang tamu.
Di depan pagar rumah, dipasang papan informasi terkait kabar duka Meriyati.
Sedangkan di sisi berseberangan, terlihat dua karangan bunga yang diletakkan berjejer dengan tulisan
"Turut berduka cita atas meninggalnya Ibu Meriyati Roeslani Hoegeng”. Tertulis, masing-masing karangan bunga dikirim dari Wadakonrbrimob Polri Irjen Pol Reza Arief Dewanto dan Dankorbrimob Polri Komjen Pol Ramdani Hidayat.
Anggota Polres Metro Depok tampak mulai mengamankan lokasi.
Terlihat mobil truk Brimob mengeluarkan sejumlah perlengkapan tenda yang dipasang di rumah duka.
Sosok Kapolri Hoegeng
Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921. Ayahnya, Soekardjo Kardjihatmodjo adalah ambtenaar, atau pegawai pemerintah Hindia Belanda.
Selepas lulus SMA, Hoegeng melanjutkan ke Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia.
Namun ia tidak merampungkan studinya karena Jepang menyerbu Hindia Belanda. Lantas, Ia kembali ke Pekalongan.
Setelah pulang ke Pekalongan ia mengikuti kursus polisi yang diselenggarakan Pemerintah Jepang.
Ketika Indonesia merdeka, kariernya sebagai polisi terus menanjak sampai diangkat menjadi Kapolri pada 1968.
Bagi Hoegeng, jabatan sebagai Kapolri adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Ia menginginkan institusi Polri bersih dan dicintai rakyat.
Polisi tidak boleh alergi terhadap kritik. Menurutnya keluhan masyarakat yang didasarkan pada fakta sangat diperlukan untuk melakukan perbaikan.
"Saya menginginkan polisi sungguh-sungguh menjadi pelindung masyarakat, hingga masyarakat mendapat kesan bahwa mereka dapat ditolong, sekurang-kurangnya dengan nasihat," ujar Hoegeng, dilansir Harian Kompas edisi 21 Januari 1971.
Selama menjabat Kapolri, ia dengan berani mengungkap beberapa kasus besar, seperti penyelundupan sejumlah mobil mewah dan penembakan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) oleh taruna Akabri.
Hoegeng juga berhasil mengungkap kasus pemerkosaan pedagang telur di Yogyakarta yang kemudian populer dengan nama kasus Sum Kuning.
Sikap jujur dan sederhana
Selama hidupnya, Hoegeng selalu menanamkan sikap jujur. Jabatan Kapolri di Era Orde Baru sama sekali tidak melunturkan prinsipnya.
Ia enggan menerima barang atau sesuatu yang bukan haknya.
Dalam Buku Hoegeng Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa (2009)terbitan Mizan, Aditya Soesanto menceritakan, sang ayah hanya menggunakan gaji dari kepolisian untuk menghidupi keluarga.
Hoegeng tidak mau menerima sesuatu yang bukan berasal dari gajinya sebagai polisi. Bahkan sang istri sampai membuka toko bunga di rumah untuk membantu keuangan keluarga.
"Memang kalau melihat anak-anak pejabat yang bisa apa saja dengan kekayaannya dan kekuasaanya, kadang kami juga iri. Kami juga ingin punya kendaraan bermotor atau mobil. Namun pikiran seperti itu bisa kami atasi dengan cara hidup kami yang sederhana dan tidak macam-macam," kata Aditya.
Aditya menuturkan, ketika Hoegeng menjabat Kapolri, pernah ada orang yang tiba-tiba membawa dua sepeda motor Lambretta ke rumah.
Sepeda motor tersebut diberikan oleh seorang pengusaha sebagai jatah bagi para pejabat negara.
Aditya senang karena keinginannya mempunyai sepeda motor terwujud. Namun, kesenangan itu sirna ketika Hoegeng pulang dari kantor.
Begitu mengetahui sepeda motor itu berasal dari seorang pengusaha, Hoegeng meminta ajudan untuk mengembalikannya. Sebab, ia merasa itu bukan haknya.
Meski menjabat Kapolri, ia juga sama sekali tidak pernah melakukan praktik nepotisme.
Ketika Aditya ingin mendaftar masuk AKABRI, Hoegeng melarangnya. Padahal, sangat mudah bagi Hoegeng untuk memasukkan anaknya itu.
Selain itu, Hoegeng melarang keluarganya ikut kunjungan kerja ke luar negeri. Sementara, banyak pejabat negara yang mengajak keluarga ke luar negeri saat kunjungan kerja.
Pada 14 Juli 2004, Indonesia kehilangan sosok polisi jujur dan sederhana, Jenderal Hoegeng Iman Santoso.
Mantan Kepala Kepolisian RI periode 1968-1971 itu mengembuskan napas terakhirnya pada usia 83 tahun akibat penyakit stroke.
Sebelum wafat, Hoegeng sempat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Dilansir Harian Kompas edisi 15 Juli 2004, kabar meninggalnya Hoegeng membuat banyak orang berduka.
Sejumlah petinggi Polri serta tokoh nasional melayat ke rumah duka di Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat.
Kala itu, banyak yang menyarankan agar Hoegeng dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, sebab ia dianggap telah banyak berjasa bagi negara.
Namun pihak keluarga menolak. Hoegeng pernah berwasiat agar dimakamkan di TPU Giritama, Desa Tonjong, Kecamatan Bojonggede, Bogor, bersama dengan rakyat biasa.
"Bapak menghendaki lokasi pemakaman di tempat itu, bukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata," kata Aditya Soesanto, putra kedua Hoegeng.
(*/tribun-medan.com)