Kronologi Siswa SD di NTT Ditemukan Tewas di Kebun Cengkeh karena Tidak Mampu Beli Buku dan Pena
February 04, 2026 01:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Siswa SD di Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas di kebun cengkeh pada Kamis (29/1/2026) siang. 

Siswa SD tersebut berinisial YBR (10) seorang siswa kelas IV SDN Rutowaja.

YBR ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tubuh tergantung di sebuah pohon cengkeh yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek, Welumina Nenu.

Saat ditemukan, YBR masih mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Diduga YBR mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan juga pena.

YBS yang duduk di kelas IV SD, sempat meminta uang kepada sang ibu, MGT untuk membeli buku dan pena.

Baca juga: Rekam Jejak Brigjen Ade Simanjuntak Dirtipideksus Bareskrim Bongkar Kasus Saham Gorengan Pasar Modal

Namun, buku dan pena yang harganya tak sampai Rp10 ribu, urung dibeli lantaran MGT mengatakan tak punya uang.

MGT sendiri merupakan ibu tunggal yang menafkahi lima anaknya dengan bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Bahkan, untuk mengurangi beban sang ibu, korban sempat diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok. 

Tak jauh dari pondok itulah korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026).

Kronologi Kejadian

Peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seorang anak berusia 10 tahun dengan inisial YBR tewas dan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.

Sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen, sebagaimana dilaporkan Kompas.id pada Senin (2/2/2026).

Tapi, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Berdasarkan catatan Kompas.id, korban ditemukan tergantung menggunakan seutas tali pada dahan pohon cengkeh.  

Pohon tersebut berada di dekat sebuah pondok, tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek yang berusia 80-an tahun.

Yang memilukannya lagi, ditemukan surat yang ditinggalkan korban untuk sang ibu di sekitar lokasi kejadian.

Sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban itu telah dikonfirmasi oleh kepolisian setempat.

Tulis Pesan Untuk Ibu

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.  

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

"Surat untuk Mama

Baca juga: Sosok Piche Kota, Jebolan Indonesian Idol Terseret Kasus Asusila Bocah 16 Tahun, Diperiksa 6 Jam

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). 

Kertas Ti'i Mama Reti"
Mama galo Ze'e
Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee

MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit)

Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 

Baik sudah mama atau selamat tinggal mama," tulisnya.

Saksi Histeris

Berdasarkan keterangan saksi berinisial KD (59), kejadian tersebut pertama kali diketahui saat saksi hendak mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. 

Saat menuju pondok, saksi melihat korban sudah dalam keadaan tergantung di salah satu dahan pohon cengkeh. 

"Saksi kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan, hingga warga sekitar berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian," jelas Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort kepada TRIBUNFLORES.COM Jumat (30/1/2026).

Mendapatkan laporan itu, personel Polres Ngada yang dipimpin KBO Sat Intelkam Polres Ngada IPTU Thomas Aquino Mere segera mendatangi lokasi kejadian. 

Petugas melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), olah TKP, serta proses identifikasi oleh Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada.

Dari hasil olah TKP, korban ditemukan dalam kondisi leher terikat dua utas tali nilon berwarna hijau.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa tali nilon, pakaian korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang diduga ditulis oleh korban, berisi pesan perpisahan kepada ibunya.

Setelah proses identifikasi selesai, korban diturunkan dari ikatan tali dan selanjutnya dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan Visum et Repertum.

Sementara, Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort menyampaikan pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan keterangan para saksi serta berkoordinasi dengan pihak keluarga guna penanganan lebih lanjut.

Ipda Benediktus juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi psikologis anak, khususnya di lingkungan keluarga dan sekolah.

Ia meminta agar masyarakat segera melaporkan kepada pihak terkait apabila menemukan indikasi permasalahan yang memerlukan pendampingan.

“Atas peristiwa ini, Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” ujar Ipda Benediktus.

Sempat Mengeluh Pusing

Sementara, Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung dari YBR (10) menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu, YBR (10) mengeluh pusing.

YBR juga tidak mau berangkat ke sekolah. 

Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan. 

Sang ibu kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpati di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

Diketahui, YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. 

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. 

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga Yohanes hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. 

Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas.

Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya.

Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

Tinggal bersama Nenek

YBR anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. 

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi dan kayu bakar. 

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Menurut keterangan nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. 

Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih, saat temu di Sa’o, Selasa (3/02/2026).

Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga Yohanes hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. 

Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas.

Mensos Prihatin

Dilansir dari KompasTV, Menteri Sosial atau Mensos Saifullah Yusuf menanggapi terkait insiden tragis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu beli buku dan pena.

Saifullah merasa prihatin dan menyampaikan duka cita. Ia mengatakan kejadian tersebut harus menjadi atensi bersama, termasuk pemerintah pusat maupun daerah.

"Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah," katanya, Selasa (3/2/2026).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan data terhadap keluarga yang terbilang tidak mampu.

"Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," ucapnya, seperti dilaporkan Jurnalis KompasTV, Alfa.

Menurut Gus Ipul, penguatan data penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin.

Ia pun kembali menyampaikan peristiwa meninggalnya anak SD diduga bunuh diri di NTT tersebut harus menjadi perhatian bersama.

"Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan," ujarnya.

"Ya, jadi itu sampai disitu dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian bersama." 

Layanan Konseling Pencegahan Bunuh Diri 

Jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. 

Anda tidak sendiri. 

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. 

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: 

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

(Bangkapos.com/Kompas.com/TribunSumsel.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.