Bicara di Forum Global, Megawati: RI Didirikan Bukan untuk Satu Golongan, Melainkan Satu untuk Semua
February 04, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, ABU DHABI - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, mengatakan Presiden pertama Ir. Soekarno sebagai bapak bangsa, memegang sebuah prinsip yang dijadikan fondasi etik kepemimpinan nasional.

Prinsip tersebut adalah menekankan bahwa sejak awal pendiriannya, Indonesia bukan untuk kepentingan satu golongan, agama atau suku tertentu. Melainkan sebagai rumah bersama bagi seluruh rakyat. 

Pernyataan ini disampaikan Megawati saat menjadi pembicara utama dalam forum internasional, Human Fraternity Majlis, di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Selasa (3/2/2026).

Baca juga: Megawati Duduk Diapit Dua Sosok Peraih Nobel Saat Hadiri Forum Persaudaraan di UEA

“Indonesia bukan didirikan untuk satu golongan, satu agama, atau satu suku, melainkan satu untuk semua, semua untuk satu. Prinsip inilah yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kita," kata Megawati di hadapan tokoh-tokoh dunia berbagai negara. 

Putri dari proklamator Presiden pertama RI Ir. Soekarno ini turut menjelaskan kepada peserta forum yang hadir, bahwa bangsa Indonesia memiliki dasar falsafah Pancasila yang dirumuskan melalui proses panjang sebelum kemerdekaan. 

Nilai-nilai tersebut lahir dari pemikiran para pendiri bangsa, pejuang, serta rakyat Indonesia sendiri.

Inti sari dari Pancasila yakni semangat gotong royong yang memungkinkan bangsa Indonesia dengan keragaman latar belakang, mampu bersatu dan membangun negara secara setara.

“Pada intisarinya adalah semangat Gotong Royong. Gotong Royong itulah yang telah membuat bangsa Indonesia yang beragam-ragam latar belakangnya itu dapat bersatu dan membangun negara dengan perlakuan dan hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan bangsa kami," katanya.

Sebagai seorang perempuan, Megawati merasakan kebahagiaan hidup di negara yang menjunjung tinggi kesetaraan hak di hadapan hukum. Kalimat soal kesetaraan hak di depan hukum ini termaktub dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD 1945.

Prinsip ini berlaku tanpa membedakan latar belakang sosial maupun biologis.

“Sebagai seorang perempuan, saya sangat merasa bahagia sekali mendapatkan tempat di sebuah negara yang ketika sebelum merdeka bergumul untuk membuat sebuah dasar hukum, yang akhirnya sekarang telah terjadi di dalam salah satu undang-undang kami, yaitu adalah setiap warga negara mempunyai hak yang sama di mata hukum," ucap dia.

Lebih lanjut, Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) ini juga menyoroti kuatnya rasa persaudaraan antarwarga Indonesia, bahkan ketika saling bertemu di luar negeri. Menurutnya sudah terbentuk rasa di mana pertemuan antar WNI di luar negeri seolah bertemu saudara sendiri. 

“Bagi kami yang orang Indonesia adalah sebuah hal yang sangat unik, karena di mana pun kalau kita bertemu di luar negeri, itu rasanya seperti bertemu satu saudara sendiri," katanya.

Perasaan ini dianggapnya sebagai buah dari ajaran Trisakti milik Bung Karno yang menjadi pijakan perjuangan bangsa, dan Pancasila yang telah tumbuh di hati setiap warga negara Indonesia. 

Ajaran Trisakti itu ialah berdaulat di bidang politik, berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian yang berkebudayaan Indonesia.

“Dengan falsafah Pancasila yang bergotong royong dan ajaran Trisakti, bangsa kami memiliki semboyan juga 'Bhinneka Tunggal Ika', yang artinya meski kami berbeda-beda suku, agama, etnis, dan sebagainya, namun kami tetap memiliki satu tujuan yaitu yang disebut Indonesia Raya," pungkas Megawati.

Sebagai informasi Megawati duduk dalam satu panggung bersama pemimpin perempuan dunia lainnya, seperti Ibu Negara Libanon, Nehmat Aoun; Ibu Negara Pakistan, Aseefa Bhutto Zardari; Ibu Negara Kolombia, Veronica Alcocer Garcia; Kepala Administrasi Presiden Republik Uzbekistan, Saida Mirziyoyeva; dan Wakil Presiden Heydar Aliyev Foundation, Leyla Aliyeva. Mereka akan dimoderatori oleh Mina Al-Oraibi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.