Pandji Pragiwaksono Ngaku Tak Kapok dan Akan Show Sarat Kritik Lagi Meski Dipolisikan & Anak Dibully
February 04, 2026 01:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Komika Pandji Pragiwaksono sadar betul bahwa pertunjukan stand up comedynya bertajuk Mens Rea masih menjadi perbincangan publik.

Sebab materi yang dibawakan Pandji sarat kritik sosial dan politik.

Sehingga pertunjukan tersebut dianggap “bermain di tepi jurang”, sampai akhurnya berujung pada laporan polisi dari enam organisasi.

Baca juga: Langkah Tabayyun Pandji Pragiwaksono di MUI: Dialog, Tawa, dan Komitmen Jaga Perasaan Publik

Dampak polemik itu tak hanya dirasakan Pandji secara personal.

 Anak komika senior tersebut turut menjadi sasaran perundungan warganet.

Meski begitu, Pandji menegaskan tak sedikit pun berniat mundur atau kapok berkarya tampil stand up dengan materi sarat kritik.

“Kalau ditanya apakah akan ada show lagi? Pasti ada. Hanya judulnya saja yang berbeda,” ujar Pandji usai bertemu Majelis Ulama Indonesia (MUI) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).

Pandji memastikan materi stand up comedy-nya ke depan tetap akan mengangkat isu sosial politik, sesuai dengan keresahan yang ia rasakan sebagai bagian dari masyarakat.

Ia menegaskan, Mens Rea dibuat tanpa niat jahat.

“Enggak (kapok). Saya datang hanya dengan niat menghibur, bikin orang ketawa. Selama saya membuka ruang diskusi, tidak ada alasan untuk berhenti,” ucapnya.

Baca juga: Ketua MUI Cholil Nafis Kritik Busana Noel Mirip Pak Ustaz: Koruptor Jangan Berpakaian Simbol Agama

Pandji mengaku menerima banyak masukan dari berbagai pihak pasca polemik Mens Rea.

Ia melihat kritik tersebut sebagai pengingat bahwa karya harus terus berkembang dan semakin peka terhadap perasaan banyak orang.

“Sebagai orang yang berkarya, selalu ada ruang untuk jadi lebih baik. Karena saya ingin terus berkarya, maka karya itu juga harus mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang,” jelasnya.

Ia menegaskan, pertunjukan stand up comedy bukan dibuat untuk kepuasan pribadi, melainkan sebagai cerminan keresahan publik yang diwakili lewat humor.

“Apa yang ada di atas panggung adalah potret masyarakat yang menontonnya. Ketika tawa tercipta, berarti mereka mengerti dan menemukan lucunya,” pungkas Pandji. (Ari)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.