Aktivitas Vulkanik Gunung Burni Telong Meningkat Pasca Gempa 4,1
February 04, 2026 12:54 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah

TribunGayo.com, REDELONG - Aktivitas bawah tanah Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah, mulai menunjukkan geliat yang menuntut kewaspadaan.

Pantauan TribunGayo.com, Rabu (4/2/2026), aktivitas masyarakan di Bener Meriah, masih berjalan seperti biasa, secara visual Gunung Burni Telong masih terlihat tenang dan status tetap Level II (Waspada).

Berdasarkan laporan terbaru dari Pos Pengamatan Gunungapi Burni Telong, tercatat adanya lonjakan signifikan pada tren gempa vulkanik dalam selama periode tanggal 2-3 Februari 2026. 

Baca juga: Bener Meriah Diguncang Gempa 4,1, Ini Status Gunung Burni Telong

Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan jumlah gempa vulkanik dalam (VA) meningkat dua kali lipat dalam semalam, dari 7 kali kejadian pada hari Senin menjadi 15 kali pada hari Selasa kemarin.

Kenaikan dua kali lipat ini menjadi indikator bahwa dinamika Magma di bawah permukaan sedang mengalami fluktuasi yang intens, meskipun secara visual Gunung Burni Telong tetap terlihat tenang.

Selain gempa vulkanik, aktivitas tektonik lokal dan jauh juga terpantau masih mewarnai catatan seismograf di sekitar wilayah Bener Meriah.

Baca juga: Gunung Burni Telong Bener Meriah Masih Bergeliat: 11 Gempa Vulkanik Terekam dalam Dua Hari

Kemarin, gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 4,1 mengguncang Bener Meriah pada Selasa subuh pukul 05:38 WIB. 

Gempa dangkal dengan kedalaman 10 Km tersebut berpusat di darat, sekitar 21 Km arah Utara Bener Meriah, dan sempat mengejutkan warga yang baru saja memulai aktivitas pagi. 

Namun, tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempat tersebut.

Warga Diimbau Tetap Tenang

Petugas Pos Pengamatan, Suwardi Putra, dalam keterangannya mengatakan bahwa, getaran tektonik tersebut tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap kenaikan drastis aktivitas vulkanik.

Mesti demikian, masyarakat tetap dilarang keras mendekati areal kawah aktif dalam radius aman 3 kilometer (Km).

Selain ancaman erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terdapat risiko fatal dari gas beracun di area lubang belerang atau fumarola, terutama saat cuaca mendung atau hujan karena gas cenderung mengendap di permukaan. 

Warga juga diimbau untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak jelas sumbernya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.