Momen Warga Gaza Tolong Korban di Tengah Serangan Israel hingga Picu Kepanikan di Nuseirat
February 04, 2026 12:29 AM

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Suasana mencekam menyelimuti Kamp Pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza, Senin (2/2), ketika serangan Israel kembali menghantam kawasan padat penduduk tersebut.

Dentuman ledakan yang terdengar beruntun memicu kepanikan warga.

Dalam kondisi serba terbatas, masyarakat sipil bergegas mengevakuasi para korban, termasuk perempuan dan anak-anak, dari reruntuhan bangunan yang hancur.

Sejumlah saksi mata menuturkan, serangan terjadi secara tiba-tiba di tengah aktivitas warga yang mulai meningkat.

Nuseirat, salah satu kamp pengungsi terbesar di Gaza tengah, saat itu dipadati keluarga yang berharap situasi keamanan berangsur membaik.

Harapan tersebut muncul seiring dibukanya kembali Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir, sehingga memunculkan rencana kepulangan puluhan ribu warga Palestina ke wilayah tersebut.

Namun, serangan yang menyasar area permukiman itu justru mematahkan optimisme.

Kepulan asap tebal terlihat membumbung di udara, sementara teriakan minta tolong terdengar di antara puing-puing bangunan.

Warga yang selamat tampak menggotong korban dengan alat seadanya, menggunakan pintu, tandu darurat, hingga kain untuk membawa mereka ke fasilitas medis terdekat yang sudah kewalahan.

Tenaga medis di lapangan menyebutkan, banyak korban mengalami luka serius akibat serpihan bangunan dan gelombang ledakan.

Rumah sakit dan klinik darurat di Gaza tengah dilaporkan kekurangan obat-obatan, listrik, serta bahan bakar untuk mengoperasikan peralatan medis.

Kondisi ini memperburuk upaya penyelamatan, terutama bagi korban yang membutuhkan penanganan cepat.

Serangan di Nuseirat juga menambah panjang daftar penderitaan warga sipil Gaza di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah semula dipandang sebagai secercah harapan bagi distribusi bantuan kemanusiaan dan mobilitas warga.

Namun, eskalasi kekerasan membuat situasi keamanan tetap rapuh dan tidak menentu.

Di sisi lain, organisasi kemanusiaan internasional kembali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan.

Mereka menilai, serangan di wilayah padat penduduk berisiko menimbulkan korban jiwa yang lebih besar dan memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Bagi warga Nuseirat, momen evakuasi tersebut menjadi potret nyata ketahanan sekaligus keputusasaan.

Di tengah suara sirene dan ledakan yang masih menggaung, solidaritas warga menjadi satu-satunya sandaran untuk menyelamatkan nyawa, sembari menunggu kepastian kapan kekerasan ini akan berakhir.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.